Inspirasi Tanpa Batas

Filsafat Metafisika Umum| Part – 3

Filsafat Metafisika Umum| Part - 3
0 3.017

Cabang metafisika yang pertama adalah filsafat Metafisika Umum. Metafisika umum sering diistilahkan dengan ontology. Tidak salah jika ada yang menyebut ontology sama dengan metafisika. Atau metafisika sama dengan ontology. Istilah ini sering diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu di balik yang fisik atau sesudah yang fisik.

Istilah metafisika sama maknanya dengan ontology. Dengan latar belakang kesamaan objek, maka antara metafisika dengan ontology sulit sekali dibedakan. Kesamaan itu terlelak pada fokus pengkajian di rnana baik ontology maupun metafisika sama-sama mengkaji tentang eksistensi atau hakikat sesuatu dilihat dari makna substantifnya.

Menurut Stephen Palmquis (2004), antara ontology dan metafisika tetap terdapat perbedaan. Baginya, sulit diterima adanya anggapan yang menyatakan bahwa ontology menjadi dasar metafisika. Menurutnya, akan lebih akurat jika dinyatakan bahwa antara ontology dengan metafisika adalah dua tugas keilmuan yang bertolak belakang, meskipun satu sama lain memiliki ketergantungan.

Palmquis lebih lanjut menyatakan bahwa antara metafisika dan ontologi, keduanya ibarat pohon dan daun. Adanya padangan yang menyatakan bahwa antara ontology dan metafisika itu sama, lebih disipati pada fokus kajian keduanya yang sama-sama membahas tentang hakikat segala sesuatu yang eksistensinya di balik yang fisik atau sesudah yang fisik. Untuk memudahkan pembahasan, di sini, penulis mengambil sisi persamaan antara ontologi dan metafisika.

Metafisika Umum [Ontologi]

Ontologi adalah satu dari tre tunggal lapangan penyelidikan kefilsafatan. Cabang ini sering disebut sebagai cabang paling tua (kuna) dan sekaligus paling utama dalatu kajian Filsafat. Kenapa demikian? Sebab awal mula lahirnya filsafat itu bermula ketika para pemikir Brilyan Yunani Kuna mulai memikirkan hakikat sesuatu seperti yang tampak pada alam ini dilihat dari sisi hakikatnya.

Thales dianggap sebagai orang Yunani Kuna pertama yang memikirkan persoalan ontology. Pokok pangkal kajian Thales terletak diskursus kejadian alam. la adalah seorang filosof bijaksana yang pertama kali merenungkan asal mula penciptaan alam serta faktor apa yang menyebabkan adanya atau terjadinya alam. Atas perenungannya terhadap air yang terdapat di mana-mana, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang menjadi asal mula dari segala sesuatu.

Dalam bahasa yang agak halus, ia menyebut bahwa air adalah alas dari segala eksistensi yang tampak. Dari sifat pemikiran Thales yang demikian, pada ujungnya ia berpendapat bahwa segala yang tampak di jagat raya ini mengapung di atas air. Hal terpenting dari pemikiran Thales semacam ini, tentu bukan terletak pada pendapatnya tentang air yang menjadi asal mula terjadinya segala sesuatu, melainkan pada pendiriannya yang menyatakan bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi yang sama, yang kemudian disebutnya sebagai air (Louis O. Kattsoff, 1986)

Bagi semua orang, tentu di zaman itu, segala sesuatu dipandang apa adanya secara wajar dan sekaligius natural sesuai dengan apa yang dilihatnya. Apa yang dirasanya dan apa yang dirabanya. Apabila mereka menjumpai kayu, daging, besi dan air misalnya, mereka memandangnya sebagai substansi yang berdiri sendiri. Bagi kebanyakan orang, tidak ada pemilahan antara mana yang tampak (appearance) dan apa yang nyata (reality).

Thales tidak demikian. la justru melihat sesuatu itu melebihi pada apa yang nyata. Ia menelusuri berbagai kejadian dalam alam ini sampai pada awal kejadian atau awal penciptaannya dan sumber penciptaan. la tidak melihat realitas benda sebagaimana yang terlihat dan terasa dalam kasat inderawi. Dan menurut saya, itulah letak pengkajian dan penghormatan yang diberikan filosof sejenis Thales.

