Filsafat Metafisika Khusus | Part – 4

Filsafat Metafisika Khusus | Part - 4
0 1.341

Cabang Filsafat Metafiisika yang kedua adalah Metafisika khusus. Metafisika Khusus adalah cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Persoalan eksistensi ketiga persoalan inilah yang telah menjadi dialektika menarik sejak awal kelahiran filsafat di Yunani Kuna hingga era modern sekarang ini. Secara sederhana, setidaknya ada tiga pokok soal yang menjadi kajian metafisika khusus. Ketiga bidang kajian dimaksud adalah: kosmologi, teologi dan antropologi.

Filsafat Kosmologi

Kosmologi berasal dari kata cosmos dan logy (B. Yunani). Kata kosmos secara sederhana dapat diartikan ketertiban atau keteraturan. Dalam istilah Yunani, dikenal ada sebutan alam yang teologis. Artinya, alam berkembang dan berjalan dalam ritme yang sangat teratur. la merupakan lawan dari kata chaos (kacau balau dan tidak tertib). Sedangkan logy (logos) berarti percakapan atau ilmu. Dengan demikian, kosmologi adalah ilmu yang membahas tentang alam fisik atau jagad raya (cosmos). Dari pengertian tadi, dapat pula disebutkan bahwa kosmologi akan menjadikan alam sebagai objek utama penyelidikan.

Kosmologi memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka yang koheren Persoalan yang sering dibahas dalam aliran ini adalah mengenai ruang, waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan- kemungkinan dan keabadian. Metode yang digunakannya bersifat rasional.

Secara sederhana, kosmologi adalah cabang filsafat yang membicarakan hakikat atau asal usul alam semesta. Kosmologi berhubungan dengan konsep seperti itu. Kosmologi merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada, karena ruang dan waktu merupakan keadaan yang nyata dan yang paling dalam (Louis O. Kattsoff, 1982: 260).

Kosmologi membagi alam pada dua jenis penyelidikan Pertama, alam fisika dijadikan sebagai objek penyelidikan kefilsafatan. Istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, misalnya ruang dan waktu; Kedna, pra anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu tentang jagad raya. Pembahasan ini tentu melihat alam dalam perspektif yang pertama. Sebab alam dalam perspektif yang kedua, masuk dalam wilayah kajian fisika sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan telah tercerabut dari filsafat sebagai indu pengetahuan.

Ruang dan Waktu dalam Filsafat

Dalam konteks kefilsafatan, ruang dan waktu dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Terdapat ruang kosong yang luas sekali. Di alam yang sangat luas itu terbatang trilyunan bintang-bintang yang satu dengan yang lainnya memiliki jarak yang sangat luas sehingga memiliki ruang dinamika yang khas; 2) Setiap ruang mempunyai tiga matra; dan 3) Tidak akan ada tempat jika tidak ada ruang. Aliran ini tampaknya dipengaruhi Isac Newton yang menganggap bahwa ruang dan waktu adalah sesuatu yang mutlak.

Pemikiran Newton di atas dibantah Immanuel Kant yang dimatangkan Samuel Alexander. Dua tokoh terakhir ini menyatakan bahwa ruang dan waktu bukan sesuatu yang mutlak. Menurut mereka, pengetahuan ruang dan waktu senantiasa didasarkan atas pengalaman inderawi yang di dalamnya akal mengambil bagian. Manusia tidak mungkin menjangkau suatu objek tertentu tanpa dilalui melalui proses inderawi dan proses akiiyah. Bagi dua tokoh terakhir ini, ruang tidak dapat ditentukan dan ia bersifat tidak mutlak.

Aliran ini mengkaji eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama. Eksistensi atau perwujudan Tuhan dibahas secara rasional dalam perspektif kefilsafatan dan sekuat mungkin melepaskan diri dari pendekatan teologi seperti selama lazim digunakan kaurn agamawan. Konsekwensi atas dibahasnya Tuhan dalam perspektif tadi, maka ia telah menjadi objek sistem filsfat yang perlu dianalisis dan dipecahkan melalui metode ilmiah dengan pendekatan ilmiah dan filsafat. Tuhan dilepaskan dari doktrin-doktrin agama.

