Inspirasi Tanpa Batas

Empat Model Pembelajaran yang Paling Efektif

0 73

Konten Sponsor

Empat Model Pembelajaran yang Paling Efektif. Seorang guru, dituntut memiliki kreativitas dalam menyampaikan pembelajarannya di dalam kelas. Guru masa kini, tentu sangat berbeda dengan guru masa lalu yang posisinya ditempatkan sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Hari ini, guru tidak lagi tunggal menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran. Guru dituntut aktif dan efektif melaksanakan pembelajaran. Tujuannya, agar tujuan pembelajaran [nasional dan institusional] dapat tercapai dengan baik.

Berikut penulis akan menggambarkan empat model pembelajaran yang menurut penulis sangat efektif jika digunakan seorang guru. Keempat model pembelajaran dimaksud adalah sebagai berikut:

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu model yang menggunakan masalah dari dunia nyata. Dunia empiris harus dipandang sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis. Keterlatihan pelajar untuk kritis akan membentuk dirinya menjadi terampil dalam pemecahan masalah. Ia juga akan untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

Pengajaran berbasis masalah  digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Pengajaran berbasis masalah, menurut Ibrahim dan Nur (2002) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teaching (Pembelajaran berbasis Project), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentic), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata).

Peranan guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Model Student Teams Achievement Division (STAD)

Model Student Teams Achievement (Tim Siswa Kelompok Prestasi) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan pembelajaran STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal manupun tertulis.

Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim masing- masing terdiri atas 4 atau 5 orang anggota kelompok yang bersifat heterogen (baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun potensi akademik/kemampuannya). Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.

Secara periosik. Dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan mereka (baik individual maupun kelompok) terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Setiap siswa atau tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi reinforcement.

Model Jigsaw (Model Tim Ahli)

Model Jigsaw dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan-kawannya dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Seperti halnya pada model STAD, pada model Jigsaw pun, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok/tim a 4-5 orang anggotanya yang bersifat heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa diberi tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian dari bahan akademik tersebut.

Para anggota dari berbagai kelompok/tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian bahan akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan tertsebut. Kelompok siswa yang dimaksud disebut ”kelompok pakar (expert group)”. Sesudah kelompok pakar berdiskusi dan menyelesaikan tugas, maka anggota dari kelompok pakar ini kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar (membuat mengerti) anggota lain dalam kelompok semula tersebut.

Model Group Investigation (GI)

Dasar-dasar metode group investigation (investigasi kelompok) dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya dikembangkan oleh oleh Sharan dan kawan-kawannya. Dibandingkan dengan model STAD dan Jigsaw, group investigation merupakan model pembelajaran yang lebih kompleks dan paling sulit dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif.

Pada model group investigation, sejak awal siswa dilibatkan mulai dari tahap perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Dalam pelaksanaanya, mempersyaratkan para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok.

Pengelompokan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil a 5-6 orang dapat bersifat heterogen dan dapat juga didasarkan pada kesenangan berteman atau kesamaan minat. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti/melakukan investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.

Tentu masih banyak model lain. Tetapi sejauh yang mampu saya alami, model-model inilah yang paling efektif jika digunakan untuk mengajar. By. Fitria Dewi –mahasiswa IPS

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar