Egaliter Al-Qur’an versus Golongan | Dakwah dan Kecenderungan Masyarakat

2 35

Egaliter Al-Qur’an versus Golongan: Dakwah dan Kecenderungan Masyarakat. Telah lama ummat Islam khususnya mendambakan terciptanya ukhuah secara egaliter yang haqiqi dan abadi, sebab tanpa ukhuwah yang mampu melahirkan solidaritas sosial dan ekonomi, pembumian ajaran Islam akan tetap berada dalam dunia awang-awang. Ukhuwah sejati hanyalah mungkin jika ummat ini mau menjadikan iman sebagai pilihan yang sadar dan kritis.

Al-Qur’an memberikan otonomi kepada manusia untuk beriman atau kufur. Tetapi memberikan tekanan dan dorongan moral yang kuat agar manusia sebaiknya beriman. Hal ini seperti ditegaskan dalam QS. Al-Kahfi: 29:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

Dari pilihan  iman inilah yang nantinya akan mampu membangun persaudaraan yang bersifat egaliter yang tidak disarkan kepada identitas yang sesaat, baik dalam masalah mikro maupun masalah makro. Nilai ukhuwah tersebut merupakan nilai yang sangat strategis untuk mencapai tujuan Islam  sebagai mana layaknya tujuan kemanusiaan yaitu tercapainya suatu dunia yang manusiawi yang didasarkan pada moral dan wahyu yang mampu diuji dengan pengalaman empiris yanitu dengan tegaknya prinsip-prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan dan toleransi.

Namun sangat disayangkan prinsip-prinsip suci ini sering hilang dari peredaran kehidupan. Sehingga kehidupan ini laksana berwajah topeng yang tidak pernah mencerminkan keceriaan dan kesentosaan. Hal ini disebabkan karena sosialisasi kita bukan didasarkan pada ajaran suci, melainkan hanya didasarkan pada etika golongan, suku dan lain-lain yang sarat dengan tendensi individualnya.

Etik golongan inilah yang merupakan pangkal kehancuran masyarakat karena mereka tercabik-cabik oleh kepentingan individu tertentu. Dari sini maka upaya ishlah perlu untuk digalakkan untuk mengubah haluan solidaritas yang didasarkan atas golongan dan sektarian menuju kepada egaliterian qur’any dan manusiawi.

Dakwah dan Kecenderungan Masyarakat

Kerja dakwah laksana menggarami kehidupan ummat dengan imân, Islâm dan taqwa, agar ummat ini dapat merasakan kelezatan hidup. Kerja ini tidak akan pernah rampung sepanjang dunia masih eksis. Sehingga upaya tersebut diabadikan oleh al-Qur’an sebagai upaya yang paling baik di sepanjang zaman sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Fusshilat: 33:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

Komunitas muslim adalah komunitas yang ditegakkan atas, imân, Islâm dan taqwa yang sejati yang dipahami secara utuh dan benar. Ia tidak bersifat eksklusif, karena ia sebagai komunitas teladan ditengah arus yang penuh dinamika dan tantangan.

Oleh: Ahmad Munir

  1. Dwi Arti Citra Sari berkata

    Nama : Dwi Arti Citra Sari
    Nim : 1415104030
    Kelas : Tips A/3

    Dengan adanya artikel ini membuat kita untuk lebih mengerti arti dari keteladanan dan harus lebih menekankan imtaq dan menekan kn moral dan prilaku untuk kehidupan sehari-hari..

  2. Anan Abdul Hanan berkata

    Hati-hati tidak semua muslim bisa jadi teladan . yang jelas teladan bagi seluruh umat muslim adalah Nabi Muhammad S A W ..

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.