Fakta di Balik Perayaan Ulang Tahun dan Tiup Lilin

0 148

SETIAP orang memiliki hari yang dirasa spesial dalam hidupnya. Hari dimana kita di lahirkan ke muka bumi atau saat kita masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Saat hari itu datang, kita pun kembali menghitung tahun – tahun yang telah dilalui selama berada di bumi tercinta ini. Ya, hari itu di sebut “Hari Ulang Tahun”. Namun sebenernya dari mana asal perayaan ulang tahun itu muncul, sehingga tidak sedikit ummat muslim ikut merayakannya? pertanyaan ini yang mungkin sebelumnya tidak pernah terfikirkan, mari kita telusuri sekilas!!!

Awalnya dimulai dengan ketakutan akan adanya roh jahat yang akan datang pada saat seseorang berulang tahun, itu sebabnya mereka mengundang teman-teman dan keluarga datang saat sesorang berulang tahun untuk memberikan do’a serta pengharapan yang baik bagi yang berulang tahun. Sehingga dapat mengusir roh-roh jahat tersebut. Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu salah satunya adanya Kue dan Tiup lilin.

Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk ke kuil DEWI BULAN untuk melakukan persembahan kepada Artemis Diana . Sebelumnya kita bicara dulu siapa itu Artemis? Artemis (bahasa Yunani: Ἄρτεμις) dalam mitologi Yunani adalah dewi perburuan, alam liar, hewan liar, perawan, dan perbukitan. Dia adalah pembawa dan penghalau penyakit pada perempuan serta merupakan Dewi yang menolong dalam proses kelahiran. Pada perkembangan selanjutnya, Artemis dihubungkan dengan Selene, dewi bulan Yunani yang sering digambarkan dengan bulan sabit di kepalanya. Pada akhir masa Hellenistik, dia juga dianggap sebagai dewi kelahiran (diadaptasi dari tugas Eileithyia). Dalam mitologi Romawi dia dikenali sebagai Diana.

Dan saat itu mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Selain kue simbol lain yang selalu menyertai perayaan ulang tahun yaitu tiup lilin. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke Dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986) dan mereka percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga. Pada saat itu pula orang Jerman terkenal dengan keahliannya dalam membuat lilin dan mereka juga mulai membuat lilin – lin kecil untuk kue mereka.

Dan saat ini banyak orang merayakan ulang tahun lalu mengucapkan pengharapan sambil meniup lilin. Mereka pun percaya bahwa meniup lilin yang ada dalam satu hembusan akan membawa nasib baik. Ada juga mitos yang mengatakan ketika kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa kebahagiaan.

Dapat disimpulkan bahwa melalui sejarahnya perayaan ulang tahun ini adalah ritual kaum kuffar (paganism) terhadap DEWI BULAN (Artemis), namun ironis sekali ada sebagian bahkan kalangan umum umat islam menjadikan hari ini sebagai ritual wajib tiap tahunnya. Apakah pantas kita ummat muslim mengikuti tradisi kaum kuffar (paganisme) dengan meniru ritual – ritual mereka ???

Rasulullah pernah bersabda:

“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya,”Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.

Nah, lalu sekarang pertanyaannya, bagaimana menyikapi hari ulang tahun sesuai dengan Syari’at Islam ..?

Alternatif pertama, dalam rangka ibadah, Misalnya sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa) adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah SWT dan Rasul-Nya.

Alternatif kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak hanya dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Idul Fitri, Idul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 “Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)”

[HR. Bukhari-Muslim]

Jika seluruh umat islam bisa melakukan perayaan ulang tahun dengan tidak mengadakan perayaan khusus, secara sederhana, dan sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Karna sesungguhnya Allah SWT maha mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.

Jadi gimana, Masih mau melakukan perayaan Ulang tahun seperti itu??. ** (Syifa Medicine)


sifa-fauziah

 Tentang Penulis

Mahasiswi Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon ini, terbilang sosok muda kreatif yang Imajiner, Kecintaannya kepada dunia organisasi dan seni membawa penulis termasuk mahasiswa aktif penggiat seni. Gadis kelahiran Tasikmalaya ini kini termasuk dalam jajaran pengurus beberapa organisasi Kemahasiswaan, baik Organisasi Extra maupun Intra Kampus.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.