Inspirasi Tanpa Batas

Filosofi Perubahan | Problem Pilihan Part 1

0 28

Konten Sponsor

Filosofi Perubahan. Apa yang dipilih belum tentu yang terbaik. Logika terbaliknya, yang tidak dipilih belum tentu yang terburuk. Memilih adalah impreshing [kesan] subjektif yang dimiliki seseorang pada waktu tertentu dan dalam keadaan tertentu pula. Idealitas suatu pilihan, karena itu tidak berlaku universal.

Baiknya atau buruknya sebuah pilihan, karena itu hanya akan berlaku pada apa yang dipilih di ruang dan di batas waktu tertentu. Karena itu, kegiatan memilih seharusnya rasional dan dijarakkan sekuat mungkin dengan pendekatan mistik.

Artinya, dalam ruang dan waktu yang berbeda, suatu pilihan yang telah disebut baik, belum tentu selamanya tetap baik. Kebaikan sangat mungkin berubah ketika waktu dan ruang berubah. Dalam teori Filsafat Ilmu, hal ini dikenal dengan istilah kebenaran relatif.

Ruang dan waktu juga sama. Ia memiliki kebenaran yang relatif. Yang selalu mutlak dan pasti adalah perubahan itu sendiri. Yang sulit bagi kita saat ini adalah, tetap mempertahankan suatu pilihan yang pernah kita anggap baik. Suatu keyakinan yang dulu pernah dianggap ideal.

Rentang waktu dan pusaran ruang yang kita lewati, secara langsung akan mendorong diri kita untuk mengenal lebih jauh akan idealitas sesuatu di luar waktu dan ruang kita. Karena itu, semakin seseorang memiliki tingkat pergaulan yang heterogen, akan semakin tinggi pula kemungkinan seseorang, melakukan perubahan.

Problem Pilihan

Jika anda tidak ingin berubah pada apa yang anda pilih, maka, rumusnya hanya satu. Anda tidak boleh banyak bergaul dan banyak melakukan perjalanan dalam rentang ruang yang berbeda. Kesanggupan kita meramal kokohnya suatu pilihan akan menjadi penentu, lama atau sebentarnya pilihan yang kita pakai atau kita gunakan.

Probelm pilihan akan terasa sangat sensitif, ketika definisi pilihan itu diterapkan kepada pasangan hidup kita. Baik suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Jangan tanya kalau pilihan itu diperoleh dengan cara yang tidak pernah dipilih. Misalnya, ia dijodohkan. Sangat mungkin ia akan cepat sekali mengalami perubahan; baik ke arah positif maupun ke arah yang negatif.

Pilihan juga akan sangat mungkin berubah, ketika kita secara nalar belum waktunya memilih. Misalnya, saat kita masih sangat remaja, kita dipaksa untuk menentukan pilihan. Padahal, pengalaman dan pendidikan yang kita peroleh pada saat memilih itu, belum memiliki ruang untuk memilih.

Pada apa yang dipilih karena kita memilihnya dengan anggapan baik dan ideal saja, belum tentu tetap mampu mempertahankannya. Akan selalu ada celah, ruang dan suasana yang masuk ke dalam bilik diri kita, bahwa sesuatu yang telah kita pilih layak untuk dikritisi.

Apakah salah? Belum tentu …. ! Tetapi yang pasti, itulah dinamika. Yang diperlukan kita adalah adaftasi terhadap perubahan. Caranya? Ya memperbanyak nalar … ? Hidup tanpa nalar, selesailah semuanya dalam ketidakbaikan. By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar