Inspirasi Tanpa Batas

Entreupreuner adalah Kekasih Tuhan

0 22

Konten Sponsor

Entrepreneur adalah Kekasih Tuhan. Keberhasilan hidup seseorang akan diukur oleh seberapa sering dia menghadapi masalah. Mengapa? Karena hidup adalah pilihan. Pada setiap apapun yang dipilih, di situ pasti terdapat resiko. Tidak ada yang gratis dan tidak ada yang mudah. Semakin gratis semakin tidak bernilai.

Semakin seseorang sering bertemu dengan apa yang disebut dengan kesulitan, di situ ia pasti akan bertemu dengan ruang baru yang lebih dinamis dan lebih menjanjikan. Sebaliknya, semakin seseorang banyak mendapatkan sesuatu yang mudah dan gratis, maka, nilainya akan semakin lemah.

Dengan demikian, keberhasilan seseorang, sesungguhnya diukur oleh seberapa besar kemampuannya melakukan adaftasi dengan sesuatu yang disebut sulit. Mereka yang sering menemukan kesulitan, dan berusaha melewatinya dengan baik, maka, ia akan teruji jati diri dan eksistensinya sebagai manusia handal.

Manusia yang tidak rela hidup dalam ruang dinamis yang kompleks, maka, ia tidak pantas untuk diebut sebagai manusia yang utuh. Karena itu, ia tidak layak untuk mendapat predikat sebagai manusia yang bakal sukses. Kesulitan karena itu, dapat mendorong manusia untuk dapat lebih mampu berpikir kreatif dan adaftif terhadap segala dinamika yang ada. Mereka yang adaftif dan kreatif itulah, yang bakal mendapat kesuksesan dalam hidupnya.

Kehebatan diukur oleh Masalahnya

Tidak ada manusia yang terkenal, yang hebat dan yang dalam kacamata tertentu disebut berhasil tanpa pernah berhadapan dengan apa yang disebut sebagai kesulitan dan masalah didalamnya tentu saja. Mereka yang demikian, adalah kelompok manusia yang rela menunda keuntungan dan menunda kesenangan. Kesenangan dan keuntungan selalu ditunda untuk masa yang akan datang.

Mereka adalah seorang individu atau sekelompok manusia yang rela disebut rugi meski hanya sementara, untuk mendapatkan apa yang disebutnya keuntungan di masa depan. Inilah yang dalam bahasa al Qur’an disebut sebagai ciri mukmin yang selalu menempatkan hari akhir sebagai lebih baik dan lebih abadi. “Dan hari itu, pasti harus lebih baik dan lebih abadi”.

Kebalikan dari posisi manusia yang demikian adalah kelompok pragmatis. Suatu komunitas masyarakat yang meletakkan segala kesenengan untuk dinikmati pada hari ini, dan saat ini juga. Mereka tidak akan pernah menempatkan hari akhir, sebagai sesuatu yang penting dan menjanjikan.

Kelompok ini adalah mereka yang tidak rela menunda kesenangan dan kebahagiaan meski hanya sesaat. Kelompok kedua ini adalah mereka yang selalu menunda kerugian karena mereka selalu ingin menikmati apapun pada apa yang ada dihadapannya hari ini dan saat ini. Inilah yang dalam bahasa ilmu sosial disebut sebagai kelompok sosialita.

Dalam praktik sehari-hari, jenis manusia pertama sering disebut sebagai investor. Mereka selalu rela mengorbankan sesuatu untuk dipetiknya di masa depan. Ia memiliki ciri yang relatif sama dengan manusia mukmin yang selalu menunda kesenangan, kebahagiaan dan keuntungan untuk dipetiknya di masa yang akan datang.

Bercermin dari prolog tadi, maka, seorang investor sejatinya telah memiliki sebagian ciri seorang mukmin. Seorang investor adalah mereka yang rela sepatu, celana dan pakaiannya basah kuyup serta kotor oleh tanah dan debu, bermuka hitam terbakar matahari dan lusuh karena lelah untuk di kemudian hari mereka akan menggantinya dengan sepatu dan pakaian yang selalu bersih dan rapih dengan muka yang cerah. 

Mereka adalah sekelompok manusia yang selalu tersenyum di masa tuanya dan selalu mengenang perjalanan pahitnya di masa lalu sebagai sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar