Eksistensialisme “Rikmadenda Mencari Tuhan”

0 11

Eksistensialime “Rikmadenda Mencari Tuhan”KISAH “Rikmadenda Mencari Tuhan” merupakan gubahan sastrawan Ajip Rosidi berdasarkan lakon wayang “carangan” (karangan, buatan) dari dalang asal Indramayu Abyor. Cerita yang berjalan di luar nalar dan bersifat individual. Secara sadar atau tidak,  cerita ini masuk dalam wilayah eksistensialisme. A doctrin, more recent than surrealism, popularly understood to be that life is pusposseless and man petty and niserable. Sebuah doktrin yang lebih baru daripada surealisme, yang populer dipahami bahwa hidup ini tanpa tujuan dan manusia kecil serta miskin.(Chambers, Familly Dictionary,1990).  Pandangan yang hampir sama dimuat dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Peter Salim, 1991). Filsafat mengemukakan, bahwa kemyataan terdiri dari kehidupan dan manusia menjadikan dirinya sesuai dengan kehendaknya dan hanya bertanggungjawab pada dirinya sendiri  atas apa yang ia lakukan.   

Meskipun mereka berposisi sebagai antirationalis, sebagian eksistensialis tidak dapat dikatakan irrationalis dalam arti menyangkal semua validitas untuk pemikiran rasional. Mereka telah menyatakan, bahwa kejelasan rasional diinginkan sedapat mungkin, tapi itu pertanyaan yang paling penting dalam hidup tidak dapat diakses untuk alasan atau ilmu. Selain itu, mereka berpendapat, bahwa ilmu ini tidak rasional seperti yang biasa seharusnya. Nietzsche, misalnya, menegaskan bahwa asumsi ilmiah alam semesta yang teratur adalah untuk sebagian besar fiksi yang berguna. (Hubert L. Dreyfus, Encarta Refference Library,  2003).

Jauh sebeleum itu novel Rikmadenda Mencari Tuhan ditulis Ajip Rosidi dan diterbitkan pada tahun 1991. Rikmadenda merupakan lakon carangan (karangan dalang) atas interpretasinya terhadap persoalan religiusitas, politik, maupun sosial yang ada dalam sistem sosial maupun sistem negara. Wayang kulit menjadi media untuk mengungkapkan itu, yang tentu saja melalui sastra lisan. Sastrawan Ajip Rosidi menuliskannya dalam karya sastra novel berbahasa Indonesia (Kasim,  2015).

Lakon carangan Dalang Abyor merupakan refleksi dari pandangan hidupnya dalam ranah kemasyarakatan dan keagamaan. Pemaknaan ketuhanan seperti yang disampaikan dalang Abyor merupakan bukti betapa seorang dalang wayang kulit mampu memberikan pencerahan kepada penontonnya. Ia tidak harus merubah diri menjadi seorang pendakwah berjubah dengan udeng-udeng di kepala dan ayat-ayat Alquran. Seorang dalang wayang kulit pun, dengan busana tradisional Cerbon- Dermayu, dan logika lakon wayang kulit, ternyata bisa melakukan persentuhan dengan sisi- sisi keagamaan yang humanis. Penonton seakan- akan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan kontemplasi mendalam akan hidup dan kehidupan secara estetik melalui lakon tersebut (ibid).

Awal Kisah Rikmadenda

Kisahnya dimulai dari Kahyangan Salaka, yaitu Jonggring Salaka, gempar lantaran hawa panas yang bukan kepalang. Uap tersebut naik dari Kawah Candradimuka. Para dewa, batara, jawata, sanghiyang, bidadari, apsari, dan waranggana mengeluhkan hal itu.

Suatu pagi, Batara Guru (Sanghyang Jagatnata, atau Sanghyang Girinata, atau Sanghyang  Gurunata, atau Batara Siwa, atau Hyang Otipati, atau Sanghyang Jagatpratingka, atau Hyang Pramesti) akan melakukan sidang kedewataan. Ia menuju Made Mercukunda diringi para bidadari. Ia memberi tahu ihwal awan panas itu kepada Batara Narada, kebayaning dewa.

Menurut Batara Guru, jagat yang makin panas itu karena ulah seesorang. Seseorang itu, sekarang sedang menuju ke kadewatan (kedewataan) untuk menghadap Batara Guru, padahal tanpa perkenan Batara Guru.  “Orang itu luar biasa. Keinginannya luar biasa pula,” kata Hyang Pramesti. “Dia ingin mengetahui apa yang tidak boleh diketahui. Dia ingin tahu apa yang sesungguhnya tak boleh dia ketahui. Maka akibat keberaniannya itu, Kadewatan menjadi gempar lantaran hawa panas yang luar biasa. Karena itu dia harus disuruh kembali ke bumi. Dia tidak boleh naik kesini.” (hal. 4-5).

Diperintahkan agar orang tersebut segera diusir untuk kembali ke bumi. Segera Narada menuju Made Asmarakata, tempat para dewa, batara, jawata, sanghyang dan lain- lain berkumpul menanti titah Batara Guru. Para dewata sepakat untuk mengusir manusia tersebut, karena manusia tidak boleh ke kadewatan tanpa perkenan Batara Guru.