Tuhan dalam Aliran Metafisika

Dan jika Tuhan dilepaskan dari kepercayaan agama, hasil analisis dan pembahasan yang diperoleh tentang-Nya dapat berupa. Pertania, Tuhan tidak ada, karena sistem kefilsafatan sejak zaman Yunani sampai pada era Barat Modern, masih mengandalkan sumber kebenaran berasal dari fakta-fakta empiris yang kongkret dan rasional. Karena faham yang dianutnya empiris dan rasional, sementara Dzat Tuhan sulit memperoleh pembenaran empiris karena la tidak berbentuk benda dan tidak mungkin dijangkau proses inderawi, maka la dianggap tidak ada. Pendapat ini jika dikaitkan dengan aliran yang terdapat dalam kajian metafisika umum, masuk pengikut faham materialisme.

Kedua, sulit menemukan kepastian ada atau tidak adanya Tuhan, karena sekalipun rasionalisme merupakan sumber pengetahuan, tetapi tidak akan mampu menunjukkannya dalam fakta yang empiris. Sementara filsafat dan ilmu pengetahuan mensyaratkan adanya fakta, karena kebenaran ilmiah adalah kebenaran faktual-empiris. Kebenaran yang landasannya hanya pada aspek-aspek perasaan, doktrin dan keyakinan dianggap bukan sebuah kebenaran.

Ketign, Tuhan ada tanpa keharusan untuk dibuktikan secara rasional. Ia hadir dalam imajinasi manusia dan sulit memperoleh pembuktian rasional. Dalam perspektif ini, Tuhan diwujudkan dan dihadirkan serta diciptakan manusia. Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusia yang menciptakan Tuhan.

Keempat, Tuhan ada dengan bukti rasional. Kelompok ini menganggap meski Tuhan terwujud dalam bentuk yang non fisik, manusia dapat meyakini kebenaran-Nya melalui kreasi- Nya berupa alam dunia ini, serta berbagai keteraturan yang terdapat di dalamnya. Dan hasil yang terakhir inilah, ciri khas filsafat yang mencoba memadukan aspek empirik-rasional dan kehadiran sesuatu yang metafisis dan pembuktian rasional. Atau melalui pertimbangan-pertimbangan rasional.

Bagi penganut aliran metafisik-teologik, Tuhan ada dapat Ia dapat dibuktikan secara rasional. Seluruh makhluk di muka bumi ini merupakan cerminan dari cahaya Tuhan yang Maha Kudus dan Maha Kuasa atas segala yang ada. Pendapat ini dalam perkembangan selanjutnya mengkristal dalam aliran filsafat yang disebut monism.

Aliran Monisme

Aliran monisme telah ada dan bahkan termasuk persoalan filsafat yang kokoh dipertahankan masyarakat, meski rintangan terhadapnya demikian besar dan terkesan bertolak belakang dengan aliran filsafat formal yang ada. la menyatakan bahwa: yang mengada itu mengada; mustahil sekaligus tidak mengada. Andaikan ada kejamakan, itu terjadi lebih disebabkan karena terdapat perbedaan satu sama lain. Jadi, menurut Parmenides, mustahil ada perbedaan dan kejamakan. Adanya kenyataan yang seolah seperti itu hanya khayalan dan semu. Yang mengada hanya satu dan tidak terbagi; bersifat sempurna dan komplit bagaikan bola bulat.

Plotinus (204-270) dapat disebut sebagai pelanjut aliran ini. la berpendapat bahwa kenyataan terdiri dari yang satu, yang tunggal dan bersifat eternal. Yang satu itu bagaikan sumber melimpahkan ruh (nous); ruh kemudian memancarkan jiwa (psykhe); dan jiwa memancarkan materi. Dalam proses emanasi itu dihasilkan hal-hal yang kesempurnaannya semakin berkurang. Namun penjelmaan paling rendahpun tidak pernah terlepas dari kesatuan dengan Yang Satu.

Pemikiran Plotinus ini, tampaknya telah menjadi ilham yang sangat penting bagi lahirnya konsep emanasi (alfayd) yang dikeluarkan al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), dan Ibnu al-Farabi (1165-2140 M). Ketiga tokoll ini, termasuk filosof penting yang dilahirkan dunia Islam di era skolastik. Menurut mereka, kenyataan empiris adalah hasil kerja emanasi (faidh) dari Allah. Sernua manusia bersatu hanya dalam intelek aktif (akal fa’al). Aliran ini kemudian menyatakan diri sebagai teori monopsikisme. Atau menurut istilah Ibnu A1 Farabi, semua substansi bersatu dalam satu substansi ilahi, yang kemudian disebut Allah, menjadi kesatuan (mutlak). Dalam istilah yang dipakai Ibnu A1 Arabi wahdat al wujud. (Anton Bakker, 1982:

