Fenomena Pembunuhan Karakter Bangsa | Membela Kebenaran Part-1

0 67

FENOMENAL– Munculnya kasus Basuki Tjahaja Purnama (AHOK) sungguh sangat luar biasa dalam sorot lensa publik dunia. Terlebih saat yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka, dan sekarang berkas kasus dimaksud sudah dilimpkahkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk diproses lebih lanjut, apakah dia akan menjadi terdakwa atau tidak! Banyak kalangan saat ini sedang menghitung dua jari tangan, antara ditetapkan atau tidak.

Fenomena menarik atas munculnya kasus Ahok tersebut, masih banyak yang belum diangkat ke publik. Salah satunya adalah fenomena Pembunuhan Karakter yang dilakukan baik oleh pihak Ahok maupun pihak yang merasa terlecehkan atas pernyataan Ahok. Tampaknya, apa yang dilakukan para pendukung Ahok atas pembunuhan karakter dimaksud, dilakukan sebagai bagian dari pembentukan opini guna menjatuhkan pihak lawan — dalam hal ini tentu mereka yang dianggap menyudutkannya. Patut diduga jika Ahok memiliki banyak akses ke media masa; cetak dan elektronik, sehingga proses pembentukan opini untuk melakukan pembunuhan karaktet dimaksud, bukan hanya sekedar kasat mata tetapi eskalasinya semakin massif.

Dikutip dari Wikipedia.com (27/11/16), “Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah usaha-usaha untuk mencoreng reputasi seseorang atau sekelompok orang. Tindakan semacam ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju. Pembunuhan karakter merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik dan dapat berupa argument ad hominem.

Istilah semacam ini, umumnya sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa di mana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang lain”. Terhadap fenomena ini, akhirnya muncul beberapa kasus susulan menonjol, diantaranya:

MUI Harus Direformasi?

Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Imam Aziz dan tentu banyak pemikir yang relatif sama dengannya menilai, bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus segera direformasi. Pasalnya sejumlah masalah keagamaan yang muncul belakangan ini, justru berasal dari MUI. Karena dengan keluarnya fatwa MUI tentang kasus Ahok, dianggap telah menimbulkan kegaduhan nasional. Maka dengan nalar itu, MUI harus direformasi. Mungkin masih perlu tabayyun, apa betul itu posisi terkini PB NU tentangg MUI? Poinnya, apakah betul MUI adalah penyebab kegaduhan. Apakah dengan penyebutan narasi semacam ini, patut untuk disebut membenarkan bahwa MUI yang salah. Mengapa tidak ada analisa lain yang menyatakan justru yang menjadi sumbu utama adalah Ahok.

FPI Harus Dibubarkan?

Belum lama ini ada pernyataan dari Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PP PSNU) Aizuddin Abdurrahman atau yang sering disapa dengan Gus Aiz bahwa FPI telah merusak citra Islam. Gus Aiz mengungkapkan ada dua alasan atas desakannya itu: Pertama, FPI telah merusak citra Islam dengan tindakan-tindakan yang sudah dilakukannya, dan kedua FPI dianggap merusak keberagaman kehidupan beragama yang sudah tertata. Lagi-lagi perlu tabayyun. Apa betul itu posisi terkini PB NU tentang FPI?

Kemudian diikuti oleh pembentukan FPI yangg lain, yaitu Front Pembela Indonesia. Siapapun bisa menyimpulkan opini apa yang sedang dibangun. Poinya, bahwa FPI (yg pertama) adalah penyebab perpecahan dan anti kebinekaan. Apa betul? Lalu bagaimana situasi ini dapat kita tempatkan secara proporsional

Zulkifli Hasan Tidak Layak Menjadi Ketua MPR?

Seorang mantan Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid mengomentari tanggapan Ketua MPR Zulkifli Hasan tentang penetapan Buni Yani sebagai tersangka lewat akun facebooknya : Intinya ZH tidak faham hukum, sehingga tidak layak jadi Ketua MPR.

Saya secara pribadi, tampaknya penting mencermati dinamika ini dengan melihat keterangan al Qur’an Surat  al-Baqarah [2]: 12 yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang2 yg membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS: Al Baqarah:12). Karena itu, menjadi kewajiban setiap Muslim untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, bukannya saling menghujat dan menjatuhkan jangankan di antara warga bangsa yang berbeda, tetapi bahkan hanya di kalangan masyarakat Muslim sendiri. Saatnya bangkit dan bersatu untuk kejayaan Negeri, Damailah Indonesia ku..!! ** Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd (kandidat Doktor UPI Bandung)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.