Home » Bisnis » Entreupreuner » Eduentrepreneur Solusi Krisis bagi ASN

Share This Post

Entreupreuner

Eduentrepreneur Solusi Krisis bagi ASN

Eduentrepreneur Solusi Krisis bagi ASN

Eduentrepreneur Solusi Krisis bagi ASN. Suatu siang di enam bulan yang lalu, saya kedatangan seseorang Aparatur Sipil Negara [ASN]. Umurnya kurang lebih 40 tahun datang menghampiri saya. Penampilannya berbeda dibandingkan 15 tahun lalu. Dulu dia parlente. Saat ini, tampilannya tak separlente dulu meski Golongannya sudah  IV-b. Jabatan fungsionalnya yang tinggi, malah telah mendorongnya layu, kurang bergairah dan kadang menyembulkan pandangnya yang kosong tanpa makna.

Sebelum menjadi seorang ASN, dia adalah pengelola Rumah Makan Padang di Jakarta, Bogor, Bekasi dan bahkan Kuningan. Usahanya pasang surut. Ia mengatakan berat meneruskan usahahnya dan mencari jalan keluar dengan memilih berkarier sebagai ASN. Semua jenis usahanya, ditutup. Menjadi ASN dianggap lebih menjanjikan secara finansial dibandingkan dengan mengelola rumah makan yang kadang pasang surut.

Dulu saya ingatkan, menjadi ASN tidak mengharuskan berhenti usaha. Jalani dua-duanya. Jika tidak dapat dilakukan sendiri, lakukan oleh istri. Jika istri juga tidak sanggup, angkatlah orang yang layak dipercaya. Menjadi ASN. Mengapa? Sebab jika hanya menjadi seorang ASN, anda harus siap hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura kaya, pura-pura hebat dan pura-pura gagah. Dalam kasus tertentu, anda harus mampu mengesankan diri sebagai seorang yang so kuasa.

Mental Entrepreneur dan Pegawai

Mental entrepreneur berbeda dengan pegawai. Menjadi ASN sebetapapun jabatannya tinggi, tetaplah pegawai. Di sana kita dituntut tulus dan apa adanya. Simple dan jauh dari hasyrat untuk berada dalam bayang-bayang. Di seluruh dunia, tidak ada entrepreneur yang petantang petenteng. Entrepreneur akan menggerakkan diri kita tumbuh menjadi manusia yang selalu dekat dengan Tuhan dan cenderung bersahaja. Salah satu alat ukurnya adalah jumlah do’a yang dilantunkan pasti lebih banyak entrepreneur dibandingkan manusia biasa.

Rekomendasi untuk anda !!   Remaja Harus Dibekali Keterampilan Entrepreneurship

Dia tetap pada pendiriannya, menutup usahanya waktu itu. Saya katakan, mental anda miskin. Yang bermental miskin, kemungkinan besar bakal sering kekurangan uang. Harusnya anda memiliki mental seperti pohon buah gincu. Pohon itu membutuhkan petani yang mampu bekerja keras, telaten dan tekun agar buahnya menghasilkan rasa yang banyak dan manis.

Celotehan saya 15 tahun yang lalu, ia sesali. Ia menyesal dulu tidak menerima saran. Hari ini ia lelah menerima keadaan. Menurut anda, kata dia, apa sekarang terlambat jika harus kembali merintis dunia usaha. Minimal meneruskan usaha yang pernah dirintis

Tentu tidak kata saya! Mental bisnis harus selalu anda hidupkan sampai ajal menjemput anda. Hanya mungkin, anda harus merubah dulu paradigma hidup.  Selama ini anda dididik dalam kultur yang berjarak dengan mental pengusaha. Kultur peminta harus dirubah menjadi kultur pemberi. Kultur penanti harus dirubah menjadi kultur pencari. Kultur penikmat harus dirubah menjadi kultur pembuat.

Profesi Tambahan

Enam bulan terakhir, ia mengikuti kami. Saya menggagas bersamanya suatu konsep eduentrepreneur. Saya bisikan, entrepreneur tidak selalu jualan benda. Konsep, gagasan strategi pengembangan wilayah dan SDM yang berjangka pendek dan panjang misalnya, adalah peluang usaha. Masalahnya bagaimana user atau owner yang kita kunjungi, yakin akan gagasan tertulis dan terukur yang kita buat.

Rekomendasi untuk anda !!   Kecerdasan Emosi Penting Untuk Entrepreneur

Kita sadar bahwa birokrat kita terlalu sibuk.  Mereka akan lupa hal-hal strategis di akar rumput. Mari kita isi yang kosong dari perhatian dan pemikiran mereka. Kita tawarkan berbagai konsep dari A sampai dengan Z.

Lama saya dapat menumbuhkan keberaniannya. Sampai kemudian dia membuat gagasan yang banyak. Satu dari puluhan gagasan yang kami susun, diterima salah satu Kabupaten pinggiran Jawa Barat. Tiga bulan terakhir, kami menikmati perjalanan bersama ini. Tampaknya, dalam 25 tahun ke depan, gagasan ini baru kemungkinan lepas total dari kami.

Berapa nilai investasi rupiahnya? Nol Besar! Berapa hasil yang didapatkan selama 25 tahun ke depan? Biarlah kami yang tahu. Yang pasti, kawan yang satu ini, sudah tersenyum lepas dengan sejumlah harapan baru akan eksistensinya. Harapan itulah kata kuncinya. Yang maju karena harapannya. Sama dengan yang mundur karena kehilangan harapannya.

Yang pasti, saat ini dia tidak lagi memiliki mental menanti giliran menjadi pejabat publik di institusinya. Ia mulai sadar bahwa dunia ini luas. Ia juga sadar bahwa ternyata, di luar sana, terlalu banyak rizki Tuhan yang halal untuk didapatkan, tetapi lupa untuk dikumpulkan dan dibagikan. By. Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>