Efektivitas Pembelajaran

0 56

Kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga keefektifan. Secara definitif efektivitas memiliki kesamaan makna sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya (Etzioni,1964:19). Efektivitas dimaksud sesunguhnya adalah suatu konsep yang lebih luas dan mencakup berbagai faktor dalam diri seseorang. Meskipun begitu, efektivitas dimaksud pula tidak hanya dapat dilihat dari sisi produktivitasnya, tetapi juga bisa dilihat dari sisi persepsi atau sikap subjeknya. Di samping itu, efektivitas juga dapat dilihat dari bagaimana tingkat kepuasan yang dicapai oleh orang (Robbins, 1997:51).

Pentingnya Efektivitas

Dengan demikian, konsep efektivitas ini dirasa sangat penting, karena ia mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan seseorang dalam mencapai sasarannya atau suatu tingkatan terhadap mana tujuan- tujuan yang ingin dicapai (Prokopenko, 1987:13), atau tingkat pencapaian tujuan (Hoy dan Miskel, 1992:28). Sementara itu belajar dapat pula dikatakan sebagai komunikasi terencana yang menghasilkan perubahan, baik dari aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hal ini berkaitan dengan hubungan dan sasaran khusus serta pola berperilaku yang diperlukan individu untuk mewujudkannya (Bramley, 1996:17). Maka, efektivitas belajar merupakan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Termasuk didalamnya, pembelajaran seni. Pencapaian tujuan tersebut adalah berupa pencapaian dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap yang didapat melalui proses pembelajaran.

Dengan pemahaman tadi, maka aspek- aspek efektivitas belajar adalah sebagai berikut: (1) peningkatan pengetahuan, (2) peningkatan ketrampilan, (3) perubahan sikap, (4) perilaku , (5) kemampuan adaptasi, (6) peningkatan integrasi, (7) peningkatan partisipasi, dan (8) peningkatan interaksi kultural. Hal ini dirasa penting agara mampu dimaknai bahwa keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik mampu ditentukan oleh efektivitas dalam upaya pencapaian kompetensi belajar.

Empat Pilar Pendidikan

Kaitan dengan itu, UNESCO (1996) menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan yang mesti diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh para pengelola dunia pendidikan, yaitu:

  1. Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know)
  2. Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do)
  3. Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together)
  4. Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).

Untuk merealisasikan konsep learning to know, maka guru berfungsi sebagai fasilitator. Ia dituntut mampu berperan sebagai teman sejawat dalam berdiskusi dan berdialog dengan peserta didik dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuannya. Makna Learning to do akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi peserta didik untuk mengaktualisasikan segala keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat dimaksud dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (aptitude test). Meskipun bakat dan minat peserta didik banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh kembangnya tergantung akan dipengaruhi oleh lingkungannya.

Keterampilan dan Keberhasilan Hidup

Pada kenyataannya, keterampilan bisa digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan ilmu pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk itu, pembinaan terhadap keterampilan peserta didik ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan. Salah satu fungsi lembaga pendidikan adalah tempat bersosialisasi dalam tatanan kehidupan. Artinya proses ini adalah mempersiapkan peserta didik agar dapat hidup bermasyarakat dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Situasi bermasyarakat inilah yang hendaknya dikondisikan di lingkungan pendidikan dan pembelajaran. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, sikap terbuka, saling memberi dan menerima, perlu ditumbuh kembangkan diantara sesame peserta didik.

Kondisi seperti inilah nantinya yang akan memungkinkan adanya proses “learning to live together”. Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) sangat erat kaitannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik, kondisi kejiwaan, tipologi pribadi peserta didik serta kondisi lingkungan pendidikan. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri ini akan mampu berjalan jika ia diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi dengan segala kreatifitasnya. Sebaliknya, bagi anak yang pasif guru berperan sebagai pengarah sekaligus fasilitator. Hal ini tentu sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri peserta didik secara maksimal. Kemampuan diri yang terbentuk di lingkungan pendidikan secara maksimal akan memungkinkan setiap anak mengembangkan dirinya pada tingkat yang lebih tinggi dan lebih luas. Oleh: H. fatoni

Bahan Bacaan:

Abdulah Nata, 2001, Paradigma Pendidikan Islam: Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Grasindo

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar- dasar Evaluasi Pendidikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Atmodiwiro, Soebagyo. 2003. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Ardadizya Jaya. Bennis Warren dan Townsend Robert, Reinveting Leadership, Inter Aksara, Batam, 1998.

Hamdani. 2011. Dasar- dasar Kependidikan. CV Pustaka Setia. Bandung.

Makmun Abin Syamsudin, Perencanaan Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.