Fenomena Kawin Paksa

0 77

Fenomena Kawin Paksa. Agama diturunkan oleh Tuhan dalam konteks penyempurnaan manusia dalam menjalankan kehidupannya, baik fisik maupun psikis. Artinya ajaran agama tidak ada yang bertolak belakang dengan nilai nilai kemnusiaan. Kebebasan adalah salah satu nilai kemanusiaan yang asasi, baik dalam memilih, menentukan dan berbuat dalam koredor yang positif. Salah satu kebebsan yang menjadi hak asasi manusia adalah menentukan pasangan jodohnya. Islam tetap melindungi hak hak dasariah mansuia dalam segala hal, salah satunya adalah dalam menentukan jodoh. Dalam hal ini, kawin paksa sejatinya tidak dapat dilakukan hanya dengan dalih kemaslahatan yang bersangkutan. Kawin paksa yang telah berlangsung pada masa lalu, sesungguhnya tidak dikehendaki sebagai legitimasi bagi orang tua untuk merampas kebebasan dan hak anak perempuannya dalam menentukan pilihan jodohnya. Hal tersebut hanyalah sebagai langkah dini bagi orang tua dalam mendidik, mengajari putrinya agar nantinya tidak salah dalam menggunakan  haknya, salah satunya dalah dalam memilih pasangan hidup.

Globalisasi informasi dan teknologi  sebagai era perubahan masyarakat dari agraris ke industrialis, telah mampu memacu percepatan penyadaran manusia akan hak hak dasariahnya, di dalamnya   termasuk hak-hak asasi perempuan. Upaya memperjuangkan hak-hak perempuan yang bertujuan menempatkan perempuan dalam proporsinya secara wajar tersebut ternyata mendapat tantangan hebat bahkan dianggap telah merongrong tradisi budaya dan konsep-konsep agama yang rigid, resisten terhadap perubahan, dan yang mengakar kuat dalam masyarakat.

Problematika hukum di era modern ini, berkembang secara pesat dan beragam. Oleh karenanya, kebutuhan terhadap pendekatan (approach) dan metodologi (methodology) yang lebih dinamis, fleksible dan responsif adalah suatu keniscayaan.  Dalam konteks inilah kesempatan untuk menampilkan sosok hukum Islam-termasuk hukum perkawinan-yang humanis serta inklusif. Artinya hukum Islam-sebagai penjabaran dan aplikasi aktual syari’ah-haruslah diterjemahkan dengan mengikuti semangat zaman dan kemanusiaan. Sehingga, inner-dinamicnya sebagai hukum untuk manusia tidak akan kehilangan konteksnya.

Di antara langkah langkah konkrit yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan disiplin ilmu-ilmu lain (ilmu sosial dan humaniora) dalam pengkajian hukum Islam, khususnya yang menyangkut masalah perkawinan. Oleh karena itu, dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis, tulisan ini hendak mengkaji salah satu masalah  yaitu tradisi kawin paksa (ijbâr) dan hak wanita dalam menentukan jodohnya.

Dalam Artikel Selanjutnya Akan dibahas Perkawinan dan Konstruksi Perubahan Sosial, pembahasan mendalam tentang Nikah Paksa (ijbâr) dalam Lintasan Literatur Hukum Islam. Lalu  bagaimana Perkawinan Perspektif Humanistik? dan Fenomena Kawin Paksa yang berpengaruh besar, kemudian Dampak  Kawin Paksa Terhadap Perempuan.

Oleh : Ahmad Munir

Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Komentar
Memuat...