Analitis Ontologi

Pemikiran awal Thales ini dalam perkembangan selanjutnya, kemudian dikembangkan para penerusnya. Filosof sesudah Thales perlahan-lahan meyakini bahwa di yang tampak, pasti terdapat suatu eksistensi terdalam terjangkau alat inderawi manusia. Setiap suatu benda memiliki sesuatu di baliknya- Kajian terhadap eksiste yang fisik itu kemudian dikembangkan para ahli dan diberi nama ontology.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa ontology berdiri menjadi ilmu pengetahuan yang paling universal sekaligus fundamental dalam Filsafat Ilmu. Ilmu ini sangat radikal, sekaligus paling awal. Disebut demikian, karena ilmu ini secara intern membicarakan tentang hakikat sesuatu, baik tentang asal mula penciptaannya, sebagaimana tergambar dalam perspektif pemikiran Thales, dan kajian terhadap sesuatu yang berada di balik performa terwujud sebagaimana tergambar dalam pemikiran Plato, khususnya tentang teori bayang-banyangnya.

Objek penyelidikan ontology meliputi berbagai pernyataan dan penelitian yang lebih dari hanya sekedar “sebagian” (partikuler), tetapi menyeluruh dari berbagai persoalan tentang suatu benda. la merupakan konteks dari semua konteks, cakrawala yang merangkum semua cakrawala, pendirian yang meliputi segala pendirian. Ontology bercorak dan bersifat total. Dan karena itu, ontology memiliki ciri keilmuan yang paling konkret, selain tentu menjadi kajian pertama dan utama tadi.

Ontology bergerak di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan konkret dan pra pengertian “pengada” yang paling umum serta substansi terdalam di balik yang konkret. Dalam pengertian ini, ontology mengkaji kedua kutub sebagai sesuatu yang saling menjelaskan. Antara pengalaman dan Pengada, tanpa mampu menjelaskan mana yang terlebih dahulu ada di antara dua kutub itu. Misalnya, apakah yang pertama kali muncul itu pengalaman yang empiris atau Pengada. Pertarungan terhadap dua kutub ini terus berlanjut dan sulit menemukan sintesis, pun ketika zaman ini sudah beralih ke sebuah era yang kita sebut sebagai era modern. Sebuah era fantastik yang menggiurkan karena sensualitasnya.

Filsafat Metafisika Umum Naturnlisme

Contoh sederhana dari kajian ontologis yang terkesan diametral itu adalah tentang Tuhan. Dalam rumpun ini, Tuhan dianggap sebagai eksistensi terwujud di balik yang wujud, juga eksistensi yang keberadaannya menjadi pemula atas segala realitas. Apakah adanya Tuhan didahului oleh keberadaan makhluk, sehingga secara filosofis makhluk yang menciptakan Tuhan bukan Tuhan yang menciptal<an makhluk. Bagi kaum agama, persoalan ini terus terang sudah tuntas. Wahyu telah menyebutkan bahwa Tuhan ada dan keberadaannya tidak terkait dengan kehadiran makhluk.

Di kalangan ahli filsafat, soal ini justru berkembang menjadi tiga aliran. Ketiga aliran itu adalah: nnturalisme, idealisme dan materialisme. Ketiga aliran akan coba dijelaskan dalam bagian ini. Naturnlisme. Naturalisme adalah suatu faham yang memandang bahwa apa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman.

William K. Dennes beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah “kejadian” yang terjadi dan terdapat dalam alam. Kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan- satuan yang menyusun kenyataan yang ada. Hanya satuan- satuan yang menyusun kenyataan yang ada. Hanya satuan- satuan semacam itulah yang menjadi satu-satunya penyusun dasar bagi segenap atau segala sesuatu yang ada. Jadi pencipta alam ini, bukan Tuhan. Tetapi refleksi aktif dari kenyataan yang sama kongkret material.

Secara histories, faham naturalisme lahir beriringan dengan lahirnya sejumlah ..filosuf awal di Yunani kuna. Tokoh penting yang terlibat dan mengembangkan faham ini adalah filosof yang landasan kajiannya menitikberatkan pada alam sebagai unsur kajian utama. Sebut saja tokoh dimaksud Thales, Anaximenes, Anaximandros, Phytagoras dan Heraclitus.

Bagi kaum naturalis, selalu muncul tiga persoalan penting dalam wacana pemikiran kefilsafatan. Ketiga persoalan itu adalah Proses, kualitas dan relasi. Kaum naturalis berpendirian bahwa: 1) ketiga kategori dasar (proses, kualitas dan relasi) yang inereka gunakan menunjukkan segala hal yang bereksistensi dan terdapat dalam pengalaman; 2) Tidak ada satu kejadian yang didalamnya tidak secara bersama terdapat ketiga kategori tersebut, meskipun segi-segi tadi dapat dipilah berdasarkan satu pemilahan yang beralasan; 3) Mereka dapat menunjukkan kejadian-kejadian yang segi-seginya menggunakan istilah kategori yang disebut di atas.

Karena alasan itu, mereka kemudian mengembangkan tafsiran mengenai pengertian-pengertian, hipotesa-hipotesa, hukum- hukum, dan penilaian yang dikembangkan dalam ilmu alam, penyelidikan sejarah dan dalam tanggapan-tanggapan di bidang seni dan kesusastraan. Semuanya diwujudkan, diilustrasikan dalam nuansa dan suasana meril-fisik.

Filsafat Metafisika Umum Idealisme

Idealisme adalah faham aliran filsafat yang berusaha memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakikatnya yang terdalam. Ditinjau dari segi logika, manusia seperti disindir G. Watt Cunningham yang dikutif Kattsoff (1986: 224), harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut. Singkatnya, idealisme adalah sebuah faham yang memandang bahwa sesungguhnya realitas itu bukan pada yang tampak, tetapi justru berada di balik yang tampak. Sesuatu yang menjadi spirit, motif dan nilai segala realitas ada dan bereksistensi di balik yang tampak.

Aliran ini menyatakan bahwa yang sesungguhnya ada dalam dunia, adalah idea (Plato) Tuhan atau Allah (kaum agamawan). Segala sesuatu yang tampak dalam wujud nyata indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya. Sebab sejatinya keberadaan adalah sesuatu yang berada dalam dunia idea. Realitas yang sesungguhnya bukan pada sesuatu yang kelihatan, melainkan justru pada sesuatu yang tidak kelihatan dan tidak tampak.

Di India Kuna, faham ini telah lama muncul. Di masyarakat ini telah lama berkembang sebuah pandangan yang memandang bahwa dunia fisik adalah suatu ilusi. Pengalaman juga sebuah ilusi. Bahkan keanekaragaman itu adalah rupa belaka. Kelakuan dan jiwa pribadi dianggap tidak mempunyai kepatutan pribadi yang berdiri sendiri, tanpa campur tangan dunia metafisik non material. (Louis Leahy, 1993: 201).

Secara histories, faham ini sebenarnya telah lama dikembangkan Plato. Plato diakui Maurice Merleau Ponty sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran Socrates yang tidak lain merupakan gurunya sendiri. Plato mengakui adanya Tuhan secaraa implisit dalam fenomena universal atas eksistensi kesempurnaan. EksistensiNya berada di balik yang terwujud. la mengakui eksistensi kesempurnaan Tuhan dalam ekspresi kemanusiaan. (Damanhuri Fatah [ed.], 2004: 332).

Metafisika dalam Nalar Plato

Lebih lanjut, Maurice Merleau Ponty menyebut bahwa Plato yang terinspirasi pemikirannya oleh Socrates, menganggap bahwa kelaparan metafisik yang eksis secara dinamis pada inti’Ada seluruhnya, la menyimpulkan adanya kesaksian implisit dalam fenomena universal atas eksistensi kesempurnaan Ada.

la meyimpulkan bahwa di atas refleks pengalaman kekaguman universal konkret, manusia harus menyimpulkan eksistensi Tuhan sebagai kesempurnaan Ada. Kebenaran sejati adalah bahwa Tuhan merupakan pondasi tersembunyi bagi semua kekaguman yang tidak tampak tetapi menjadi batu beban yang selalu ada, yang menarik kembali pada diri-Nya sendiri semua kreasi yang la panggil dari ketiadaan dan la kirimkan pada missi pematangan dirinya.

Plato merumuskan pemikirannya dalam dongeng (fiksi) bayang-bayang dalam gua. Cerita ini tampaknya disusun oleh dirinya sendiri untuk mengilustrasi pemikirannya yang di awal disebut sebagai pendiri metafisik berfaham idealistik. la menyebu t bahwa manusia dapat diibaratkan seperti orang-orang tahanan yang sejak lahirnya duduk terbelenggu dalam sebuah gua.

