Inspirasi Tanpa Batas

Evaluasi Pembelajaran Berbasis Internalisasi Nilai| Interactive Learning Part – 3

0 8

Konten Sponsor

Evaluasi Pembelajaran Berbasis Internalisasi Nilai. Student Report Cards adalah sebuah inovasi metode yang dapat digunakan lembaga pendidikan formal. Ia juga dapat menjadi sarana untuk menginternalisasikan pendidikan nilai dalam keseharian peserta didik.

Cara ini diadopsi dari metode buku penghubung yang pernah digunakan oleh Sekolah Dasar. Sebagai suatu sarana penghubung antara pihak sekolah dengan orang tua peserta didik. Mereka dituntut ikut memonitoring keseharian peserta didik ketika pengerjaan tugas-tugas sekolah. Selain itu, aplikasi metode SRC yang minim biaya. Inilah kontribusi positif untuk menumbuhkan kebiasaan menulis, rasa percaya diri, dan kreativitas peserta didik.

Aplikasi metode SRC ini dapat menjadi ‘tambalan’ dalam ‘kekosongan’ metode penyampaian pendidikan nilai. Proses pembelajaran yang selama ini disampaikan dengan metode hapalan, akan berubah. Model ini akan kebiasaan puluhan tahun pada sebagian besar lembaga pendidikan formal di negeri ini.

Pentingnya Proses Pendidikan Nilai

Melalui proses pendidikan, manusia diharapkan dapat memperoleh ‘kemanusiaannya’. Model ini dapat membentuk kesadaran peserta didik pada realitas sosial yang terjadi disekitarnya. Selain tentu dapat menyadarkan peserta didik pada perannya untuk berperilaku sebagaimana mestinya.

Dan pendidikan merupakan hak positif warga negara. Maknanya bahwa pemerintah wajib campur tangan dalam proses penyelenggaraannya selama tidak bersinggungan dengan hak negatif warga negara. Sehingga cukup beralasan bila sejak negara ini memproklamasikan kemerdekaannya, pendidikan selalu menjadi urusan pemerintah.

Namun sejak era reformasi inilah, kesadaran berbagai kalangan diluar pemerintah akan dunia pendidikan semakin meluas. Tingkat kesesuaian kurikulum terkait dengan evaluasi proses pendidikan menuai kritik dari berbagai kalangan. Sebab, peningkatan pemerataan akses pendidikan formal malah berbanding lurus dengan tingginya angka kriminalitas. Belum kalau berbicara soal tindakan asusila, dan atau tindak korupsi terstruktur. Hal ini kadang dilakukan secara terang-terangan

Vitalitas Pendidikan Nilai

Posisi pendidikan nilai menjadi sangat vital dalam pembentukan pribadi peserta didik. Peserta didik yang seharusnya memiliki kecerdasan intelektual tinggi harus bermanfaat dengan tepat. Aspek yang dipandang tepat itu karena peserta didik akan dilatih kecerdasan emosional, sosial, maupun spiritual. Tereliminasinya pendidikan nilai pada kurikulum lembaga pendidikan formal, menjadi penyebab utama terjadinya kemerosotan moral.

Integrasi pendidikan nilai dalam pendidikan keagamaan dan kewarganegaraan, menjadi tidak tepat sasaran. Mengapa? Karena pendidikan nilai diberikan dengan metode hapalan dengan porsi yang minim untuk memenuhi evaluasi proses pendidikan. Model evaluasi yang tidak hanya mengukur ranah kognitif, tetapi juga ranah apektif dan psikomotor.

SRC adalah sarana yang dapat digunakan lembaga pendidikan formal untuk menginternalisasikan pendidikan nilai. Ini tidak dapat dibantah. Cara ini diadopsi dari metode buku penghubung yang pernah digunakan sekolah dasar sebagai sarana penghubung antara pihak sekolah dan orang tua peserta didik. Model ini dapat digunakan untuk melakukan monitoring keseharian peserta didik dalam pengerjaan tugas.

Melalui SRC, peserta didik dapat melakukan pencatatan terhadap perbuatan baik yang mereka lakukan. Catatan itu berguna untuk melakukan penilaian terhadap sesamanya. Apa yang dilakukan peserta didik misalnya membantu orang lanjut usia untuk menyeberang jalan raya, membuang sampah pada tempatnya, cara untuk mencatat itu. SRC dengan demikian, tidak hanya menjadi sarana dokumentasi keseharian peserta didik dalam melakukan relasi sosial dengan individu lain. Ia juga akan menjadi sarana dokumentasi sikap peserta didik dalam menghargai dirinya sendiri.

Reward dan Funishment dalam Proses Pembelajaran

Pihak pendidik maupun lembaga pendidikan tidak perlu memberikan reward berupa poin terhadap peserta didik, namun reward tersebut lebih baik dirupakan dalam bentuk alokasi waktu – beberapa menit sebelum memulai dan setelah PBM suatu mata pelajaran berakhir – yang disediakan bagi peserta didik untuk membacakan di depan kelas tentang apa yang telah mereka dokumentasikan dalam SRC mereka pada hari sebelumnya.

Reward yang diberikan pendidik dapat dirupakan dalam bentuk komentar pujian maupun applause. Cara ini, secara tidak langsung juga akan diberikan oleh peserta didik yang lain. Keterbatasan alokasi waktu yang dimiliki oleh peserta didik dan pendidik juga dapat disiasati dengan meminta peserta didik menempelkan SRC yang telah dituliskan pada hari sebelumnya.

