Eksistensi dan Fungsi Kekayaan | Pandangan al-Qur’an

1 85

Didalam bahasa Arab, kekayaan diterjemahkan dengan kata  al-Mâl. Di dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang 86 kali. Jumlah penyebutan ini mengindikasikan bahwa hal ini memiliki peran penting dalam interaksi kehidupan manusia.  Perhatian al-Qur’an terhadap kekayaan,   seimbang dengan perhatiannya terhadap kepercayaan (‘aqîdah). Pengingkaran terhadap naluri manusia untuk memperoleh, memiliki, dan memanfaatkan kekayaan,  sama halnya dengan mengingkari tabiat manusia itu sendiri. Tuhan telah memberi jaminan dan perlindungan naluri manusia dalam memperoleh, memiliki dan memanfaatkan kekayaan sekaligus mengecam orang yang mengingkari dan menghalangi naluri tersebut (Al-A’râf/7: 32). Naluri manusia terhadap kekayaan secara langsung berfungsi untuk mempertahankan kehidupan biologis (hayâtî ). Sedang yang tidak langsung berfungsi untuk menegakkan kebenaran sebagai konsekwensi amanah yang telah diemban setelah mempertahankan kehidupan biologis.

Kekayaan  merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup. Di dalamnya tercakup masalah kehidupan yang menjadi titik-tolak keberlangsungan dan kemaslahatannya, baik individu maupun kelompok.  Al-Qur’an menganalogikan hal ini sebagai perhiasan kehidupan (al-kahfi/18: 46). Orang yang berupaya  mendapatkan kekayaan, seyogyanya memperhatikan aturan al-Qur’an agar tidak menimbulkan instabilitas, baik bagi yang bersangkutan maupun orang lain serta kecemburuan karena kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok papa. Kesenjangan hidup yang disebabkan oleh faktor kemiskinan,  menjadikan nasib orang miskin tergadaikan pada orang kaya.  Konsep dasar Islam yang fundamental  secara makro  tidak hanya terbatas pada aspek kepercayaan  semata.  Keimanan dan keyakinan tidak hanya  menyangkut kepercayaan terhadap Tuhan saja, tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap manusia terhadap sesama manusia dan juga alam raya.

Teologi Kekayaan

Konsep teologi dalam Islam, tidak lepas dari membicarakan hubungan antara Tuhan dan alam semesta yang di dalamnya juga hubungan Tuhan dengan manusia, Tuhan dengan alam, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan benda, baik dari aspek cara pandang maupun sikap mendapat sorotan tajam dalam al-Qur’an, khususnya berkaitan dengan hubungan dengan kekayaan.

Dalam pandangan al-Qur’an, hubungan antara manusia dan alam dapat dipetakan menjadi tiga sisi. Sisi pertama,  alam semesta dan segala isinya milik Allah secara mutlak (al-Mâ’idah/5: 120). Kedua,  alam semesta dan seluruh yang ada di dalamnya pemberian Allah kepada manusia yang harus difungsikan untuk kepentingan manusia dan makhluk lain (Luqmân/31: 20). Ketiga,  manusia sebagai khalifah Allah, berhak mengurus dan memanfaatkan milik mutlak Allah dengan cara yang benar serta berhak memperoleh bagian dari hasil usahanya (al-Nisâ’: 32).

