Ternyata Fatahillah tak Identik dengan Sunan Gunung Jati

0 141

MASIH dijumpai dalam berbagai literatur, bahwa Fatahillah identik dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Hoesein Djajadiningrat dalam disertasinya di Universitas Leiden Belanda. Dengan menulis disertasi Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten (Memertimbangkan kritik atas Sejarah Banten) di bawah bimbingan Dr. C. Snouck Hurgronje (1857-1936) (Ibnu Adam Aviciena, 2007).

Dalam disertasi tersebut (1913), Fatahilah (Fadillah Khan) identik dengan Sunan Gunung Jati, Mengutip Atja (1986 :72) Wildan (2003) menyatakan, nama Fakrullah sesuai dengan deretan nama-nama Nurukllah, Madzkurullah dan Hidayatullah.

Jadi, Falatehan, Faletehan dan Sunan Gunung Jati, Kangjeng Sinuhun, atau Sunan Jati Purba bukanlah tokoh yang identik sama,melainkan dua tokoh yang kegiatannya saling berjalin, terutama sebagai ulama penyebar Islam dan masih berhubungan keluarga.

Sunan Gunung Jati adalah mertua  Fadhilah Khan atau Falatehan, karena menikah dengan Ratu Atu, janda Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak yang kedua wafat pada 1521 dalam pertempuran di laut mengusir armada Portugis dari Malaka.

Wildan juga mengritisi disertasi Husein, kelemahan lain yang tidak dilakukan Djajadiningrat adalah ia tidak menggunakan naskah Babad Cerbon (BC) edisi Brandes yang telah terbit sejak 1911.  Dan sumber Portugis dari Tome Pires yang memang belum diterbitkan saat Djajadiningrat menyusun disertasinya dan baru diterbitkan pada 1944 (Cortesao, 1944).

Dalam kitab Pustaka Negarakretabhumi (Wangsakerta, 1670) dinyatakan

susuhunan jati carbon ya ta syéh molana syarip hidayatullah pejah ikang dwadaça krsnapakça badramasa. sahasra catur çata. nawati ikang sakākala. ateher cinanding tunggang ghiri nurciptarengga. ri huwus ika mantunira ya ta molana phadillah khan al ghujarat. lawas sira dumadi rajapandita tamolah ing carbon ya ta dwa warça.apan amituhu nikang serat. tumuli dwi warça pejah ta mao ntu nira ya ta phadilah khan ing çuklapakça. margaçira. sahasra. catur çata. na/wati dwa.

ikang sakākala irikang lawasnya dwa warça rasika mangawak[k]i sinuhun kadyācaryā-gama rasul. rinat sundabhumi.i sedeng ira sunan kalijaga ing jawa wétan. ri huwus i ka ginantyaken dé[n]nira panembahan ratu. ya ta putu ning pha dillah. putra nira pangéran su10 warga. ikang dumadi dipati carbon prathama apan rama nira sang dipati wus séda rumuhun. ing sahasra patangatus walung puluh pu njul pitu ikang sakākala.

Susuhunan (Sunan) Jati Carbon ialah Syeh Maulana Syarif Hidayatullah mangkat pada tanggal duabelas paruh gelap bulan Badra tahun 1490 Saka (= 1568 Masehi). Kemudian dimakamkan di puncak Gunung Nur Ciptarengga. Setelah itu menantu beliau ialah Maulana Phadillah Khan al Gujarat.

Selama dia menjadi raja pendita tinggal di Carbon ialah dua tahun. Menurut kitab itu,dua tahun kemudian meninggallah menantu beliau ialah Phadillah Khan pada paruh terang bulan Margasira tahun 1492 Saka (= 1570 Masehi). Di sana lamanya dua tahun, beliau mewakili Sinuhun (Jati) sebagai guru agama Rasul, di bumi Sunda, sedangkan Sunan Kalijaga di Jawa Timur.

Setelah itu digantikan oleh Panembahan Ratu, cucunya Pha dillah, putra Pangeran Su10 warga, yang menjadi dipati Carbon pertama, sebab ayahnya sang dipati telah wafat lebih dahulu pada 1487 tarikh Saka(= 1565 Masehi).

Jelaslah, dari keterangan Pustaka Negarakretabhumi menunjukkan, bahwa antara Sunan Gunung Jati dan Fatahillah merupakan sosok yang berbeda. Maulana Fadillah Khan berasal dari Gujarat adalah menantu Syehh Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Syarif Hidayatullah; Sayid al Kamil

Menurut catatan kitab itu pula, Syarif Hidayatullah yang telah memeroleh nama Sayid al Kamil dari gurunya di Mekah. Kemudian pergi ke Pulau Jawa. Dalam perjalanannya berhenti di Gujarat dan Pasai. Di Pasai beliau tinggal di keluarganya, yaitu Sayid Ishak yang pernah menjadi guru agama Islam di Blambangan.

Setelah dua tahun berguru di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa dan berhenti di Banten. Di sini masyarakat telah banyak yang memeluk agama Islam yang diajarkan oleh Sayid Rahmat Ali atau Sunan Ampel.

Kemudian beliau pergi ke Ampel dengan menumpang perahu nelayan dari Jawa Timur. Pada waktu itu seluruh wali Pulau Jawa ada di sana. Mereka masing-masing diberi tugas mengajarkan agama Islam kepada penduduk di wilayahnya yang masih menganut agama Siwa-Budha.

Syarif Hidayat mendapat tugas di Gunung Sembung bersama uwanya Haji Abdullah Iman. Dipati Keling dengan pasukannya yang berjumlah 98 orang, telah diislamkan di Gunung Sembung oleh Syariph Hidayat. Selanjutnya beliau mendirikan pondok di sana.

Tumenggung Carbon

Tidak berapa lama antaranya, Syarif Hidayatulah dinobatkan oleh uwanya Pangeran Cakrabuana menjadi Tumenggung Carbon dengan gelar Sunan Jati. Wali sanga menyambut gembira dengan penobatan ini. Dengan demikian wali sanga memberi kekuasaan kepada Sunan Jati menjadi Panetep Panatagama Islam di Bumi Sunda. Pakwan Pajajaran tinggal di Carbon sebagi pengganti Syekh Nurul Jati.

Beliau tinggal di Keraton Pakungwati bersama uwanya Pangeran Cakrabuana, sebagai sesepuhnya. Meski demikian kerajaan itu tetap di bawah perintah Pakwan Pajajaran, sebab tiap tahun memberi upeti garam dan terasi. Sunan Jati telah lama tidak memberi upeti. Karena telah merundingkan dan disetujui oleh Kuwu Carbon, Dipati Keling, semua Ki Gedheng, dan para pemimpin wilayah.

Oleh karena itu Raja Pajajaran memerintahkan Tumenggung Jagapaya dengan 60 orang balatentaranya untuk menyerang Carbon. Tetapi Tumenggung Jagabaya dengan balatentaranya malah memeluk agama Islam. Tidak berani menyerang sebab di sana ada Pangeran Cakrabuana yang besar pengaruhnya.***Nurdin M.Noer 

Rujukan :

Wildan, Dadan Sunan Gunung Jati,antara Fiksi dan Fakta, (Humaniora, 2003).
Wangsakerta, Pangeran Pustaka Negarakretabhumi (1670)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.