Inspirasi Tanpa Batas

Eduentrepreneur Langkah Penting Bagi Seorang Pendidik

Eduentrepreneur Langkah Penting Bagi Seorang Pendidik
0 71

Suatu siang enam bulan yang lalu, seseorang yang telah berumur 40 tahun, menghampiri saya. Penampilannya hari ini, kontras berbeda dibandingkan dengan 15 tahun lalu. Dulu dia terkesan sangat parlente. Sekarang, setelah menjadi ASN dan berada pada golongan IV-b, malah mendorongnya layu, kurang bergairah dan kadang menyembulkan pandang maya yang polos tanpa makna.

Dulu, dia pengelola Rumah Makan Padang di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Kuningan. Usahanya pasang surut. Ia mengatakan berat meneruskan usahahnya dan mencari jalan keluar dengan memilih berkarier sebagai ASN. Semua jenis usahanya, ditutup. ASN dianggap lebih menjanjikan secara finansial dibandingkan dengan mengelola rumah makan.

Saya ingatkan, menjadi PNS tidak mengharuskan berhenti usaha. Jalani dua-duanya. Jika tidak dapat dilakukan sendiri, lakukan oleh istri. Jika istri juga tidak sanggup, angkatlah orang yang layak dipercaya. Menjadi PNS, harus siap hidup pura-pura kaya, pura-pura hebat dan pura-pura perfek. Dalam kasus tertentu, anda harus mampu mengesankan diri sebagai seorang yang so kuasa.

Mental entrepreneur berbeda. Kita dituntut tulus dan apa adanya. Simple dan jauh dari hasyrat untuk berada dalam bayang-bayang. Di seluruh dunia, tidak ada entrepreneur yang petantang petenteng. Entrepreneur akan menggerakkan diri kita tumbuh menjadi manusia yang selalu dekat dengan Tuhan yang implementasinya adalah rukun hidup kemanusiaan. Salah satu alat ukurnya adalah jumlah doai??i??a yang dilantunkan pasti lebih banyak dibandingkan manusia biasa.

Dia tetap pada pendiriannya, menutup usahanya. Saya katakan, mental anda miskin. Yang bermental miskin, kemungkinan besar bakal sering kekurangan uang. Harusnya anda memiliki mental seperti pohon buah gincu. Pohon itu membutuhkan petani yang mampu bekerja keras, telaten dan tekun agar buahnya menghasilkan rasa yang banyak dan manis.

Rasa Sesal itu Ada

Ia menyesal dulu tidak menerima saran. Hari ini ia lelah menerima keadaan. Menurut anda, kata dia, apa sekarang terlambat jika harus kembali merintis dunia usaha.

Tentu tidak! Kecuali ajal menjemput anda, tapi rubah dulu paradigma hidup.Ai?? Selama ini anda dididik dalam kultur yang berjarak dengan mental pengusaha. Kultur peminta harus dirubah menjadi kultur pemberi. Kultur penanti harus dirubah menjadi kultur pencari. Kultur penikmat harus dirubah menjadi kultur pembuat. Enam bulan terakhir, ia mengikuti kami. Saya menggagas bersamanya suatu konsep eduentrepreneur. Saya bisikan, entrepreneur tidak selalu jualan benda.

Konsep, gagasan strategis pengembangan wilayah dan SDM yang berjangka pendek dan panjang misalnya, adalah peluang usaha. Masalahnya bagaimana user atau owner yang kita kunjungi, yakin akan gagasan tertulis dan terukur yang kita buat.

Kita sadar bahwa birokrat kita terlalu sibuk. Ai??Mereka akan lupa hal-hal strategis di akar rumput. Mari kita isi yang kosong dari perhatian dan pemikiran mereka. Kita tawarkan berbagai konsep A sampai dengan Z.

Ia tumbuh keberaniannya. Ia membuat gagasan yang banyak. Satu dari puluhan gagasan yang kami susun, diterima salah satu Kabupaten pinggiran Jawa Barat. Tiga bulan terakhir, kami menikmati perjalanan bersama ini. Tampaknya, dalam 25 tahun ke depan, gagasan ini baru kemungkinan lepas total dari kami.

Berapa nilai investasi rupiahnya? Nol Besar! Berapa hasil yang didapatkan selama 25 tahun ke depan? Biarlah kami yang tahu. Yang pasti, kawan yang satu ini, sudah tersenyum lepas dengan sejumlah harapan baru akan eksistensinya. Ia tidak lagi menanti giliran menjadi menjabat publik di institusinya, karena ia sadar bahwa dunia ini luas. Ia juga sadar bahwa ternyata, di luar sana, terlalu banyak rizki Tuhan yang halal untuk didapatkan, tetapi lupa untuk dikumpulkan dan dibagikan. Pro. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...