Inspirasi Tanpa Batas

Evaluasi Pemberian Nutrisi Enteral Pada Anak Dengan Kondisi Kritis

0 153

Pemberian nutrisi pada pasien dengan kondisi kritis menjadi tantangan tersendiri bagi praktisi kesehatan, entah itu dokter, perawat, maupun ahli gizi (nutritionist). Kesulitan itu akan semakin mudah lagi ditemui di ruang perawatan intensif, dimana pada kondisi kritis masalah yang dialami pasien sudah barang tentu sangat kompleks dan pemenuhan kebutuhan nutrisi tidak jarang sedikit terabaikan dibandingkan yang lain (airway, breathing, circulation). Padahal sudah jelas bahwa nutrisi juga memegang peranan penting dalam proses penyembuhan, apalagi pada pasien anak yang masih sangat memerlukan nutrisi yang optimal untuk tumbuh kembangnya.

Seperti pada kasus yang dialami oleh An. SF (11 tahun) dengan diagnosa medis TB Abdomen dan Ca Colon, membuatnya tidak bisa mendapatkan nutrisi yang adekuat karena ada obstruksi di saluran pencernaannya sehingga setiap kali dicoba pemberian nutrisi baik via enteral maupun oral seringkali mendapatkan hambatan, entah itu mual muntah maupun retensi yang masih cukup banyak saat dilakukan aspirasi cairan lambung. Namun, penghentian nutrisi enteral maupun oral tanpa diimbangi dengan pemberian nutrisi parenteral yang adekuat justru akan membuat pasien mengalami malnutrisi bila hal ini tidak diintervensi, yang pada akhirnya membuat proses penyembuhan terhambat.

Analisis Journal An evaluation of enteral feeding practices in critically ill children

Jurnal dengan judul An evaluation of enteral feeding practices in critically ill children diakses melalui website EBSCOHOST. Dengan metode pencarian advanced search melalui jurnal Medline dan Cinahl dengan kata kunci : enteral feeding, children, intensive care.  Jurnal dipublikasikan pada tahun 2010 di Inggris, dengan sebagian besar penulis berlatar belakang perawat.

Tujuan dilakukannya studi tentang pemberian nutrisi enteral pada pasien anak dengan kondisi kritis adalah untuk mengetahui apakah pemberian nutrisi tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan kalori mereka, dan apakah tatalaksananya sudah sesuai sehingga asupan nutrisi pada pasien adekuat dan tepat sasaran. Hal ini disebabkan oleh semakin kompleksnya permasalahan pemberian nutrisi di ruang intensive, khususnya pada anak.

Hasil studi menunjukkan bahwa masih banyak pasien anak yang dirawat di ruang PICU tidak mendapatkan nutrisi yang adekuat. Penerapan tatalaksana (guideline) tentang pemberian nutrisi enteral terbukti meningkatkan efektifitas dan keadekuatan intake nutrisi pada pasien dengan kondisi kritis.

Berikut ini tatalaksana yang telah dimodifikasi berdasarkan karakteristik ruangan PICU di Inggris :

Dari diagram tatalaksana di atas, terlihat bahwa pemberian nutrisi enteral pada pasien anak dengan kondisi kritis seyogyanya dimulai sesegera mungkin sejak anak ditransfer ke ruangan (6 jam pertama). Tahap awal adalah menghitung kebutuhan kalori dan cairan, selanjutnya jumlah yang diperoleh dibagi 12 untuk diberikan setiap 2 jam sekali untuk test awal. Setelah 4 jam, lakukan aspirasi untuk menilai kecepatan absorbsi dan menghitung jumlah retensi cairan (nutrisi). Jika retensi lebih dari 5 ml/kg berat badan maka jadwal pemberian makanan diubah menjadi setiap 1 jam. Bila kemampuan absorbsi baik dapat dinaikkan secara bertahap menjadi 3-4 jam sekali.

Setelah dilakukan pemberian nutrisi setiap 1 jam dan ternyata retensi masih banyak (> 5 ml/kgBB), maka harus dipertimbangkan untuk memberikan dengan cara continuous feeding selama  20 jam dengan istirahat 2×2 jam. Bila masih saja tidak adekuat, maka pemasangan tranpyloric tube bisa menjadi pilihan atau dengan pemberian nutrisi parenteral.

Pembahasan Evaluasi Pemberian Nutrisi Enteral Pada Anak Dengan Kondisi Kritis

Bila dibandingkan antara kasus yang diamati yaitu An. SF dengan intisari jurnal yang diperoleh, maka terlihat ada beberapa kesenjangan yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi malnutrisi klien.

Pertama adalah pemberian nutrisi enteral langsung setiap 3 jam sekali, dimana pada klien dengan gangguan saluran pencernaan seperti yang dialami oleh An. SF. Apalagi dengan diagnosa klinisnya (Ca Colon) yang berarti terdapat obstruksi di saluran gastrointestinal sehingga proses absorbsi serta distribusi cairan dan nutrisi akan terganggu.

Kedua, saat ditemukan retensi cairan dan nutrisi di lambung masih banyak ( > 5 ml/kg ) yang dilakukan justru penghentian (tap) nutrisi hingga beberapa kali pemberian. Hal ini tentunya akan membuat intake nutrisi tidak adekuat, sehingga kondisi malnutrisi klien akan bertambah parah.

Dengan dibuatnya tatalaksana pemberian nutrisi enteral pada pasien di PICU dari Alder Hey, maka seharusnya apabila terjadi kondisi seperti yang dialami oleh klien An. SF dilakukan sesuai petunjuk yang ada. Jika pemberian nutrisi setiap 3 jam masih belum dapat diabsorbsi secara maksimal, maka dicoba diberikan setiap 2 jam sekali. Bila masih belum optimal juga, coba diberikan setiap 1 jam dengan harapan bila diberikan dalam jumlah kecil (sedikit tapi sering). Akan lebih mudah terdistribusi dan diabsorbsi oleh lambung sehingga retensinya pun minimal

Mual dan muntah yang dialami oleh klien, serta sensasi kenyang yang terus menerus juga menjadi hambatan tersendiri. Melihat abdomennya yang sangat terdistensi, hingga untuk bernafas pun klien kesulitan (sesak berat). Maka tampaknya masalah pemberian nutrisi ini akan sangat sulit diatasi sebelum dilakukan intervensi pada massa di abdomennya tersebut. Apalagi klien dan keluarga pada akhirnya memutuskan untuk pulang paksa karena tidak setuju dilakukan operasi dan pemasangan colostomy sehingga regimen terapi pun tidak bisa dilanjutkan.

Simpulan dan Saran

Sebagai perawat, pemberian nutrisi adalah salah satu tugas dan tanggung jawab kita. Namun seringkali masih sangat bergantung pada dokter untuk cara dan jadwal pemberian, padahal kita yang setiap saat berada di samping pasien. Pengetahuan dan pengalaman tentunya akan sangat berperan dalam hal ini. Sehingga, pemberian nutrisi pada pasien lebih optimal dan dapat membantu proses penyembuhan. ***Deis Isyana Nur Putri, MKep.


REFERENSI :

Tume L, Latten L, Darbyshire A. (2010). An evaluation of enteral feeding practices in critically ill children. British Association of Critical Ill Nurses, Vol. 15 No. 6.: 291 – 299

Komentar
Memuat...