Filsafat Pendidikan Islam Sebagai Sarana Untuk Mengintegrasikan Iman dan Ilmu

0 909

Filsafat pendidikan –dalam bentuknya yang paling sederhana-diartikan sebagai petunjuk penerbangan. Ia menentukan maksud penerbangan pendidikan dan sarananya dalam mengarungi samudera masa depan. Seperti juga halnya bagi pelaut yang mengarungi samudera lautan. Filsafat pendidikan adalah petunjuk yang menentukan tujuannya. Bahtera yang membawa mereka, peta dan kompas yang menentukan jalurnya. Alat pengukur yang digunakan untuk mengukur jarak dan kedalaman samudera, dan perubahan badai serta angin. Pendidikan yang membawa manusia melewati samudera masa depan. Pendidikan juga hendaknya memiliki petunjuk yang menentukan maksud dan tujuannya. Metode pengetahuan menentukan hasilnya dan nilai untuk mengevelaluasi pelaksanaan dan akibatnya. Ia juga harus menentukan kapan dan dimana pun waktu dan tempatnya.

Tujuan, Metode dan Kriteria Nilai Sebagai Sarana Untuk Terbang di Masa Depan

Objektif dan adil jika kita katakan bahwa lembaga pendidikan di Barat adalah yang pertama memperhatikan signifikansi penetapan tujuan, metode pengetahuan dan kriteria nilai sebagai sarana untuk terbang di masa depan. Ini semua disebut dengan nama filsafat pendidikan dan memberinya intisari kekuatan akal dan kemampuan materialnya yang melimpah.

Hanya saja, pelayaran pendidikan pada gelombang masa depan –seperti pelayaran dalam gelombang samudera- di mana di dalamnya tidak hanya cukup terdapatnya petunjuk dan perkakas pelayaran. Akan tetapi juga memerlukan penemuan-penemuan yang akurat tentang samudera, pantai dan pelabuhan masa depan secara sempurna.

Seperti wilayah para pelaut yang didahului dengan penemuan geografi yang dilakukan oleh para pelopor yang berani mengarungi samudera. Mereka memberikan banyak pengorbanan hingga sampai ke seluruh wilayah dunia. Kemudian mereka menghimpun kesaksian dan pengalaman mereka. Mereka juga mempersiapkan peta dan gambar yang terperinci serta akurat. Hal ini berkaitan dengan posisi dan bentuk benua, pantai dan pelabuhannya, jarak tempuh dan keadaan samudera yang memisahkannya.

Filosuf Wadhdhaiyin (Positivist)

Ketika perhatian terhadap filsafat pendidikan tumbuh maka dua kelompok pemikiran dan intelektual Barat memimpin. Pertama adalah filosuf Wadhdhaiyin (Positivist) yang berusaha menetapkan tujuan dan maksud hidup. Yakni menjalankan peran penemu samudera dan pelabuhan masa depan. Lalu melakukan pekerjaan pelaut setelah terpisah dari instruksi wahyu dan risalah langit terhadap keadaan historis tertentu yang tidak bisa diuji. Kedua adalah kelompok ahli ilmu alam yang mengkhususkan pada pengembangan sarana dan prasarana kehidupan. Mereka memusatkan pada penelitian dan penemuan ilmiah.

Pada saat para pelopor ilmu alam berhasil dalam bidang penemuan ilmiah secara gilang gemilang dan mereka mengontrol produksi sarana dan prasarana kehidupan. Maka filosuf Positivis yang melalui masa depan dengan tanpa “basha`ir” wahyu tidak berhasil menemukan samudera dan pelabuhan masa depan. Mereka kembali dengan teori-teori spekulatif yang ambigu tentang kelahiran, kehidupan dan kematian.

Ketika masa depan itu telah tiba, dan keghaibannya telah berubah menjadi kenyataan yang bisa dilihat. Maka ukuran kebenaran tentang tujuan dan maksud yang diajukan oleh filosuf Positivis adalah dengan menisbatkan kebenaran yang ada pada keyakinan manusia sebelum penemuan geografi. Bahwa bumi itu rata, cahaya senja adalah mulut neraka yang menjulur dari belakang bumi. Bahwa samudera itu dipenuhi dengan syetan dan naga laut. Sehingga siapa saja yang menjauh dari pantai yang ramai maka akan ditangkap oleh syetan dan naga laut ini. Siapa yang selamat dan sampai di bibir bumi berarti ia jatuh dari lautan jahanam.

