Etos Kerja Guru

0 641

Menelisik asal mula kata etos, ia berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan tertentu. Dari kata itu, muncul pula kata “etika” dan “etis” yang secara makna hampir mendekati kepada makna ahlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik-buruk (moral). Etos mengandung gairah atau semangat yang kuat dalam diri seseorang untuk mengerjakan sesuatu secara maksimal, lebih baik, dan bahkan selalu berupaya untuk mencapai kualitas hasil kerja yang prestatif atau sempurna. (Toto Tasmara, 2002: 15)

Berdasarkan kamus Webster (2007), mendefinisikan etos sebagai suatu keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku seseorang, sekelompok, atau institusi. Jadi, etos kerja dapat diartikan sebagai sebuah doktrin tentang kerja yang diyakini seseorang atau sekelompok orang tentang baik dan benar yang berwujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka (Sinamo, 2002). Harsono dan Santoso (2006) menyatakan bahwa etos kerja merupakan semangat kerja yang didasari atas nilai- nilai atau norma- norma tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukriyanto (2000) yang menyatakan bahwa etos kerja merupakan suatu semangat kerja yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat agara mampu bekerja lebih baik guna memperoleh nilai tambah dalam hidup. Sehingga etos kerja inilah yang mampu menentukan penilaian manusia yang diwujudkan dalam suatu pekerjaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos merupakan sebuah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Ensiklopedi Nasional Indonesia, menyebut kata etos sebagai watak dasar suatu masyarakat. Lebih lanjut, etos diartikan sebagai sebuah kesanggupan dalam memecahkan suatu persoalan atau permasalahan yang dihadapi. Termasuk didalamnya terdapat cara pandang terhadap segala persoalan yang dihadapinya. Misalnya, tentang cara pandang terhadap urusan dunia, pendidikan, pekerjaan dan lain-lain. (Abdulah Nata, 2001: 20)

Etos Menurut Para Ahli

Secara istilah, para ahli memberikan pengertian yang berbeda- beda (beragam). Frans  Magnis Suseno misalnya, ia menyebut etos sebagai semangat dan sikap batin yang konsisten dari seseorang atau sekelompok orang yang didalamnya terdapat tekanan moral dan nilai-nilai moral tertentu. Clifford Gertez mengartikan etos sebagai suatu sikap yang mendasar pada diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Dengan demikian, etos menyangkut semangat hidup seseorang, termasuk semangat bekerja, menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan keterampilan agar dapat membangun kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. (Sudirman Tebba, 2003: 1)

Istilah etos lebih lanjut diformulasikan oleh David C.Mc. Clelland dengan istilah virus mental  yang berupa dorongan untuk hidup sukses yang kemudian disingkat dalam istilah Need for Achievement yang berarti dorongan kebutuhan untuk meraih sukses atau prestasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Clelland lebih lanjut menegaskan bahwa etos itu berhubungan erat dengan usaha atau tindakan untuk melakukan sesuatu secara lebih baik dari waktu ke waktu yang sudah dilakukan secara lebih efisien, lebih cepat, hemat, hemat tenaga dengan hasil yang memuaskan.

Adapun kerja menurut W.J.S Purwadarminta yaitu segala perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan (diperbuat). Sedangkan menurut Toto Tasmara, kerja adalah semua aktivitas yang dilakukan karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu. Sesuatu dimaksud dilakukan karena kesengajaan sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas (Toto Tasmara, 2002)

Tujuan Etos Kerja

Bekerja tentu akan mempunyai tujuan mencapai hasil baik berupa benda, karya atau pelayanan kepada masyarakat. Dalam diri manusia terdapat kebutuhan- kebutuhan yang pada saatnya akan mampu membentuk tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang hendak dicapai ini bukan hanya berkaitan dengan fisik semata, namun juga berkaitan dengan mental (jiwa) seperti pengakuan diri, kepuasan, prestasi, dan lain-lain.

Berbagai kutipan diatas menjelaskan kepada kita bahwa kata etos dan kerja atau pekerjaan memiliki hubungan yang sangat erat. Kedua kata dimaksud secara substansial mengandung arti pekerjaan. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa etos kerja adalah semangat kerja yang terlihat dalam cara pandang seseorang dalam menyikapi berbagai pekerjaan. Ia berperan sebagai motivasi yang melatar belakangi seseorang melakukan suatu pekerjaan. Dalam arti lain etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa/ umat tentang bagaimana ia bekerja. (Panji Anoraga, 2001: 29)

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa etos kerja guru adalah karakteristik yang khas yang ditunjukan seorang guru menyangkut semangat, dan kinerjanya dalam bekerja (mengajar), serta sikap dan pandangannya terhadap kerja. Etos kerja guru dalam pengertian lain yaitu sikap mental dan cara diri seorang guru dalam memandang, mempersepsi, menghayati sebuah nilai dari kerja. Oleh: Sujana

Bahan Bacaan:

Abdulah Nata, 2001, Paradigma Pendidikan Islam: Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Grasindo

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. PT. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Hamdani. 2011. Dasar- dasar Kependidikan. CV Pustaka Setia. Bandung.

Muhaimin, et al., 2004, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Jakarta: Remaja Rosda Karya

Mulyasa, Eenco. 2011. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.