Rombongan para dewata itu akhirnya bertemu dengan manusia tersebut, yang tampak pakainnya lusuh dan sobek-sobek. Tubuhnya jangkung, gagah perkasa, bersikap ajrih dan takzim menandakan bukan orang sembarang dan mengenal sopan santun. Ia bernama Rikmadenda, putra mahkota negeri Girimustaka.

Ilmu Ketuhanan; Ilmu Sejati

Kata Rikmadenda, ia ditugaskan ayahnya, Prabu Mustakaluhur agar menghadap Batara Guru. Tugasnya adalah menghaturkan sembah dan minta petunjuk kepada Batara Guru. Batara Narada menyela, bahwa minta petunjuk itu cukup dilakukan di bumi saja. Tidak perlu ke kahyangan.

Rikmadenda beralasan, minta petunjuk “ilmu ketuhanan” kepada Batara Guru. Ilmu itu adalah ilmu sejati, ilmu yang membuat orang mengenal kebahagiaan. Ilmu itu harus dimiliki dirinya, karena kelak jika sepeninggal ayahnya, ia akan menggantikan kedudukan ayahnya. Menjadi raja harus memiliki “ilmu ketuhanan”, padahal ia belum memilikinya. Jadi, ia harus minta petunjuk secara langsung kepada Batara Guru.

Batara Narada menanyakan apa itu “ilmu ketuhanan”? Rikmadenda menjawab, ilmu tentang Tuhan Yang Maha Suci, yang disembah oleh manusia berbagai bangsa, berbagai suku, berbagai kaum, melalui berbagai agama. Tuhan Yang Maha Pencipta. Rikmadenda juga menjelaskan, ia perlu tahu di mana Tuhan itu, supaya mudah jika suatu waktu hendak menghadap kepadaNya. Begitu pula, bagaimana gerangan caranya supaya boleh menghadapNya?

Tuhan, kehidupan, individu, kebebasan dan pilihan memengaruhi banyak penulis yang beragam pada abad ke-19 dan ke-20. Soren Kierkegaard, yang merupakan penulis pertama yang menyebut dirinya eksistensial, bereaksi terhadap tradisi ini. Ia bersikeras menyatakan, bahwa kebaikan tertinggi bagi individu adalah untuk menemukannya panggilan unik sendiri. Saat ia menulis dalam jurnalnya, “Saya harus menemukan kebenaran yang benar bagi saya. . . ide yang saya dapat hidup atau mati”. Penulis eksistensialis lain telah menggema keyakinan Kierkegaard, bahwa seseorang harus memilih cara sendiri tanpa bantuan standar universal, objektif. Terhadap pandangan tradisional yang pilihan moral melibatkan penilaian yang objektif benar dan salah, eksistensialis berpendapat bahwa tidak ada tujuan, dasar rasional dapat ditemukan untuk keputusan moral. Abad ke-19 filsuf Jerman Friedrich Nietzsche lebih lanjut menyatakan bahwa individu harus memutuskan mana situasi yang menghitung situasi seperti moral (ibid, Encarta).

Rikmadenda Melawan

Cerita dilanjutkan dengan perdebatan yang berujung pada ketidakpuasan Rikmadenda. Bahkan ia juga melawan Batara Guru. “Fiffuah!” geramnya. “Kalau hanya sebegitu saja pengetahuannya, sama saja dengan pendeta-pendeta kebanyakan di marcapada, tak perlu di dunia ini ada Batara Guru! Ditanya tentang Tuhan, jawabnya berbelit- belit tak karuan: Bukan laki- laki, bukan wanita, bukan pula banci. Tidak di sana, tidak di sini, tidak berbentuk, tidak pula seperti apa pun juga karena tidak dapat diperumpamakan! Tidak jauh tidak dekat, tidak pula di tengah- tengah. (hal. 34).

Akhir dari perdebatan itu adalah pertarungan antara Rikmadenda dengan Batara Guru, yang ternyata dimenangkan Rikmadenda. Batara Guru lari. Rikmadenda mengejarnya. Ia memperkirakan Batara Guru lari kepada orangtuanya, Sang Hiang Tunggal. Ia pun pergi ke pertapaan Kahyangan Pitungwiung, tempat tinggal Sang Hyang Tunggal. Jika pun ia tidak berhasil menemukan Batara Guru, tentu ia bisa bertanya tentang ilmu ketuhanan kepada Sang Hiang Tunggal. (ibid, Kasim).

Filosofi eksistensialisme lokal tentang keberadaan Tuhan, secara sadar atau tidak ternyata sudah dipahami masyarakat lokal di Jalur Pantura Cirebon. Kisah lainnya yang memuat filosofi semacam adalah ”Semar Munggah Kaji.”***

Rujukan :

  • Chambers Familiy Dictionary, Colour Library Books,1990
  • Encarta Refference Library, Microsoft, 2003.
  • Kasim, Supali dkk, Sastra Lokal dan Warna Lokal Cerbon – Dermayu, (Disporabud Jabar, 2015).
  • Rosidi, Ajip Rikmadenda Mancari Tuhan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991 (edisi pertama).
  • Salim, Peter dan Yeni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta, 1991.

NURDIN M.NOER

Wartawan  senior, pemerhati kebudayaan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.