Di abad modern, filsafat metafisik teologik juga tetap diakui keberadaannya. Sigmun frued (1856-1939 M), meski ia sangat terkenal materialisme dan pengagum faham positivis, tetap juga mengakui keberadaan filsafat metafisik-teologik ini dalam kehidupan manusia. Frued menyatakan bahwa Tuhan sangat penting bagi manusia. Meskipun Tuhan sulit dicerna manusia melalui proses inderawi dan rasionalnya, Tuhan selalu tetap ada dan menjumpai manusia. Kehadiran Tuhan, menurut Freud, serendahnya berguna bagi manusia dalam tiga persoalan.

Tuhan Dibutuhkan dengan Alasan

Pertama, Tuhan harus dianggap sebagai penguasa alam. Menyembah Tuhan akan dapat mengatasi manusia dari segala bentuk kecemasan terhadap fenomena alam yang demikian dahsyat. Dalam beberapa hal, bahkan terkadang sulit dijangkau manusia.

Kedua, keyakinan agamis memperdamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, terutama kematian. Kematian adalah proses alamiah dan berarti di situ terdapat ketidakberdayaan manusia untuk “menahan” taqdirnya yang dalam beberapa hal harus dianggap sebagai keputusan Tuhan. Manusia sendiri tidak dapat menolaknya.

Ketiga, Tuhan memelihara dan menjaga agar ketentuan- ketentuan dan peraturan kultur akan dilaksanakan manusia. Berbagai keteraturan yang terdapat dan terjadi di alam, meski terjadi karena dinairtika kimiawi, tetapi juga sulit disangkal bahwa Tuhan tidak peran atasnya.

Selain itu, filsafat metafisik-teologik juga telah menempatkan Tuhan sebagai pusat segala sesuatu yang berada di balik keanekaragaman wujud alam ini. Stephen Palmquis berpendapat bahwa Tuhan dapat mempersatukan keaneka­ragaman. Menurut Stephen Palmquis, jika tidak ada yang dapat mempersatukan keanekaragaman yang biasanya muncul dari pengalaman insani kita dan dari pemikiran kita, kita akan berada dalam bahaya dan akan bernasib seperti Neitzsche dianggap palmquis sebagai tokoh telah mencabut akar pohon filsafat dalam rangka membangunkan manusia modern dari keterlelapan tidur di bawah naungan filsafat Socrates.

Daun-daun filsafat, menurut Stephen Palmquis berguguran seperti bergugurannya pendapat Neitzsche. Penalaran yang tidak dilandasi oleh realitas hakiki, menurutnya, akan berakhir tatkala pengalamannya sendiri runtuh dalam kegilaan menggemparkan yang tiada henti. Orang yang pencairan keilmuannya berakhir dalam kegilaan itu, tidak bersentuhan lagi dengan realitas yang membuat pencarian itu berguna. (Stephen Palmquis/ 2004: 383).

Metafisika Khusus

Ada pertanyaan yang menyebutkan, “Kamu tidak dapat mengubah watak manusia”. Pernyataan ini sering ditolak kaum reformer dan para ahli pendidikan. Sebab jika benar bahwa manusia tidak dapat dirubah, maka pendidikan dan upaya perubahan masyarakat menjadi sangat sia-sia. Ungkapan bahwa manusia tidak dapat dirubah wataknya, akan menjadi lambang dari suatu ucapan putus asa dan suatu alasan yang sangat mudah untuk bersikap masa bodoh terhadap kekalutan dunia. Walaupun begitu, kata-kata itu mempunyai aspeknya yang positif. Mengatakan bahwa watak manusia tidak dapat diubah berarti bahwa watak manusia tersebut adalah berharga. Demikian Joseph Wood Krutch berkata yang kemudian dikutif Titus, Smith dan Nolan. (Titus, Smith dan Nolan, 1984: 29).

Manusia dalam tulisan Titus, Smith dan Nolan dapat dikaji melalui ilmu biologi dan ilmu-ilmu sosial. Dalam kajian ilmu sosial, manusia yang baru lahir persis seperti lembar kertas putih yang kosong yang kemuuian diisi oleh kebudayaan dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Dalam perspektif ini, lingkungan berarti mempengaruhi pembentukan watak manusia. Dalam filsafat dipertanyakan:

Apakah betul ada sesuatu yang dinamakan esensi manusia yang umum bagi tiap-tiap pribadi, tanpa melihat lingkungan kebudayaannya? Menurut pandangan ini, seseorang menjelma menurut lingkungan yang mempengaruhinya. Jean Paul Sartre adalah juru bicara pandangan kelompok ini. Ia melingkari adanya watak esensial yang dibawa manusia. Soal inilah yang kemudian dikaji dan dikembangkan metafisika khusus dalam bidang kajian antropologi.

Filsafat Antropologi

Filsafat antropologia adalah cabang dari metafisika khusus yang membicarakan tentang manusia. Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam? Termasuk pula dipertanyaankan, hubungan manusia dengan Tuhan. Filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut apa adanya. Pertanyaan dimaksud, menyangkut esensi, eksistensi maupun status relasinya.

Plato (428-348 SM) membagi manusia menjadi dua bagian. Yakni bagian tubuh dan bagian jiwa. Tubuh menurut Plato adalah musuh jiwa. Berbagai kejahatan dilakukan. Tubuh manusia yang selalu berbuat kejahatan manusia itu sebenarnya selalu ditolak jiwa. Tubuh bagi jiwa persis seperti penjara.

Menurut Plato, Jiwa manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: nous (akal), thumos (semangat) dan Efitlwmi (nafsu), Karena terpengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Kematian dianggapnya sebagai upaya memerdekakan jiwa dari tubuh manusia. Seperti diketahui bahwa dalam ruang kajian filsafat, paling tidak terdapat empat aliran yang membahas tentang manusia.

Pertama, aliran serba zat atau materi. Faham materialisme ini melihat manusia tidak lain adalah makhluk yang terdiri dari darah, daging, tulang dan lain-lain seperti makhluk hidup lainnya. Dia tidak perlu berpikir tentang eksistensi sesuatu di balik badan. Setidaknya faham ini dipelopori oleh Aristoteles.

Kedua, aliran yang rnemandang kehidupan sebagai serba ruh. Yang benar-benar ada hanya ruh. Ruh adalah hakikat sedangkan badan adalah penjelmaan atau bayangannya saja. Ketiga, aliran dualisme yang menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur awal yang keberadaannya tidak bergantung satu sama lain. Pandangan dualistis ini menganggap badan dan jiwa sebagai dua hal yang berdiri sendiri. Dalam perwujudannya, manusia itu serba dua, badan dan ruh yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut manusia. Antara keduanya terjalin hubungan yang bersifat kausal.

Keempat, aliran eksistensialisme yang rnemandang manusia dari segi eksistensinya, yaitu cara beradanya manusia di dunia. Menuurt aliran ini, badan manusia adalah sebagai jasmani yang diruhanikan atau ruhani yang dijasmanikan. Maka antara badan dan ruh adalah menyatu dalam pribadi manusia yang disebut aku. Aku ini adalah jasmani dan ruhani (PPTA/ IAIN Jakarta, 1984: 71-75).

Dalam Pandangan Filosof Muslim

Berbeda dengan teori di atas, filosof Muslim, rnemandang manusia sebagai, “…………….. makhluk jasmani-ruhani yang bertanggung jawab. Dijelaskan dalam salah satu hadits yang menyebut tiga tahapan perkembangan manusia di alam rahim. Setelah umur 120 hari atau empat bulan dalam kandungan, jasmani yang memiliki unsur hayat itu berbentuk mendekati bentuknya yang sempuma kemudian dimasuki ruh. Dengan ruh inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

Berdasarkan teori tadi, eksistensi manusia di dunia, menurut filsof Muslim mempunyai kemerdekaan untuk bertingkah laku; baik-buruk, bersifat surgn atau nernkn sesuai dengan pilihan ruhaninya. Namun demikian, semua tingkah laku itu harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Semua tingkah laku itu yang’dalam hadits disebutzzwflZ akan ditimbang apakah berat tingkah laku surgn atau atau berat tingkah neraka. Bila ukuran tingkah laku surgawimja mengalahkan atau melebihi kadar tingkah laku nerakawinya, maka ia akan masuk Syurga. Sampai di sini sesungguhnya telah terjawab tentang apa hakikat manusia menurut filosof Muslim. Manusia disimpulkan sebagai makhluk jasmani-ruhani yang bertanggung jawab.