Dari pemetaan tersebut, dapat disederhanakan bahwa hubungan manusia dengan alam dan isinya dalam kontek pemilikan dan pemanfaatan adalah; (1) Segala yang ada di alam adalah milik Allah secara mutlak; (2) Manusia hanya diberi hak guna  sebagai pengelola dalam batas-batas tertentu oleh Allah,  bukan hak kepemilikan secara mutlak; (3) Hak yang diberikan oleh Allah tersebut diimbali dengan kewajiban manusia mewujudkan kebaikan dan kemakmuran bersama; (4) Sebagai pengelola, dalam pengelolaan dan pemanfaatan milik mutlak Allah, manusia harus menyesuaikan kebijaksanaan dengan kehendak penguasa-Nya. Dengan demikian, kekayaan yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah hak mutlak bagi Allah (al-An’âm/6: 165). Akan tetapi, kepemilikan manusia terhadap kekayaan dibutuhkan kepastian aturan yang dapat memberi perlindungan dan jaminan  dalam  masyarakat. Hak milik seseorang diakui dan diberi perlindungan dengan dua pengertian. Pertama, hak milik harus diperoleh secara halal dan legal, dan kedua, hak milik harus berfungsi dan bernilai sosial. Pemilikan harta merupakan titipan dan amanat yang harus ditunaikan manusia sesuai dengan pesan dan titipan pemberinya. Manusia bukan berarti tidak memiliki hak untuk memfungsikan hal ini dalam hal-hal yang positif. Tindakan manusia terhadap kekayaan secara positif mendapat pujian dan balasan pahala dari Allah (al-Hadîd/57: 11).

Dinamisasi kekhalifahan manusia, didorong oleh dua keinginan dasar (gharîzah), yaitu keinginan untuk mengembangkan keturunan (al-tanassul), dan keinginan untuk memiliki dan mendapatkan kepuasan. Keinginan yang pertama untuk menjaga keberlangsungan jenis dan keturunan, sedangkan keinginan yang kedua untuk menjaga keberlangsungan hidup, baik individu maupun kelompok. Keinginan yang pertama mendorong manusia untuk menyambung hubungan dengan lain jenis,  sedangkan keinginan kedua mendorong manusia berupaya untuk mencari, mendapatkan, mengembangkan, dan menyimpan kekayaan (Alu ‘Imrân/3: 14).

Keinginan manusia untuk memiliki kekayaan, merupakan naluri dasar yang lahir bersama manusia. Keinginan tersebut menjadi dasar kreativitas dalam kehidupan. Al-Qur’an tidak bersikap dipresif dan represif terhadap naluri manusia untuk memiliki kekayaan. Al-Qur’an hanya menempatkan naluri tersebut sesuai dengan ketentuan dengan menjelaskan cara memiliki yang benar dan cara memanfaatkan yang lazim (al-Fajr/89: 19-20). Kekayaan yang merupakan hak milik Allah secara mutlak, di dalamnya terdapat nilai sosial yang harus dijaga keberlangsungannya untuk kemaslahatan makhluk. Al-Qur’an memandang bahwa hal ini dilihat dari aspek perolehan, pemilikan serta pemanfaatannya, tidak lepas dari hubungan fundamenal (teologi)  antara manusia dan Tuhannya. Hubungan fundamental tersebut didasarkan pada sikap etis manusia dalam berinteraksi dengan kekayaan, mulai dari cara perolehan, pemilikan, dan pemanfaatan kekayaan.

  1. AFINAH NGIZATIN berkata

    Dari kesimpulan yang saya baca yaitu: kekayaan merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup di dalam nya tercangkup kehidupan dan kemaslahatn baik indivindu maupun kelompok. Itu semua sebagai perhiasan hidup di dunia.
    bahwasanya semua kekayaan adalah hak mutlak milik allah dan segala yang ada di alam juga semuanya hak mutlak milik allah, manusia hanyalah hak sebagai guna dan pengelolah dalam batasan-batasan tertentu oleh allah. Hak yang diberikan oleh allah kepada manusia tersebut diimbangi dengan kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada semua manusia
    pelajaran yang bisa saya ambil dari di atas yaitu: sekaya apa pun kita, sehebat apapun kita itu semua mutlak milik allah, kita di kasih kekayaan itu hanyalah titip pan dari allah, sepinter apapun kita itu adalah semua tak lepas dari gengaman allah, maka dari itu kita sebagai manusia tidak boleh sombong atas semua yang kita milik karena itu semua hanyalah milik allah.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.