Film “Baridin dan Ratminah”: Aroma Mistis di Gedung Bioskop Blitz

1 244

 Film Baridin dan Ratminah Aroma Mistis di Gedung Bioskop Blitz. Meski tanpa asap kemenyan yang tebal dan menyengat, namun gedung film “Blitz” di atas lantai III sebuah mall di Cirebon (Kamis, 25/8) terasa aroma mistisnya. Sebagian penonton begidik dan menahan nafas, ketika Baridin sang pemuda belantara membacakan mantra “Jaran Guyang” untuk kekasihnya yang cintanya tertolak. Kisah cinta dalam drama tarling yang diunggah awal 1980an itu masih dikenang masyarakat Pantura Cirebon – Indramayu sebagai tongtonan yang menawan, sekaligus menghibur.

Penulis sendiri menggubah kisah tersebut pada sekira 1982an dalam bentuk puisi (balada) dengan judul  “Balada Baridin dan Ratminah”. Kini helaran tarling tersebut digubah menjadi cerita film oleh sutradara Sumbadi Sastra Alam. Ia adalah seorang aktivis teater yang pernah meraih gelar “Sutradara Teater Terbaik 1985” tingkat Jawa Barat  dan salah seorang murid Airifn C. Noer..

Kisah “Baridin dan Ratminah” merupakan dongeng “hitam-putih” antara si kaya dan si miskin. Ratminah (diperankan Farah) mewakili orang kaya desa dan Baridin (diperankan Muhammad Yusuf) si miskin yang nyaris tak memiliki harta apa pun, kecuali bajak (weluku, bahasa cerbon) sewaan yang dijadikan sebagai alat kerja untuk mencari nafkah.  Seperti cerita rakyat pada umumnya, memiliki alur yang sederhana.  Baridin putra “rangda sepocong” mbok Wangsih yang hidup sendirian di sebuah desa bagian utara Cirebon,  sedangkan Ratminah gadis cantik anak seorang petani kaya raya  bernama “Bapak Dam” di sebuah desa Kabupaten Brebes. Kecantikan Ratminah digambarkan sebagai seorang gadis bermata bulan tanggal empatbelas.

Ratminah, gadis bermata bulan tanggal empatbelas,

telah membuatnya bernapas kuda.

“Aku Baridin putra mbok Wangsih akan datang melamar

Ratminah putri tunggal bapak Dam !”

Demikian hatinya bicara.    

Kecantikan Ratminahlah yang membuat sang jejaka Baridin nekat melamarnya. Lamarannya pun sangat sederhana, berupa tiga biji pisang.

 Sebelum matahari karam dan peluh berhenti mengucur,

kakinya bergetar, ketika menginjak kerikil rumah bapak Dam.

“Pergi kau pemuda belantara !”, bentak bapak Dam,

ketika ia ajukan lamaran berisi tiga biji pisang.

Bagai seribu bajak kiri kanan di pundaknya,

tubuhnya tambah gemetar, ketika ia menatap sorot mata

lelaki tua itu, kemudian undur seribu langkah.

Malamnya, ketika dilihatnya bintang pucat tak bercahaya

ketika bulan sabit mulai tenggelam.

Baridin, pemuda belantara membuka mantera tua

“jaran guyang” yang diberi temannya dari kitab lama.  

Dunia mistik, seperti banyak digambarkan penulis tentang Cirebon merupakan gumpalan karakter masyarakat yang menyatu dengan daya imajinasi keseharian masyarakat Cirebon.

Mereka dikenal di seluruh Jawa, kata Abdurachman (1982),  sebagai suku bangsa yang cepat tersinggung dan introvert  – diartikan sebagai kurung batok, pen. Mereka mempunyai kecenderungan kuat ke arah mistik dan asketik  (mengarah pada pertapa atau sufi, pen). Hal mana sering terungkap dalam keadaan kesurupan, yang merupakan pelepasan bagi jiwa mereka.

