Take a fresh look at your lifestyle.

Ciri Entrepreneur Sejati adalah Pembuat Pasar

0 35

Ciri Entrepreneur Sejati adalah Pembuat Pasar. Para entrepreneur selalu melakukan pendakian dari satu gunung ke gunung lain. Entrepreneur tidak akan pernah duduk atau tinggal dalam satu tepian. Ia juga tidak akan berhenti dalam satu puncak bukit atau puncak gunung sekalipun gunung itu sangat tinggi. Entrepreneur akan selalu bergerak ke arah yang lebih baik dan multi kompleks.

Mengapa bisa begitu? Karena entrepreneur menginginkan banyak wadah kehidupan untuk umat yang banyak. Tidak ada entrepreneur  yang hanya mengandalkan kekuatan bisnisnya pada satu bidang tertentu. Ia pasti memiliki bidang-bidang lain yang cukup beragam. Apakah dengan demikian, entrepreneur tidak akan menikmati hidup atau hasil usahanya? Tidak juga! Entrepreneur selalu akan menikmati proses dibandingkan dengan hasil yang dia capai.

Untuk memenuhi kebutuhan dari karakter seorang entrepreneur, kadang ia suka membuat sesuatu yang tidak populer dan sulit diterima akal sehat manusia biasa.Terhadap soal ini, saya diingatkan akan kisah Nabi Nuh (Hud [11]: 37) yang membuat sebuah perahu besar. Logika biasa akan mengatakan:  Bagaimana mungkin di tengah padang pasir yang demikian tandus, yang jangankan ada banjir, hujanpun sangat sulit terjadi, akan terjadi banjir.

Pikiran yang memojokan perbuatan Nuh itu wajar muncul, khususnya dari mereka yang memang secara habit bukan entrepreneur. Bagi mereka yang terbiasa duduk sebagai entrepreneur, akan memandang pikiran Nuh yang memiliki hipotesis kemungkinan banjir, dianggapnya pasti akan membutuhkan perahu besar.

Di dunia yang tandus tanpa hujanpun, Nuh membuat Perahu besar. Ia ingin menyelamatkan umat manusia agar dapat meneruskan kehidupannya di muka bumi.  Tentu jika banjir itu benar-benar datang. Itulah ciri bahwa Nuh adalah entrepreneur. Itu juga mengapa dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya menyebut bahwa para Nabi, shalihin dan salikin selalu memiliki jiwa entrepreneur. Termasuk Nabi Nuh dan bahkan Nabi terakhir, Nabi Muhammad.

Entrepreneur Hidup Seperti Piston

Bagi saya, kisah Nabi Nuh memberi modal dan bekal bahwa, menjalani hidup itu tidak selalu linier. Selalu tersedia ruang kemungkinan dan  ketidakpastian. Termasuk dalam soal yang kita anggap tidak mungkin. Entrepreneur akan sadar bahwa tidak setiap usahanya pasti berhasil. Selalu ada ruang untuk gagal yang karenanya butuh persiapan. Butuh mental dan butuh kesedian untuk menerima keadaan yang serba terbalik. Persiapan dimaksud, salah satunya adalah dengan membuat ruang-ruang baru, termasuk pada sesuatu yang dianggap tidak mungkin.

Entrepreneur selalu sadar bahwa, perjalanan yang dilewatinya itu begitu panjang. Karena ia melewati perjalanan yang panjang, maka, di sepanjang perjalanan itu, kita tidak selamanya melewati ruang terang. Bukan di suatu hari kita melewati sesuatu yang temaram. Inilah epik-epik theology bisnis yang membutuhkan ketangguhan. Ketangguhan itu, salah satunya terukur ketika seseorang mampu ke luar dari rantaian masalah yang dihadapi, sekaligus kemampuannya dalam menatap kebutuhan masa depan yang tidak terprediksi sekalipun.

Hidup akan dianggap seperti piston kendaraan. Presisi naik turunnya piston itu akan sangat cepat. Piston tidak selalu naik, tetapi, naiknya selalu beriingan dengan turunnya. Naik dan turun piston itu, dalam konteks hidup disebut dengan perubahan. Semakin cepat perubahan itu terjadi, maka, naik turunnyapun semakin cepat.

Selalu Mengambil Hikmah

Siklus itu pernah menimpa kami. Tahun 2004, sirkulasi keuangan konveksi begitu lancar. Produksi juga lancar. Suatu hari, kami mengirimkan kurang lebih 1.000 potong jaket ke Banda Aceh. Barang yang kami kirim telah diterima agency tanggal 24 Desember 2004 secara utuh.

Pihak Agensi mempersiapkan pelunasan pembayaran atas jaket yang diterimanya dari kami. Ia merencanakan transfer uang kepada kami, senin, 27 Desember 2004. Betapa kami bahagia. Sampai-sampai pada malam minggu, 23 Desember 2004, kami berbagi cerita indah hingga larut malam, meski hanya dalam ayunan suara telephon. Beberapa hari lagi kami akan membagi keuntungan bersama.

Malam itu, ternyata menjadi malam terakhir bagi dia untuk menikmati syurga dunia bersama kami. Minggu, 26 Desember 2004, semua mimpi itu karam diterjang ganasnya tragedi tsunami terhebat di dunia pada abad ke-21. Tsunami telah menenggelamkan kurang lebih 500 ribu manusia, tentu didalamnya karam juga uang perusahaan kami.

Apakah kami rugi? Jawabannya pasti! Tetapi, apakah kami harus putus asa dan menghentikan produksi pakaian karenanya? Jawabannya, tidak! Malah kami bersyukur, Tuhan memberi rahmat kepada kami, Tsunami itu tidak terjadi pada saat kami masih di Banda Aceh. Rasa syukur itu pula yang menyebabkan kami harus kembali bergerak dan kembali berbuat.

Bersyukur atas Seluruh Nikmat Tuhan

Rangkaian hidup semacam ini akan mengajarkan kepada  setiap entrepreneur akan pentingnya rasa syukur. Apapun yang diberikan Tuhan, akan menjadi jalan utama keberhasilan setiap usaha yang dilakukannya. Tanpa kemampuan mensyukuri segala nikmat itu, maka, usaha apapun dianggapnya pasti akan gagal, karena ia sering mengalami rasa putus asa.

Karena itu, jika ada pertanyaan siapa sesungguhnya yang paling tangguh dan paling pandai bersyukur terhadap segala nikmat Tuhan? Siapa yang memiliki kecerdasan spiritual lebih untuk menempatkan kata syukur sebagai obat? Jawabannya ternyata hanya ada pada satu kata, yakni mereka yang menjadi entrepreneur sejati.

Entrepreneur  bersyukur kepada Tuhannya dalam bentuk yang bukan hanya sekedar mengucapkan segala puji bagi Tuhan, tetapi, memanfaatkan dan menggunakan segala potensi yang diberikan Tuhan, untuk terus digunakan dalam melakukan perubahan dan pembenahan diri.

Karena itu, mengapa entrepreneur sejati selalu memiliki nilai lebih dalam konteks keberkahan rezeki? Salah satunya, karena mereka pandai bersyukur terhadap nikmat Tuhan. Ia menggapai janji Tuhan yang akan melipatgandakan kekayaannya karena kepandaian mereka dalam bersyukur kepada Tuhannya (Ibrahim [6]: 6). Itulah maknanya. Makanya, mengapa tidak mau menjadi Entrepreneur Sejati — Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar