Etika Berkarir Ilmu Dalam Pandangan Al-Quran

1 43

Etika Berkarir Ilmu Dalam Pandangan Al-Quran: Ketika Allah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimât, ia mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu Ibrahim diangkat sebagai imâm atas manusia. Ibrahim belum puas atas kepemimpinan itu, ia meminta agar anugrah tersebut juga dilimpahkan kepada keturunannya.

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. (QS. Al-Baqarah: 124)

Dalam pelimpahan anugrah kepada keturunannya, Ibrahim meminta tiga syarat yang harus dilalui yaitu melalui tilâwah, ta’lîm dan tazkiyah.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ  

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. (QS. Al-Baqarah: 129)

Tilâwat dalam ayat di atas berkaitan dengan sikap dan cara untuk melihat, membaca dan mendengar sesuatu yang berimplikasi pada sebuah nilai. Ta’lîm merupakan usaha untuk menyempurnakan sikap menuju insân kâmil yang pencapaiannya melalui studi al-kitâb dan  al-hikmah. Tazkiyah merupakan atsâr atau pengaruh dari tilâwah yang disempurnakan dengan ta’lîm. Cita- cita Ibrahim yang ideal ini dituangkan dalam do’anya yang diabadikan oleh ayat di atas.

Permohonan Ibrahim tersebut dikabulkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Jumu’ah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ  

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Ayat di atas sebagai jawaban Allah atas permohonan Ibrahim. Allah merubah redaksi jawaban-Nya yang sedikit berbeda dengan redaksi permohonan Ibrahim. Dalam permohonan Ibrahim ia mendahulukan ta’lîm atas tazkiyah yang secara empirik ia lebih mendahulukan kemampuan akal dari jiwa. Hal ini karena manusia yang pinter kalau tidak didasari dengan kematangan jiwa ia akan sombong dengan ilmunya. Oleh karena itu Allah merobah redaksi tersebut dengan didahulukan kata tazkiyah dari ta’lim, agar orang yang pintar itu lebih mengedepankan keteladannya dari pada logika dan fikirannya. Mengedepankan sikap bukan berarti mengedepankan kebodohan.

Untuk memperoleh pengetahuan, di samping mata, telinga dan pikiran sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu, al-Qur’an mengisyaratkan bahwa kesucian jiwa adalah salah satu kondisi yang tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini para ilmuan Muslim sangat menekankan pada proses tazkiyah al-Nafs dalam mencari ilmu.

Memang orang durhakapun juga dapat memperoleh ilmu Tuhan yang bersifat kasbî. Tetapi pada hekekatnya yang mereka peroleh itu hanyalah sebatas pada fenomena alam, bukan hakekat (nomena), bukan pula yang berkaitan dengan realitas yang berada di luar alam materi.

(sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. Al-Rûm: 6-7)

Keika Allah menganjurkan kepada manusia agar bertaqwa, anjuran tersebut dikaitkan dengan janji Allah akan mengajarkan ilmu kepadanya. Ilmu yang diajarkan kepada orang yang bertaqwa dinisbahkan dengan ke-Mahaluasan samudra pengetahuan Allah.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 282)

Atas dasar inilah al-Qur’an memandang bahwa orang yang bertaqwa dan berilmu itulah yang takut kepada Allah.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fâthir: 28)

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Abdul Karim al-Khatib, al-Tafsîr al-Qur’any  Lî al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub, tt

Al-Râghib al-Ashfahâny, Mu’jam Mufradât Alfâz al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Hendar Riyadi (ed.), Tauhid Ilmu, Bandung: Nuansa, 2000

M.Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996

Mahmud ‘Abbas al-‘Aqqâd,  Falsafah al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Mohammad Syadid, Manhaj al-Qur’an Fi al-Tarbiyah, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Hikmah Rokhimah berkata

    bagaimana dengan orang yang berilmu tetapi tidak bertakwa kepada Allah?
    Karena dengan kepandaian ilmunya menjadikan ia sombong dan seakan-akan merasa paling benar atas apa yang ia lakukan.

    Nama: Hikmah Rokhimah
    NIM: 1415104042
    T.IPS B/III/IAIN SNJ

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.