Pertanyaan tentang dari mana manusia itu, juga dapat ditelusuri dari proses penciptaannya berupa unsur jasmani yang berasal dari nuthfah yang bila dikaji secara agamis logis | akan berpangkal kepada Allah, sebagaimana ruhaninya yang pada masa empat bulan dalam kandungan diberikan kepadanya dari Allah. Sedangkan pertanyaan tentang ke mana manusia akan pergi atau bertepi, dalam uraian yang berpijak kepada hadits di atas telah dijelaskan bahwa ia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala tingkah lakunya.

Konsep Manusia dalam Rumusan Intelektual Muslim

Dengan demikian mejadi semakin jelas bahwa konsep manusia yang digagas filosof Muslim didasarkan atas hadits Nabi. Hal ini sekaligus mengindikasikan adanya perbedaan dengan konsep manusia menurut teori filsafat yang empat di atas. Manusia dalam konsep filsafat Yunani dan modern sama sekali tidak disinggung adanya pertanggung jawaaban tingkah laku.

Dalam kaitan ini Harun Nasunon (1995: 40) menjelaskan, bahwa hakikat manusia menurut ajaran Islam tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur imateri yaitu ruh yang mempunyai daya rasa dan rasa pikir. Daya rasa jika diasah akan mempertajam hati nurani, dan daya pikir jika dilatih akan mempertajam penalaran.

Di sebagian besar intelektulisme Barat, yang mendasarkan diri pada ajaran filsafat materialisme, terdapat ajaran bahwa manusia hanya tersusun dari satu unsur, yakni materi. Unsur ruh, jelas tidak ada. Dalam konteks ini yang berpikir dalam diri manusia/ bukanlah akal yang bersifat immateri. Tetapi ia adalah otak yang bersifat fisik. Dengan mati-nya manusia selesailah seluruh riwayatnya. Tidak ada hidup kedua, tidak ada perhitungan sesudah mati. Yang penting pada yang ada di dunia materi ini. Maka dalam masyarakat yang memakai filsafat serupa ini, kesenangan materilah yang dicari sebanyak mungkin.

Ada juga yang mengatakan bahwa manusia betui tersusun dari tubuh dan ruh. Tetapi ruh dalam teori filsafat ini adalah daya pikir. Daya rasa di dada yang erat hubungannya dengan hati nurani, tidak menonjol dalam pengertian ini. Daya berpikir di sini banyak bergantung pada panca indera. Sedangkan panca indera berhubungan dengan hal yang lebih dekat dengan hal-hal yang bersifat materi. Maka dalam filsafat ini materi juga yang dipentingkan.

Manusia dan Makhluk Lain

Adapun tentang persamaan dan perbedaan rnanusia dengan makhluk lain, mengutip tulisan Murtadha Muttahhari (1995: 62), manusia sama halnya dengan makhluk hidup lain, la, memiliki seperangkat hasrat dan tujuan. la berjuag untuk meraih tujuan-tujuan dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadarannya. Perbedaan antara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan tingkat tujuan mereka.

Inilah yang memberikan kelebihan, keunggulan serta membedakan manusia dari semua makhluk dan hewan lain yang diciptakan Tuhan. Adapun mengenai bagaimana kehidupan manusia yang tingkah lakunya dimotori sikap keimanan pada Tuhan, tidak salah jika dikutip tulisan Sa’id Hawa (1997: 302) yang menyebutkan bahwa sasaran akhir dari perjalanan ruhani menuju Allah adalah terbentuknya manusia yang bijak, yang mampu meletakkan segala hal secara proposional, dan pada tempat yang sebenarnya.

Kekokohan ada tempatnya. Begitu juga dengan keberanian. Pengarahan jiwa dan pemanfaatan harta benda. Jadi perjalanan ruhani menuju Allah mengantarkan manusia pada tercapainya sesuatu yang benar. Yang lebih hakiki. Capaian dimaksud akan terlihat berupa potensi kerja, potensi ruhani, potensi jasmani, potensi kalbu dan potensi jiwa. Dalam lingkupnya yang lebih luas, hal ini dapat terjadi baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi maupun dalam lingkungan keluarga. Perjalanannya dilakukan semasa hidup di bumi darr di tengah-tengah manusia kontemporer dan hasilnya kebahagiaan abadi di akhirat kelak. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.