Bisa  jadi kegemaran terhadap masalah mistik bagi wong Cerbon telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Malah kegemaran yang satu ini seringkali jadi mainan saat iseng pada acara santai di malam bulan purnama.  Menggelar acara sintrenan yang biasa dilakukan anak-anak remaja di perdesaan, sudah jadi kebiasaan keseharian yang tak bisa dilepaskan begitu saja.

Meski demikian, pandangan mistis ini tidak  terjadi pada masyarakat Cirebon secara keseluruhan pada masa kini. Kegiatan mistis hanya bertahan pada pusat-pusat kebudayaan masa lalu yang kini masih hidup. Di lingkungan makam keramat, pesantren, keraton, perguruan-perguruan silat tradisional  dan tempat-tempat lain yang “eksklusif” sifatnya  (Noer, 2009).  Tak aneh memang, jika dalam kondisi disorientasi mereka melakukan tindakan mistis seperti penggunaan mantra atau guna-guna, pelet dan sebagainya sebagai pelepasan kegelisahannya.

“Aku berniat mengguna-guna// bukan mengguna-guna kuda besi

bukan pula mengguna-guna kerbau luka// bukan pula mengguna-guna sapi gila// bukan pula mengguna-guna jin atau setan// tetapi aku akan mengguna-guna anak manusia// bernama Ratminah, anak bapak Dam,

kalau ia tidur, bangunkan// kalau ia bangun, dudukkan

kalau ia duduk, suruh berdiri// kalau ia berdiri, suruh jalan dan…………….lari-lari// seperti kuda belum mandi

gila……..gila……….gila……….

disebutnya mantera itu

tiga kali.

Malam ke empatpuluh sejak nasibnya dibuntu Tuhan//Ratminah bangun, bagai disumpal tahi kuda// Bingung, ditatapnya tiang-tiang kurapan rumahnya.

Terasa asing, tersiksa ;

“Inikah neraka,” pikirnya.

Pada lidahnya yang terjulur,// tertata huruf, “Baridin aku cinta.”

Ia telah gila.

Sebuah bajak masih terbaring di pundak,// ketika angin mendengar sumpah, disaksikan berjuta serangga.// “Ratminah kini gila, aku tak cinta !”

Masih disandang bajak di pundaknya,

menghias duka orang gila.

Film ”Baridin dan Ratminah”  dianggap sebagai kebangkitan industri film lokal  yang langka di Indonesia. Berbeda dengan India, film sudah menjadi home industry yang mampu menghidupi masyarakat setempat. Sastra (cerita) sebagai produk kebudayaan memiliki penghargaan antara jagat bawah dan atas, antara mikrokosmos dengan makrokosmos,  antara jagat cilik dan gede,  antara manusia dan kehidupan sosial dan agama serta Tuhan sang Pencipta,  bisa dijadikan ide dalam penciptaan cerita film.

Para pemain film ini seluruhnya diborong para pegiat teater, seperti Dian Hermana Susanty (Mbok Wangsih merangkap produser),  Ali Bustomi (tukang palak/ramal),  Darsono (Bapa Dam), Dino Syahrudin (kyai), Ade Sumpena (sesepuh desa) lan Dakila (jejaka penggoda Ratminah).***

Oleh NURDIN M. NOER

Wartawan Senior, Pemerhati Kebudayaan Lokal

Rujukan :

  • Abdurachman,  Paramita R (Cerbon,  Sinar harapan 1982).
  • Noer, M. Nurdin (Menusa Cerbon, Disporabud Kota Cirebon dan Walatra 2013).
  • Noer, M. Nurdin (Balada Baridin dan Ratminah, Pikiran Rakyat edisi Cirebon,  1982).

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Anonim berkata

    Visitor Rating: 5 Stars

  2. Admin berkata

    Visitor Rating: 2 Stars

  3. Nurul Fikri berkata

    Film ini penuh nuansa mistis, bagaimana sebuah pertikaian batin, adat dan budaya yg seblumnya tidak terpikirkan kini disajikan dalam visual. Budaya seperti ini masih ada gak yah kiranya?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.