Faktor Penyebab Bangkitnya Komunisme di Indonesia

0 3.306

KOMUNISME Indonesia Dianggap Bangkit Lagi. Karakter fobia terhadap komunisme kembali muncul secara massif. Terlebih saat Gatot Nurmantyo, Panglima TNI mewajibkan seluruh tentara Angkatan Darat untuk menonton Film Gestapu, PKI. Berbagai kalangan masyarakat; pro dan kontra, sontak merespon keharusan perintah Panglima TNI ini.

Mereka yang pro atas gagasan Panglima TNI ini, terutama datang dari para purnawiran Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan tokoh-tokoh sepuh dari aktivis Muslim Indonesia. Isu ini terasa massif, khususnya setelah symposium berhasil digelar Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia pada 18-19 April 2016, di Hotel Aryaduta, Jakarta. Beberapa hari ini, seminar yang relatif mirip, meski banyak ditolak oleh para pengikut acara, adalah apa yang dihelat LBH di Jakarta. Demontsrasi besar-besaran terjadi di Kantor yang dibesut Adnan Buyung Nasution. Acarapun gagal.

Isu kebangkitan PKI, diperparah dengan munculnya orang-orang yang berani memakai atribut komunis atau yang secara terang-terangan menyatakan diri sebagai sosok yang bangga menjadi anak PKI. Padahal sosok dimaksud, berada dalam lingkar kekuasaan dan memiliki peran penting dalam posisinya sebagai pejabat publik negara.  Hal lain yang juga perlu dicatat menurut kelompok ini adalah, situasi masa lalu dan masa kini, sama-sama berada dalam aroma yang sama.

Di sisi lain, kaum muda Indonesia, kebanyakan tidak lagi menghiraukan soal isu ini. Bahkan banyak di antara mereka yang sangsi kalau komunisme akan kembali bangkit. Mereka yang menolak hypotesa kebangkitan Komunis, sering diasumsikan karena di negeri asal kelahirannya, Komunis gagal memainkan perannya.  Di pojok lain, mereka yang merasa dirugikan ulah pemerintah Orde Baru atas perlawanannya terhadap komunis, menganggap mereka trauma atas apa yang disebut dengan PKI. Sebut misalnya apa yang disampaikan Bejo Untung dalam acara live ILC yang biasa diprakarsai Karni Ilyas beberapa hari ini.

Symposium di atas itu pula yang sebagiannya telah memicu lahirnya “Silaturahmi Purnawirawan TNI/Polri, Ormas Keagamaan, dan Kepemudaan” di Balai Kartini, Jakarta. Entah kebetulan atau tidak, setelah dua acara itu berhasil dihelat. Di Indonesia kembali marak kegiatan sweeping atas buku-buku tentang ideologi kiri.

Sweeping atas buku Karl Marx atau yang menjelaskan tentang Leninisme serta buku lain yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip sosialisme dan komunisme. Baik dalam konteks Indonesia, maupun dalam konteks dunia. Selain itu, sweeping juga dilakukan terhadap simbol-simbol atau gambar yang mirip dengan Partai Komunis Indonesia. Seperti gambar palu arit, yang secara kebetulan juga mulai banyak menempel di kaos atau bahkan di pamflet-pamflet.

Mengapa Komunisme Bangkit

Kalau kita membaca buku Revolusi Belum Selesai, yang dalam isinya memuat berbagai pokok pikiran Soekarno, di situ dijelaskan  bahwa komunisme atau ideologi kiri sosialisme, Marxisme, dan komunisme, lahir di suatu kampung yang kumuh. Di tengah gubuk yang bocor dan di tempat di mana seorang ibu tidak mampu memberi susu yang cukup buat anak mereka. Anak-anak itu telanjang dan ngesot di tanah akibat kemiskinan yang mencekik kehidupan mereka. Karena tidak mampu menyediakan rumah berplester, apalagi berkeramik. “Di situlah sosialisme, Marxisme dan komunisme lahir.

Jadi, dalam Analisa Soekarno, sepanjang pemandangan mata masih menyaksikan seperti apa yang digambarkan di atas itu terjadi, maka, kapanpun komunis akan tumbuh dengan massif juga. Tanpa Muso, Untung atau D.N. Aidit sekalipun, menurut Soekarno, jika situasi itu masih ada, maka, komunis sampai kapanpun pasti akan muncul. Dengan asumsi seperti itu jugalah, Soekarno, enggan membubarkan Partai Komunis Indonesia sekalipun tekanan atasnya terasa sangat kuat. Mengapa? Sebab sekalipun dibubarkan, ia akan tetap hidup sepanjang kemiskinan itu masih tetap berlanjut.

Jika nalar Bung Karno ini benar, dan juga jika asumsi bahwa komunism kembali bangkit di Indonesia, maka, apa tidak mungkin kita menyebut bahwa kebangkitan komunisme Indonesia jilid 2 ini, dapat diasumsikan bahwa pemerintah Indonesia selalu gagal memakmurkan rakyatnya dan mengentaskan kemiskinan tentu saja di dalamnya. ** Penulis: Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.