Fenomena Ahok dalam Dilema Agama dan Politik

0 76

BANYAK – tokoh agama, akhirnya tegas menyatakan permohonannya, agar Kepolisian Republik Indonesia, segera memproses hukum Ahok atas tuduhan penistaan agama. Hanya Buya Safi’i Ma’arif dan Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menurut beberapa berita beredar, yang tegas menyatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Sementara itu, kumpulan para ulama yang tergabung dalam MUI, dengan tegas menyatakan bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama.

Selain tokoh agama, banyak juga tokoh masyarakat, menyarankan agar Ahok ditetapkan sebagai tersangka, minimal Jum’at 4 Nopember 2016, pukul enam pagi. Dalam Jak TV, Kamis Dini Hari, yang diikuti Zulkifli Hasan dari PAN, Soepriyatno anggota DPR dari Gerindra asal Jatim II, pengamat politik dan militer, Ikrar Nusa Bakti dan, salah seorang tokoh PDIP sendiri yang hadir dalam acara dimaksud, tampak mulai tidak nyaman atas situasi nasional kebangsaan Indonesia hari ini. Tokoh PDIP malah memberi statement yang cukup menarik, yakni suatu keharusan melakukan proses percepatan hukum atas tuduhan dimaksud, apakah P19, P21 atau SP3K.

Tokoh dari PDIP itu bahkan menyatakan bahwa, proses persegeraan dimaksud, dibutuhkan untuk menjamin kenyaman bangsa. Misalnya, kasus Ahok belakangan ini, telah mendorong suatu asumsi bahwa seolah-olah Islam dan Pancasila ber-versus, atau Pancasila dipandang harus dinegasikan dengan Islam. Ini bahaya katanya. Pernyataannya ini, seperti membenarkan apa yang pernah dinyatakan JK beberapa hari lalu, yang mengatakan bahwa Pancasila lahir dari Masjid.

Statemen SBY

Ada yang tidak biasa dengan SBY dalam menyikapi dinamika sosial Jakarta dan bahkan nasional Indonesia hari ini. Sehari pasca kunjungannya ke kediaman JK, SBY membuat pernyataan yang bukan saja tampak sangat tulus, tetapi juga menunjukkan sikap tegas, bahwa diri dan Partai Politiknya, tidak sedang memainkan peran, atau ikut nunggang popular melalui fenomena Ahok ini. SBY tampak ingin menyarankan bahwa pemerintahan Jokowi-JK, lebih baik fokus bekerja dan tidak terlalu mudah menuduh pihak lain, sebagai aktor di balik atau di belakang demonstrasi Jakarta, pada 04 Nopember besok. SBY juga menyiratkan bahwa, betapa suasana akan semakin sulit diukur, jika Ahok tidak segera ditangani secara serius oleh pihak berwajib.

Pernyataan semacam ini, tentu bukan hanya datang dari SBY. Ketua Umum PAN, para petinggi Gerindra seperti dapat dilihat dari pernyataan Fadli Zon dan Soepriyatno serta Ketua Umum PKS Sohibul Iman, menyatakan hal yang sama. Mereka pada umumnya mengatakan bahwa eskalasi nasional yang tampak memanas belakangan ini, bukan bermotif politik, tetapi, murni karena keyakinan keagamaan. Langgam ini, dalam terminology SBY dan tokoh-tokoh masyarakat tadi, tidak mungkin mau dibeli  oleh uang atau hanya kepentingan politik sesaat. Di berbagai dunia, banyak manusia yang rela mati demi mempertahankan akidah atau keyakinannya.

Ke mana akhirnya situasi ini berjalan. Mampukan politik pencitraan yang kembali dimainkan Jokowi dengan cara bertemu Prabowo, tokoh-tokoh ulama dari NU dan Muhamadiyah, meredam siatuasi nasional yang memanas ini. Dilihat dari gejalanya, tampaknya agak sulit. Mengapa? Karena, mereka yang berencana untuk hadir melaksanakan demo besok, sedikit yang memiliki akar historis dengan elemen-elemen di atas. Jadi, memang agak sulit dianalisa akhirnya. (ALY)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.