Kepalanya tidak dapat bergerak dan selalu terarah kepada dinding gua. Di belakang mereka ada api yang menyala. Beberapa budak belian berjalan di depan api sambil memikul bermacam-macam benda. Kejadian model ini akan melahirkan beraneka macam bayang-bayang yang dipantulkan pada dinding gua. Orang tahanan menyangka bahwa bayang- bayang itu adalah realitas yang sebenarnya dan tidak ada realitas lain selain bayang-bayang. Ia melihat sebelah belakang gua dan api yang berada di situ, la mulai memperkirakan bahwa bayang-bayang tadi tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia diantar keluar dan melihat matahari yang menyilaukan matanya.

Semula ia memandang bahwa dirinya sudah meninggalkan realitas. Tetapi berangsur-angsur ia menyadari bahwa itulah realitas yang sebenarnya. Setelah itu, iapun kembali ke gua dan memberitahukan kepada teman-temannya bahwa apa yang mereka lihat bukan realitas yang sebenarnya. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai realitas tidak lebih dari sebuah bayang-bayang. Tetapi mereka tidak mempercayai pendapat- nya. Bahkan andaikan ia tidak terbelenggu. Maka niscaya orang yang menyampaikan informasi itu, maka pasti akan dibunuhnya (K. Bertens, 1998: 12-13).

Mitos Plato tentang Metafisika

Mitos Plato yang masyhur tadi, dapat diibaratkan seperti perilaku manusia awam (seperti terlihat dari kumpulan manusia yang terbelenggu) dan perilaku filosof (seperti terlihat dari orang yang keluar dan memperoleh realitas objektif), Orang awam dianggap Plato akan berpikir bahwa realitas objektif adalah sesuatu yang diperoleh melalui pengenalan inderawi.

Sementara itu, filosof memandang bahwa pengalaman indera hanya akan memberikan bayang-bayang dan tidak dapat menyodorkan kebenaran (realitas) sesungguhnya. Atas pemikirannya ini, Plato kemudian membagi kebenaran menjadi dua bagian besar. Kedua bagian itu adalah dunia yang terbuka bagi rasio (ide) dan dunia yang terbuka bagi pengalaman panca indera (jasmani). Manusia dianggap Plato memiliki dua dunia (ide dan jasmani). Plato sering disebut sebagai pemikir sintesis (yang dualistis/dualisme) antara pemikiran Socrates yang idealistik dengan pemikiran para sofoi yang sangat subjektif.

Pemikiran Plato tadi kemudian dikembangkan filosof abad pertengahan. Tokoh penting dalam aliran ini di abad pertengahan, menurut Lorens Bagus (1996: 71) adalah George Berkeley (1685-1753). Menurut George Berkeley, tidak ada substansi material dalam dunia ini. Segala substansi terletak bukan pada aspek fisik melainkan justru berada pada substansi idea. Penyebutan kursi atau meja misalnya, ia hanya merupakan koleksi idea yang ada dalam alam pikiran sejauh yang dapat diserap. Pendapatnya semacam ini dikembangkan Fichte (1762-1831) yang menyatakan bahwa: “yang mengada ialah “Aku”. Aku sendiri menghasilkan sesuatu yang bukan “Aku”. Dalam lawanan dialekstis dengan bukan “Aku” itu, “Aku” menjelmakan dirinya sendiri.

Idealisme Plato dan Para Penerusnya

Pemikiran idealisme ini terus dikembangkan para filosof abad modern. Sebut saja filosof dimaksud adalah Hegel (1770­1831) yang menyatakan bahwa kenyataan adalah roh mutlak, yang menjelma sebagai sintesis dialektika mendasar antara logika dan alam. Manusia dan substansi duniawi lainnya dalah fase dan bagian proses pejelmaan roh itu, namun ia tidak berdiri sebagai sesuatu yang eksis.

Pemikiran Hegel yang demikian, di abad modern kemudian dimatangkan Immanuel Kant (1972-1904), sosok populer dan paling monumental dalam sejarah ilmuan Barat-modern. la digolongkan sebagai filosof idealisme transcendental. Kant berpendapat, bahwa objek pengalaman yang ada dalam ruang dan waktu, tidak lain kecuali penampilan dari yang tidak rnemiliki eksistensi dan independen di luar pemikiran manusia. Segala sesuatu yang ada adalah suatu bentuk dari satu pemikiran (Bakry Hasbullah, 1971: 29).

