Filsafat Pendidikan Baru Membantu Manusia Keluar Dari Krisis Permanennya

0 47

Filsafat Pendidikan Baru Membantu Manusia Keluar Dari Krisis Permanennya: Ketika memasuki tahun 70-an dari abad ini ilmu melangkah dengan langkah-langkah yang menjadikan pekerja di bidangnya menemukan kesalahan yang hebat. Hal ini terjadi di dalamnya yang di lakukan orang-orang sebelum mereka. Yaitu ketika mereka menghasilkan –berdasarkan data ilmu itu sendiri- keharusan terbukanya filsafat pendidikan di dalam alam inderawi dan kesenangan inderawi.

Para pimpinan orientasi ini adalah para ahli yang terkemuka dalam spesialisasi mereka seperti Rene Dubos, Theodore Roszack dan Abraham Maslow. Kita di sini mengambil contoh dari pendapat kedua yang terakhir.

Theodore Roszack salah seorang pelopor ilmu Sosiologi modern. Ia mendiskusikan pengaruh dikhotomi yang terjadi antara agama dan ilmu dalam berbagai pembahasannya. Yang terpenting adalah bukunya yang berharga “Where the Westland Ends?”. Roszack dalam buku ini mengkhususkan kepada dimensi agama dalam bidang politik dan bagaimana perasaan dan kesadaran agama menunjukkan keterbuangannya. Atau ditetapkan sebagai “negasi dari kebudayaan modern kita”.

Roszack menetapkan bahwa agama yang dimaksudkannya bukanlah gereja dan keyakinan-keyakinannya. Akan tetapi yang ia sebut dengan perasaan yang abadi, kearifan yang abadi dan pengetahuan yang tinggi yang harus membangkitkan kehidupan untuk yang kedua kalinya. Yakni untuk menyelamatkan masyarakat industri modern dari kemusnahan.

Pandangan Maslow Terhadap Madzhab Freud dan Skinner

Profesor Abraham Maslow adalah salah seorang pelopor bidang ilmu Psikologi Humanis, atau mazhab psikologi ketiga yang menganggap bahwa mazhab Freud dan mazhab Skinner membuat pernyataan-pernyataannya melalui studi terhadap orang sakit dan hewan bukan melalui studi terhadap orang yang sehat baik jasmani ataupun akalnya. Pengaruh Maslow dan mazhabnya telah sampai sehingga jurnal khusus menuliskan tentangnya:

“Dari sekarang hingga satu abad mungkin kebanyakan teori yang diarahkan kepada perilaku kita adalah pernyataan-pernyataan Maslow dan bukan Freud, Darwin dan Skinner”.

“Maslow bekerja sebagai profesor ilmu Psikologi di “Universitas Brooklyn” dan “Institut Barat untuk Ilmu-ilmu Perilaku Manusia” dan ketua departemen Ilmu Psikologi di Universitas Prentice dan ketua “Asosiasi Amerika untuk Ilmu Psikologi” dan menempati posisi tertinggi dalam bidangnya hingga kematiannya.

“Peran penting yang dimainkan Maslow dalam bidang filsafat pendidikan adalah bahwa ia meletakkan filsafat pendidikan materialisme dalam posisi pembelaan dan menyeru dengan lantang masuknya filsafat pendidikan materialisme dalam bidang agama dan nilai. Akan tetapi bukan agama dan nilai yang dianut Eropa pada awal abad Kebangkitan dan mengarah kepada dikhotomi antara agama dan ilmu, akan tetapi menyeru untuk meneliti agama dan nilai baru yang karakternya ia sebutkan dalam penelitiannya dan tidak terdapat seorang peneliti pun yang sebanding dengannya kecuali dalam Islam.

Maslow: Unnoticed Revolustion

Maslow menulis dalam penelitiannya “Unnoticed Revolustion” (Revolusi Yang Tidak Terlihat). Bahwa pendidikan modern gagal mengaktualisasikan diri bagi para peserta didik. Bahwa kegagalan ini paling banyak nampak di banyak perguruan tinggi terkenal. Kemudian menyimpulkan: “Akan ada keraguan untuk mengirimkan anak-anak ke universitas-universitas yang bonafid. Seperti keraguan mengirimkan anak-anak ke rumah bordil”.

Kemudian ia menambahkan: “Remaja mengetahui hakikat yang pasti seperti hakikat yang diajukan oleh agama-agama dan tradisi-tradisi yang mengakar. Akan tetapi pengaruh agama dan tradisi tersebut saat ini mulai runtuh. Bukan hanya Tuhan semata yang telah mati dalam hati remaja akan tetapi telah mati juga Marx, Freud dan Darwin. Semua orang dalam hati mereka telah mati. Dan mereka tidak memiliki sumber nilai yang mereka ikuti”.

Dalam penelitian lain, Maslow menjelaskan hubungan antara agama dan ilmu dengan bentuk yang sangat terperinci dan jelas. Mungkin pemikiran penting yang muncul dalam penelitian ini dan kesempurnaan dan kerekatan pemikirannya dipandang perlu di sini dimunculkan secara penuh.

