Etos Berkarir Ilmiah Dalam Islam

0 12

Etos Berkarir Ilmiah Dalam Islam: Al-Qur’an adalah kitab suci yang  berdialog dengan perasaan. Hal terbaik yang dapat diminta dari al-Qur’an di bidang ilmu ialah dorongannya kepada manusia supaya berfikir. Di dalam al-Qur’an tidak terdapat suatu diktum yang bersifat melumpuhkan akal untuk memikirkan kandungan maknanya, tidak pula hal yang merintangi akal untuk memperoleh ilmu  pengetahuan dalam kadar seberapa luas dan seberapa dalam.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (QS. Ali ‘Imrân: 190-191)

 Al-Qur’an mendorong setiap muslim untuk memikirkan alam kejiawaan sebagaimana ia memikirkan alam wujud (nature).  Allah  memperingatkan orang-orang yang mempercayai kebenaran-Nya dan yang tidak, hanya mengenai satu soal saja yaitu “berfikir”. Berfikir adalah suatu yang amat diperlukan untuk memahami semua bentuk peringatan. Sekian banyak peringatan al-Qur’an kepada manusia agar berfikir di antaranya adalah:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan. (Saba’: 46)

 Martabat yang dicapai oleh seseorang muslim tidak akan setinggi martabat yang  dicapai karena ilmunya.

   قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Al-Zumar:9)

 Dan seorang muslim memohon kepada Tuhannya berupa karunia dan nikmat, tidak ada yang lebih tinggi nilainya selain ilmu.

   يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujâdilah: 9)

Keutamaan terbesar dari Islam bahwa agama ini membuka pintu lebar bagi pengikutnya untuk memperoleh pengetahuan. Ia mendorong mereka mendalami dan meraih kemajuan, menerima perkembangan keilmuan baru yang sesuai dengan kemajuan zaman.

Dorongan Islam Dalam Berkarir Ilmu

Secara bahasa, kata ‘ilmu  berarti kejelasan. Segala bentuk kata yang berasal dari akar kata tersebut selalu menunjuk kepada kejelasan. Di dalam al-Qur’an, kata ilmu dengan berbagai bentuk dan derivasinya terulang 854 kali. Kata tersebut biasanya digunakan untuk menunjuk proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sekaligus. Ilmu menjadi salah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Ada orang yang berpersepsi bahwa al-Qur’an adalah kitab ilmu pengetahun. Persepsi ini muncul atas dasar isyarat-isyarat al-Qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahun.  Dengan tidak menafikan persepsi tersebut, al-Qur’an adalah wahyu yang menyempurnakan persepsi manusia terhadapnya. Wahyu sangat erat hubungannya dengan masalah jiwa dan perilaku manusia yang dominan bersifat psikis/psikologis.

Hubungan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, proporsi yang harus diletakkan adalah bahwa dari isyarat ayat-ayat al-Qur’an, tidak ada ayat yang menghalangi tuntutan serta kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi justeru sebaliknya.  Al-Qur’an menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya untuk mencapai hasil yang dicita-citakan. Inilah iklim baru yang dibentuk oleh al-Qur’an dalam rangka mengembangkan akal pikiran manusia serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya. Untuk menunjukkan Urgensi  ilmu dalam kehidupan, baik individu maupun sosial, al-Qur’an memberikan pertanyaan yang harus dipikirkan oleh manusia;

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

 Dalam ayat lain, al-Qur’an memberikan kritik pedas terhadap mereka yang berbicara tentang suatu persoalan tanpa adanya data objektif lagi ilmiah.  

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Ali ‘Imran: 66)

Ayat-ayat tersebut membentuk iklim baru dalam masyarakat muslim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan. Pembentukan iklim ilmiah jauh lebih penting dari teori ilmiah itu sendiri. Karena tanpa terwujudnya iklim ilmiah, maka teori ilmiah tidak akan terwujud dan terbumikan. Sejarah telah mencatat tokoh ilmiah yang harus mengorbankan nyawanya disamping fikirannya hanya untuk membumikan teori ilmiah yang ia temukan. Al-Qur’an adalah wahyu dan petunjuk bagi ummat manusia untuk menemukan kesentosaan hidup, baik secara fisik maupun psikis, baik di alam riel maupun di alam ghaib nanti memberikan dorongan kepada manusia agar menggunkan akal fikirannya.

Oleh: Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Abdul Karim al-Khatib, al-Tafsîr al-Qur’any  Lî al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub, tt

Al-Râghib al-Ashfahâny, Mu’jam Mufradât Alfâz al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Hendar Riyadi (ed.), Tauhid Ilmu, Bandung: Nuansa, 2000

M.Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996

Mahmud ‘Abbas al-‘Aqqâd,  Falsafah al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Mohammad Syadid, Manhaj al-Qur’an Fi al-Tarbiyah, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.