Kekacauan Akibat Filsafat Positivis

Di antara pengaruh kekacauan keyakinan yang dihasilkan oleh filsafat Positivis ini adalah bahwa ilmu bejalan tanpa konsepsi yang jelas tentang tujuan dan maksud hidup yang abdikannya. Sehingga sarana berjalan tanpa tujuan. Itu juga mempengaruhi kekacauan pada pendidikan. Sehingga mewarnai konsep-konsep pendidikan yang diajukan oleh filsafat-filsafat pendidikan. Seperti matsaliyah (idealisme), waqi’iyah (realisme), frajmatiyah (pragmatisme) dan cabang-cabangnya tentang hakikat dan watak manusia. Juga hubungannya dengan eksistensi di sekitarnya dengan spekulasi-spekulasi yang dihasilkan oleh filsafat realisme tentang pencipta, manusia, kehidupan dan kematian. Masalah yang dampakya berpengaruh pada aplikasi pendidikan. Masyarakat manusia harus membayar mahal akan kohesi, humanitas, stabilitas dan keamanannya. Perdebatan yang merata sekitar bagaimana watak, muatan dan orientasi filsafat pendidikan.

Pengaruh penyimpangan yang menimpa filsafat pendidikan modern tidak hanya berhenti di dalam batas-batas Barat. Akan tetapi menyebar ke wilayah dunia ketiga dan keempat. Termasuk di dalamnya wilayah Arab dan Islam yang mulai memunculkan filsafat dan aplikasi ini. Sehingga di kampus dan lembaga pendidikan diberikan muatan filsafat tentang hakikat, nilai, metode pengetahuan dan hubungan manusia dengan pencipta, alam, manusia, kehidupan dan kematian secara sempurna. Sebagaimana yang dilontarkan oleh idealisme Kristen, realisme material dan pragmatisme tentang manfaat -atau munafaqah meminjam klasifikasi Islam- nilai Marxisme atheis dan eksistesialisme yang sia-sia. Aplikasi-aplikasi yang muncul dari filsafat-filsafat ini diterapkan dalam lembaga pendidikan tanpa analisis. Juga penggantian atau modifikasi kecuali jika terdapat kritik. Modifikasi dan penggantian dari tempat filsafat-filsafat dan aplikasi-aplikasi itu sendiri muncul.

Ketidakjelasan Peran Lembaga Pendidikan Islam

Di antara semakin meningkatnya implikasi negatif dari masalah ini adalah bahwa di wilayah-wilayah Arab dan Islam lembaga pendidikan Islam yang merosot dari masa lalu belum jelas. Hal ini berkaitan dengan signifikansi dan perannya dalam mendefinisikan tinggal landasnya pendidikan dan pelayaran masa depan. Juga dalam menetapkan jalur, sarana dan kriteria pendidikan. Bahkan lembaga ini masih menjadi bingung karena memiliki orientasi anti masa depan. Lembaga ini menjadi anti perkembangan kehidupan dengan tanpa tujuan dan maksud dan tanpa peta dan kompas. Dan dengan sarana dan teknik klasik yang dianggap tidak sesuai dengan perubahan yang dialami manusia.

Lembaga-lembaga ini masih mencampur adukkan antara metode salaf yang dinyatakan Imam Ali bin Abi Thalib dengan pernyataan yang halus ketika berkata: “Didiklah anak-anak kalian untuk masa yang bukan masa kalian”, dengan pernyataan-pernyataan “leluhur” yang hidup pada masa Mazhab dan taklid beberapa abad setelah generasi Imam dan menetapkan agar mengajarkan anak apa yang diajarkan oleh leluhur dan bahwa keluar dari itu adalah kedurhakaan yang akan Allah siksa pelakunya di api neraka.

Integrasi Metode Pendidikan

Keluar dari krisis pendidikan yang menyebabkan spekulasi filosuf realisme dan buruknya pemahaman leluhur tradisional ini terjadi dalam memperbaiki metode yang dibangun sesuai dengan filsafat pendidikan. Sehingga dalam metode ini terdapat dua kelompok yang berintegrasi, kelompok para Rasul yang menginternalisasikan maksud dan tujuan hidup dan kelompok ahli yang menginternalisasikan sarana dan prasarana kehidupan. Maksud dan tujuan hidup yang dibawa oleh para Rasul dalam setiap masa kehidupan manusia itu sendirilah yang memberikan petunjuk kepada orang yang berhasil dalam perjalanan hidup manusia dan menempatkannya pada masa berikutnya. Buah kemajuan ilmiah yang mendapat petunjuk dari para Rasul adalah yang mengarahkan kepada kelestarian dan kemuliaan manusia.

Rasul Muhammad SAW adalah satu-satunya perintis era ilmu dan globalisasi sehingga bisa mencakup seluruh masa depan dan menjelaskannya sehingga generasi bisa mengambil tujuan tinggal landas dan tujuan pelayaran masa depan. Hakikat yang ditawarkan melalui wahyu tentang keghaiban masa depan masa ini adalah yang sesuai dengan kenyataan di mana di dalamnya yang ghaib berubah menjadi nyata dan empirik, dan masa depan kepada saat ini yang sedang disaksikan. ***Dr. Majid Irsan Al Kailani

Komentar
Memuat...