Etika dan Cabang Nilai| Teori Nilai Part -2

2 96

ETIKA dan Cabang Nilai: Pada Prolog artikel sebelumnya, Pengantar tentang Teori Nilai dan Etikatelah mengisyaratkan bahwa etika (baik buruk, benar salah) adalah bagian dari cabang aksiologi. Etika adalah cabang aksiologi yang banyak membahas tentang sesuatu yang Iayak disebut bernilai baik atau buruk.

Dalam pengertian ini, etika mengandung tiga pengertian. Ketiga pengertian itu adalah: 1) Kata etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah laku seseorang; 2) Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral. Misalnya kode etik; dan 3) Etika merupakan ilmu tentang yang baik dan yang buruk.

Etika dapat menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat. Etika dalam konteks ini sering disamakan dengan filsafat moral. Berdasarkan pernyataan di atas, ada dua istilah yang kerap kali muncul dalam membicarakan persoalan etika. Kedua istilah itu adalah moral dan etika itu sendiri.

Secara etimologi, etika berasai dari bahasa Yunani ethos yang berarti watak. Sedangkan moral berasai dari bahasa Latin mos (bentuk tunggal) dan mores (bentuk jamak) yang sering diartikan sebagai kebiasaan.

Makna Esensial Etika

Menurut Farans Magnis Suseno, dua istilah itu sebenamya satu sama lain berbeda. Moral adalah sejumlah ajaran, wejangan- wejangan, khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan; tulisan-tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral adalah pelbagai orang dalam kedudukan yang berwenang, seperti orang tua dan guru, para pemuka masyarakat dan agama serta tulisan para orang bijak. Sumber ajaran moral tidak tunggal. Ia berada dalam ruang yang sangat heterogen.

Islam memiliki ajaran moral tersendiri sehingga penganutnya dituntut untuk mengikut ajaran moralnya. Hal yang sama terjadi dalam agama-agama lain, Kristen, Hindu dan Budha yang memiliki ajaran moral tersendiri, yang memungkinkah berbeda dengan nilai moral yang digunakan dalam ajaran Islam. Masing-masing umat kaum beragama tadi, dituntut mengikuti ajaran moral masing- masing agamanya.

Etika, menurut Frans, bukan sumber tambahan ajaran tentang moral. Ia adalah cabang atau pemikiran yang kritis dan mendasar tentang ajaran moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Yang mengatakan bahwa bagaimana manusia hams hidup, bukan etika, melainkan ajaran moral. Etika mengajarkan kenapa manusia mesti bertanggungjawab ketika berhadapan dengan pelbagai ajaran moral lain yang ada di sekitamya. Ajaran moral seperti buku petunjuk bagaimana manusia harus memperlakukan sepeda motor dengan baik. Sedangkan etika memberi manusia suatu pengertian tentang struktur dan teknologi sepeda motor itu.

Etika dan Pandangan tentang Makna Baik dan Buruk

Mengutif Sidi Ghazalba (1981: 335), etika bersifat ideal dan harvya terkait dengan ide-ide. Ia merupakan pejelasan terhadap sesuatu yang bersipat abstiak dan tidak dapat disentuh pancaindra. Manusia hanya dapat melihat perilaku manusia lainnya yang mengandung nilai. Nilai berbeda dengan fakta. Bahkan ia bukan fakta.

Sebab fakta berbentuk kenyataan yang sifatnya konkret dan dapat ditangkap. Sedangka nilai tidak dapat ditangkap panca indera, Nilai etik hanya dapat dihayati dan dirasakan. Tetapi fakta- fakta muncul sebagai akibat dari nilai yang dianut. Say a sering mengistilahkan nilai dengan sebutan covert behavior -tidak tampak—tetapi memiliki pengaruh dalam tindakan dan perbuatan yang terwujud melalui overt behavior

Pendapat sama diungkapkan Louis O. Kattsoff (1986: 335). Ia menyatakan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan. Namun bukan berarti ia tidak dapat difahami. Nilai sifatnya relative. Jika anda mengatakan bahwa Puspa Andini adalah gadis yang cantik, tidak menjamin bahwa gadis itu disebut cantik oleh teman Anda.

Teman anda dapat saja mengatakan bahwa Puspa adalah gadis yang jelek. Kecantikan sebagai sebuah nilai adalah subjektif, dan pasti atas perselisihan itu tidak akan diperoleh kesepakatan. Anggapan yang menyatakan nilai adalah kualitas empiris, perlu memperoleh pengujian. Sehingga menurut Kattsoff, nilai sesungguhnya merupakan pengutamaan, masalah selera dan orang tidak perlu mempertentangkannya.