Pemikiran Kant ini, telah mengingatkan saya akan konsep filsafat mistik Islam yang dibangun filosof Muslim abad ke emasan, seperti digagas Ibnu Sina yang menyebutkan bahwa alam tercipta karena proses emanasi dari cahaya dan cermin Tuhan. Faham ini kemudian diadopsi al-Jilli dalam faham tasawuf falsafinya yang menyebut bahwa manusia sebagai cermin Tuhan yang­paling mampu menunjukkan jati diri-Nya. Manusia dianggap sebagai perwujudan Tuhan yang paling sempurna, dibandingkan dengan makhluk lain Tuhan yang lain.

Filsafat Metafisika Umum Materialisme

Materialisme adalah sebuah faham yang menganggap bahwa materi merupakan wujud segala eksistensi. Faham ini menolak segala sesuatu yang tidak kelihatan. Menurut aliran ini, yang sesungguhnya ada adalah keberadaannya yang bersifat material atau tergantung sarna sekali terhadap materi. Secara histories, pelopor yang melahirkan faham ini tampaknya dapat disandingkan kepada tokoh semacam Leukippos dan Democritos (460-370 SM). Kedua filosof awal

ini dapat disebut sebagai cermin filosof awal yang membangun teori materialisme. Leukippos dan Democritos berpendapat bahwa: “realitas yang sesungguhnya bukan cuma satu, melainkan terdiri dari banyak unsur. Unsur-unsur itu sendiri tidak terbagi yang kemudian disebutnya sebagai “atom” (terambil dari bahasa Yunani) yang berarti “tidak dapat dibagi” (Hanafi, 1973: 86),    pelanjut pemikiran Leukippos dan Democritos adalah Thomas Hubbes (1588-1679). Tokoh abad skolastik akhirini berpendapat bahwa, “seluruh realitas adalah materi yang tidak bergantung pada gagasan dan fikiran manusia”. Seluruh realitas yang tidak terwujud dalam bentuk materi dalam gerak (K. Bertens, 1992: 73).

Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) berpendapat bahwa: alam material adalah realitas yang sesungguhnya. Segala sesuatu yang tidak terwujud dalam bentuk bukan materi, termasukk Tuhan, Malaikat, Syurga dan Neraka, yang kesemuanya berada di luar kategori histories manusia. Semua dianggap bukan suatu realitas yang nyata. Karena dianggap bukan sebuah realitas, maka keberadaannya diang;

ditolak. Tidak salah jika kemudian muncul suatu bahwa Feurbach adalah pendiri ateisme. Dan konsep materialisme ilmiah, sesungguhnya yang paling dikhawatirkan perkembangannya oleh kaum agamawan. Perkembangan aliran ini akan membawa pada konsekwensi pada penj wujud yang tidak terjaiigkau oleh kemampuan indera yang sangat terbatas itu. la berwujud di alam yang tidak terwujud dalam perspektif inderawi.

Metafisika dalam Pandangan Marx

Karl Marx (1818-1883) telah menjadi “korban” lahirnya perkembangan materialisme ini. la adalah tokoh yang mematangkan teori materialisme pada teori-teori sosial yang lebih vulgar, la menyatakan bahwa hanya ada satu realitas akhir yang tunggal, yaitu materi, dengan hukui instrinsik yang selalu sama. Semua gejala seperti energi, hidup hukum moral, roh adalah sebagian dari fase dalam dialektika perkembangan materi itu.

Pematangan konsep aliran materialisme dimatangkan lagi oleh Haeckel (1834-1919) yang berpendirian bahwa, hanya ada satu kenyataan material, yang tidak berperibadi. Tidak ada pertentangan antara materialisme dan roh, antara yang fisik dan psikis, antara dunia dan Tuhan; semua merupakan manifestasi dari materi yang sama, Itulah yang juga dikhawatirkan al-Ghazali terhadap perkembangan filsafat dengan jenis faham ini karena dianggap akan melahirkan prinsip-prinsip ateisme.

Padahal sifat pemikiran yang demikian, dalam term agama, bukan saja disalahkan tetapi juga pekerjaan yang mengandung resiko besar dalam konteks ketuhanan. Secara teologis, sikap ini menjurus pada penolakan eksistensi Tuhan. Hukumnya, tentu sangat harus ditolak.

Cabang filsafat metafisika Selain Metafisika umum adalah Metafisika Khusus yaitu cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Persoalan eksistensi ketiga persoalan inilah yang telah menjadi dialektika menarik sejak awal kelahiran filsafat di Yunani Kuna hingga era modern sekarang ini. **Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...