Maslow menulis dengan Judul “Dicotomized Sciene and Dichotomized Religion“. Saya memilih menterjemahkannya dengan Khathrul Insyiqaq bainad Din wal Ilmi. Berikut adalah pernyataan secara harfiah terhadap pembahasan berikut:

Pembahasan secara sempurna ini berpusat pada evolusi baru yang muncul dalam ilmu Psikologi. Yang harus kita lakukan adalah melaksanakan perubahan yang mengakar dalam filsafat ilmiah kita. Perubahan yang menjadikan kita mampu menerima pertanyaan mendasar yang dilontarkan agama. Yaitu dengan menganggapnya sebagai komponen mendasar dalam zona ilmu ketika meredefinisikan ilmu dan memperluas cakupannya.

Agama dan Ilmu sebagai Dua Alam yang Berbeda

Teori menjadi bertingkat-tingkat sesuai dengan pernyataan agama dan ilmu sebagai dua alam yang berbeda satu sama lain. Hal itu karena pemahaman yang sempit terhadap ilmu ataupun agama. Pemisahan ini mengisi konsep ilmu pada abad kesembilan belas. Yaitu pada wilayah yang sempit yang menurunkan dan membatasinya dalam bidang mekanika, filsafat materialisme dan hilangnya nilai humanisme.

Dari sini ilmu melekatkan pada dirinya kesalahan yang tercela. Yang menduga bahwa dalam ilmu tidak ada pernyataan terkait kelahiran, kematian, pengetahuan yang agung dan nilai spiritual manusia. Sama seperti pernyataan-pernyataan ini yang menduga bahwa tema-tema ini adalah masalah-masalah di luar bidang pengetahuan manusia. Dan tidak mungkin memastikan dan menetapkannya dengan mekanisme yang memuaskan akal, dan menampakkannya sebagai hakikat yang memuaskan orang-orang yang cerdas.

Orientasi terhadap ilmu ini diputuskan sebagai kegagalan dan pembatasan konsep ilmu pada teknologi dan menganggapnya sebagai bebas etika dan norma-norma tata laku manusia. Oleh karena itu ilmu tidak dianggap sebagai sesuatu yang berarti, dan tidak lebih dari sekumpulan mekanisme dan sarana yang dipergunakan oleh orang baik dan jahat untuk tujuan apapun baik atau pun buruk.

Contoh pemisahan antara pengetahuan dan nilai ini menimpa agama-agama yang terorganisir ketika terlepas dari hakikat dan menjauh dari ilmu dan pengetahuan sampai tingkatan menjadikan dirinya sebagai musuh pengetahuan ilmiah dan bahwa ia tidak memiliki apapun yang ia ketahui.

Akan tetapi perubahan terjadi saat ini dalam bidang ilmu dan agama juga, atau setidaknya terjadi antara orang-orang cerdas dan intelektual di bidang ilmu dan agama. Dan perubahan di antara orang-orang yang tercerahkan dari para agen ilmu ini akan menciptakan orientasi yang lebih baik terhadap pertanyaan-pertanyaan agama khususnya yang berhubungan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia dan alam.

Perubahan Pada Tokoh- Tokoh Ilmu Akbat Kejadian Masa Lalu

Dikatakan bahwa perubahan pada tokoh-tokoh ilmu ini bukan lain adalah tahapan lain bagi apa yang terjadi pada masa lalu ketika ilmu tercabut dari bidang spesialisasi agama. Sebagaimana ilmu adalah bagian dari agama kemudian terlepas darinya untuk menjadi benar-benar independen.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa hal yang sama terjadi juga pada masalah-masalah keutamaan, norma-norma etis dan nilai-nilai spiritual sehingga diambil dari bidang spesialisasi lembaga-lembaga agama lalu menjadi bagian dari bidang spesialisasi jenis baru dari para ahli tentang manusia yang menolak klaim klasik agama dan yang memiliki kekuasaan untuk berpendapat dan mengontorol masalah-masalah keyakinan dan etika.

Akan tetapi saya melihat ini tidak boleh terjadi. Orang yang beragama –dengan bentuk yang akan saya paparkan- harus merasakan kemuliaan dan keberanian sepanjang bahwa masalah-masalah nilai yang masuk di tengah-tengah bidang spesialisasinya mungkin lebih menopang daripada sebelumnya.

Dan kita akan menemukan diri kita –cepat atau lambat- perlu untuk meredefinisi ilmu dan agama karena pemisahan antara dua bagian integral ini -dua bagian yang saling membutuhkan satu sama lain, dua bagian yang pada hakikatnya adalah satu dan bukan keseluruhan yang terpisah-pisah- mendistorsi, melemahkan dan merusak ilmu dan agama, dan menjadikan keduanya entitas yang tidak menerima kehidupan. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Theodore Roszack, Where the Wasteland Ends (New York: Double Day & Co. Inc., 1972)

Frank G. Goble, The Third Force, the Psychology of Abraham Maslow (New York: Simon & Schuster, 1970)

Abraham H. Maslow, “The Unnoticed Revolution” dalam Education in a Dynamic Society, ed. Dorothy Wesby-Gibson (1972)

Komentar
Memuat...