Connect with us

Psikologi

Fenomena Kawin Paksa

Ali Alamsyah

Published

on

Fenomena Kawin Paksa. Agama diturunkan oleh Tuhan dalam konteks penyempurnaan manusia dalam menjalankan kehidupannya, baik fisik maupun psikis. Artinya ajaran agama tidak ada yang bertolak belakang dengan nilai nilai kemnusiaan. Kebebasan adalah salah satu nilai kemanusiaan yang asasi, baik dalam memilih, menentukan dan berbuat dalam koredor yang positif. Salah satu kebebsan yang menjadi hak asasi manusia adalah menentukan pasangan jodohnya. Islam tetap melindungi hak hak dasariah mansuia dalam segala hal, salah satunya adalah dalam menentukan jodoh. Dalam hal ini, kawin paksa sejatinya tidak dapat dilakukan hanya dengan dalih kemaslahatan yang bersangkutan. Kawin paksa yang telah berlangsung pada masa lalu, sesungguhnya tidak dikehendaki sebagai legitimasi bagi orang tua untuk merampas kebebasan dan hak anak perempuannya dalam menentukan pilihan jodohnya. Hal tersebut hanyalah sebagai langkah dini bagi orang tua dalam mendidik, mengajari putrinya agar nantinya tidak salah dalam menggunakan  haknya, salah satunya dalah dalam memilih pasangan hidup.

Globalisasi informasi dan teknologi  sebagai era perubahan masyarakat dari agraris ke industrialis, telah mampu memacu percepatan penyadaran manusia akan hak hak dasariahnya, di dalamnya   termasuk hak-hak asasi perempuan. Upaya memperjuangkan hak-hak perempuan yang bertujuan menempatkan perempuan dalam proporsinya secara wajar tersebut ternyata mendapat tantangan hebat bahkan dianggap telah merongrong tradisi budaya dan konsep-konsep agama yang rigid, resisten terhadap perubahan, dan yang mengakar kuat dalam masyarakat.

Problematika hukum di era modern ini, berkembang secara pesat dan beragam. Oleh karenanya, kebutuhan terhadap pendekatan (approach) dan metodologi (methodology) yang lebih dinamis, fleksible dan responsif adalah suatu keniscayaan.  Dalam konteks inilah kesempatan untuk menampilkan sosok hukum Islam-termasuk hukum perkawinan-yang humanis serta inklusif. Artinya hukum Islam-sebagai penjabaran dan aplikasi aktual syari’ah-haruslah diterjemahkan dengan mengikuti semangat zaman dan kemanusiaan. Sehingga, inner-dinamicnya sebagai hukum untuk manusia tidak akan kehilangan konteksnya.

Di antara langkah langkah konkrit yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan disiplin ilmu-ilmu lain (ilmu sosial dan humaniora) dalam pengkajian hukum Islam, khususnya yang menyangkut masalah perkawinan. Oleh karena itu, dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis, tulisan ini hendak mengkaji salah satu masalah  yaitu tradisi kawin paksa (ijbâr) dan hak wanita dalam menentukan jodohnya.

Dalam Artikel Selanjutnya Akan dibahas Perkawinan dan Konstruksi Perubahan Sosial, pembahasan mendalam tentang Nikah Paksa (ijbâr) dalam Lintasan Literatur Hukum Islam. Lalu  bagaimana Perkawinan Perspektif Humanistik? dan Fenomena Kawin Paksa yang berpengaruh besar, kemudian Dampak  Kawin Paksa Terhadap Perempuan.

Oleh : Ahmad Munir

Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Continue Reading
6 Comments

6 Comments

  1. Avatar

    muhamad rida

    21-09-2016 at 14:47

    setahu saya dalam kitab Fathul Mu’in juga ada tentang nikah. bila si istri merasa terpaksa dan tidak mau maka hukum pernikahannya itu tidak sah. dan yang saya bingungkan bagaiamana jika ada salah seorang santri yang disuruh menikah bahkan dijodohkan oleh kiyainya, terus kita enggan menikah terlebih dahulu, bagaimana solusinya?. soalnya ini masalah takdim(nutut, taat) atau tidaknya kita kepada kiyai.

  2. Avatar

    muhamad rida

    21-09-2016 at 14:38

    bagaimana jika seperti kasus pondok pesantren, yang terkadang ada saja oleh seorang gurunya untuk segera menikah, bahkan dijodohkan tetapi si santri enggan untuk menikah dulu. apa yang harus kita lakukan bila kita berada di posisi menjadi santri?? soalnya ini masalah takdim atau tidaknya kita terhadap guru/kiyai. terima kasih.

  3. Avatar

    Diaz Ayu Sudwiarrum

    17-09-2016 at 08:25

    Diaz Ayu Sudwiarrum
    1415104029
    Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial A/3
    IAIN Syekh Nurjati Cirebon

    Fenomena kawin paksa yang terjadi di Indonesia perlu menjadi persoalan yang harus dipecahkan, karena kebebasan menentukan pasangan termasuk dalam hak asasi manusia, dimana seorang perempuan berhak menentukan pilihan jodohnya. Orang tua boleh ikut andil dalam menentukan pasangan hidup anaknya, akan tetapi tidak semerta-merta mencarikan, memilihkan lalu memaksakan. Akan tetapi, orang tua dan anak harus saling memahami satu sama lain karena setiap perasaan seseorang itu berbeda meskipun tujuan nya sama , memang dari fenomena ini orang tua kita mencarikan pasangan untuk kita yang terbaik dalam hal materi ataupun moral tetapi bagaimanapun perasaan tetaplah yang utama, anakpun bisa memilah dan memilih bagaimana kriteria terbaik untuk pasangan pas untuk nya. solusi terbaik adalah membiarkan anak mencari nya sendiri dengan catatan kita sebagai orang tua tetap memantau atau mengawasi lalu memberi nya arahan jika itu adalah hal yang tidak baik/baik.

  4. Avatar

    Intan

    16-09-2016 at 14:57

    apakah tidak menikah juga paksaan?

    • alialamsyah

      alialamsyah

      16-09-2016 at 15:13

      tidak menikah itu terpaksa lebih ke pilihan pribadi (individu masing-masing)

  5. Avatar

    fani zahratunisa

    15-09-2016 at 23:11

    Semoga tak penimpaku dan tidak menimpa perempuan lainya…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.