Mengapa Perlu Etika

Masalah yang kemudian muncul adalah, kenapa dalam filsafat ilmu mesti ada teori tentang pentingnya nilai. Filsafat sebagai philosophy of life mempelajari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan dan ia berfungsi menjadi semacam pengontrolan terhadap basis keilmuan manusia. Teori nilai fungsinya mirip dengan agama yang menjadi pedoman hidup manusia. Dalam teori ini, terkandung sejumlah tujuan bagaimana manusia menjalani kehidupan dan memberi makna terhadap kehidupan yang dijalani.

Frans Magnis Suseno memaknai nilai kebaikan dan keburukan dengan etika. Etika diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang orientasi hidup. Melalui penegasan terhadap orientasi, manusia akan terbimbing menuju tingkat tinggi dalam kehidupan. Manusia akan tahu di mana ia berada dan ke arah mana ia bergerak. Filsafat mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tahu dan mau. Kemauannya mengandalkan pengetahuan. Manusia hanya akan bertindak berdasarkan situasinya, kemampuannya, tentang segala faktor yang perlu diperhatikan agar rencananya dapat terlaksana.

Nilai bersembunyi di balik kenyataan. Nilai seperti sifat wama tertentu yang dibawa benda tertentu pula. Nilai bukan sesuatu yang tidak eksis, tetapi ia sungguh-sungguh merupakan suatu kenyataan bukan hanya sekedar dianggap ada. Karena itu, walaupun nilai bersembunyi di balik kenyataan lain dan sipatnya tidak kongkret, tetapi, ia eksis. Sebab, pembawa nilai dapat saja mengalami perubahan, sedangkan nilai itu sendiri bersifat mutlak dan tidak pemah mengalami perubahan.

Contoh: Pak Abdullah Ali adalah professor serba bisa. Menurut saya, ia adalah seorang dosen yang baik, jujur dan bertanggungjawab. Sifat baik, jujur dan bertanggungjawab adalah immanent. Ia akan melekat pada siapa saja yang memenuhi standar kebaikan, kejujuran dan tingginya rasa tanggungjawab. Sebab rofesor Abdullah Ali dapat saja suatu waktu tidak baik, tidak jujur dan tidak bertang-gungjawab karena berbagai faktor yang melatarbelakanginya.

Misalnya, kebaikan, kejujuran dan sifat tanggungjawabnya itu berubah menjadi kejelekan ketika ia dihadapkan pada tuntunan kebutuhan hidup dan lingkungan kerja di mana ia bekerja. Tetapi makna kebaikan, kejujuran dan karakter bertanggung-jawab tetap melekat sebagai nilai positif, meskipun sifat itu tidak lagi melekat sebagai nilai yang positif yang ada pada Pak Abdullah Ali. Itu adalah contoh yang sangat sederhana.

Hakikat Nilai dalam Filsafat

Nilai adalah sesuatu yang sangat berharga. Kehilangan nilai akan memberi arti pada hilangnya orientasi atau tujuan hidup. Manusia sendiri menurut saya, akan kehilangan makna hidupnya jika tidak lagi memiliki orientasi dan cita-cita dalam hidup. Ernes Gellner melihat nilai sebagai sesuatu yang sangat penting untuk menjunjung pemberian. arti terhadap kehidupan. Etika seperti disebutkan Frans Magnis Suseno termasuk dalam kelompok filsafat praktis.

Etika praktis ini kemudian dibaginya menjadi dua cabang yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum diartikan sebagai pemikiran kritis terhadap sejumlah ajaran moral yang dijalaninya. Ia tidak henti mempertanyakan kenapa nilai moral ter ten tu dianut dirinya. Benarkan ajaran moral yang dianutnya itu dibenarkan dan mampu memberi arti terhadap kehidupan ini. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. wahid abdurrokhman berkata

    etika dalam kehidupan manusia itu yang akan membedakan mana individu yang baik dan kurang baik, dan dari etika yang benar pula akan memunculkan Ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariah, dan ukhuwan wathanniyah. jadi sudah barang tentu etika yang benar dan baik harus tertanam sejak usia dini.

  2. Hendri setiawan berkata

    Menurut saya Etika adalah bagian filsafat nilai dan penialaian yang membicarakan perilaku orang. Karena Semua perilaku mempunyai nilai dan tidak bebas dari penilaian. Jadi, kurang tepat jika suatu perilaku dikatakan tidak etis dan etis. Lebih tepat, perilaku adalah ber’etika baik atau ber’etika tidak baik. Sejalan dengan perkembangan penggunaan bahasa yang berlaku sekarang, istilah tidak etis dan etis tidak baik untuk hal yang sama, Demikian juga etis dan etis baik.

    Hendri Setiawan
    1415104041
    Tadris IPS-B
    Semester 3

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.