Tulisan itu biasanya terpampang pada papan mading atau dinding kelas agar masing-masing peserta didik dapat saling mengetahui. Mengetahui apa dokumentasi SRC yang telah dituliskan oleh peserta didik lainnya. Peserta didik juga dapat saling memberikan komentar pujian secara deskriptif dalam SRC milik peserta didik yang lain.

Aplikasi Metode SRC

Secara konseptual, aplikasi metode SRC sebagai sarana internalisasi pendidikan nilai jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode hapalan butir-butir Pancasila dan UUD 1945 yang selama puluhan tahun ini diaplikasikan pada lembaga pendidikan formal, khususnya pada jenjang pendidikan dasar.

Sebab, pendidikan nilai yang juga mencakup pendidikan moral dan budi pekerti adalah pendidikan yang berada dalam ranah afektif, sehingga hanya dapat dirupakan dalam pengamalan sikap dan perbuatan secara individu. Tingkat moralitas dan budi pekerti peserta didik tidak akan dapat dicerminkan melalui nilai sempurna yang didapatkannya dalam ujian mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan maupun pendidikan keagamaan – yang didalamnya diintegrasikan pendidikan moral dan budi pekerti – yang jelas-jelas hanya mengukur kompetensi peserta didik dalam ranah kognitif yang dapat dengan mudah dicapai dengan cara menghapal bahan ujian.

Metode hapalan sendiri adalah metode behavioristik yang sangat dehumanis sebab telah memaksa peserta didik untuk menghapal sesuatu yang bila tidak dilakukan oleh peserta didik, maka ia akan mendapatkan hukuman berupa nilai ujian yang tidak baik sehingga secara psikologis akan membuat peserta didik malah menjadi tertekan.

SRC dan Motivasi Internal Peserta Didik

Aplikasi metode SRC akan menumbuhkan motivasi internal dalam diri peserta didik untuk melakukan hal-hal positif terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang berada di sekitar mereka. Pihak pendidik dan sekolah dituntut untuk memberikan kebebasan pada peserta didik dalam mengisi SRC, sebab dengan adanya kebebasan tersebut maka peserta didik akan memutuskan untuk bersikap baik secara mandiri dan bukan karena paksaan pihak pendidik maupun sekolah.

Inisiasi untuk berkompetisi dalam melakukan kebaikan akan timbul dengan sendirinya melalui proses sosial yang terjadi di kelas, saat ada peserta didik yang membacakan dokumentasi SRC yang ia tuliskan maupun pada saat penempelan SRC masing-masing peserta didik pada papan mading atau dinding kelas.

Pendokumentasian sikap positif peserta didik dalam SRC secara tidak langsung juga menjadi sarana refleksi internal peserta didik dalam menguji kejujuran pribadinya. SRC masing-masing peserta didik juga menjadi sarana refleksi diri antar peserta didik dalam mengetahui perbedaan antara perbuatan yang bernilai baik dan positif secara normatif berdasarkan konvensi sosial kemasyarakatan maupun keagamaan dengan perbuatan yang tidak baik dan negatif secara normatif.

Sarana Internalisasi Nilai dalam Pembelajaran

Selain bermanfaat sebagai sarana internalisasi pendidikan nilai bagi peserta didik, SRC sendiri dapat membantu pendidik dalam melakukan bahasan terhadap mata pelajaran yang akan didiskusikan dengan peserta didik, tidak terlepas pada pokok bahasan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan semata. Sebabnya, SRC didokumentasikan berdasarkan pengalaman nyata peserta didik sehingga akan materi pelajaran akan lebih mudah diterima oleh peserta didik bila pendidik dapat mengintegrasikan realitas keseharian dengan apa yang menjadi materi pelajaran peserta didik di ruang kelas.

Tentunya hal tersebut jauh lebih bermanfaat bagi peserta didik, dibandingkan dengan mempelajari idealitas keseharian individu secara general yang disuguhkan dalam buku-buku teks pelajaran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan keseharian peserta didik di dunia nyata. Metode SRC juga tidak membutuhkan penambahan alokasi biaya khusus dalam anggaran pendidikan sekolah maupun peserta didik secara individu.

Lembaran-lembaran kertas yang digunakan sebagai sarana dokumentasi SRC dapat saja berasal dari kertas bekas yang tidak terpakai maupun kertas-kertas sisa. Malahan, melalui SRC ini peserta didik juga dapat secara bebas mengaplikasikan kreatifitasnya dan juga dapat menghargai fungsi utilitas barang-barang yang dianggap sudah tidak dapat dipakai. Selain itu, aplikasi metode SRC juga memberikan kontribusi positif untuk menumbuhkan kebiasaan menulis, dan menumbuhkan rasa percaya diri, serta kreatifitas dalam diri peserta didik sejak usia dini.

Harapannya aplikasi metode SRC ini dapat menjadi media ‘tambalan’ untuk menutup ‘kekosongan’ metode penyampaian pendidikan nilai yang selama ini disampaikan dengan metode hapalan sebagaimana telah berlangsung selama puluhan tahun pada sebagian besar lembaga pendidikan formal di negeri ini. Dr. H. Djono

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar