Entrepreneur adalah Fitrah Manusia

0 14

Entrepreneur adalah Fitrah Manusia. Pada hakikatnya, manusia dicipta Tuhan sebagai makhluk yang lemah. Karena karakternya yang lemah, manusia dititipi Tuhan berupa bekal abadi yang disebut dengan akal. Akal dapat menuntut manusia untuk mencari berbagai macam pengetahuan melalui pengalaman hidup yang dia jalani.

Misalnya, Tuhan tidak pernah mengajarkan manusia untuk menghapal nama-nama, tetapu dengan akal yang dititipkan Tuhan itu, manusia dapat mengetahui dengan sendiri nya tentang nama-nama.  Itulah yang dalam teori filsafat disebut dengan pencipta nama. Manusialah yang menjadi penentu akan semua nama yang ada disekitarnya.

Jika ada seorang bayi yang baru dilahirkan, Ia persis seperti gelas kosong yang dapat diisi apapun. Ia tidak mengetahui siapa nama ayah dan ibunya. Apalagi mengetahui tentang nama-nama yang ada di sekitar dirinya dalam bentuk alam semesta. Hanya dengan nalurinya sebagai manusia, bayi tersebut dapat mengetahui nama dimaksud tanpa orang tua mengajarkannya secara langsung. Ia akan mempelajari berbagai nama yang mungkin pas sebagai alat komunikasi

Ilustrasi Ibrahim Mencari Tuhan

Itulah mungkin mengapa Ibrahim AS sempat mencari Tuhan. Dalam kisah itu diceritakan bahwa nabi Ibrahim AS sebelum bertemu dengan tuhan yang sesungguhnya Tuhan, ia menganggap bahwa tuhannya itu adalah bintang, rembulan dan matahari. Sampai pada akhirnya Ibrahim sendiri tidak yakin bahwa itu tuhannya, karena matahari sendiri bersinar ada batasnya apalagi bulan dan bintang. Akhirnya Ibrahim bertemu dengan tuhannya yaitu tuhan yang menciptakan dirinya juga yang menciptakan matahari, bulan, bintang. Itulah proses berpikir manusia

Upaya manusia untuk mencari tahun, bahwa dirinya tidak tahu, itu akan menjadi ciri bahwa dirinya adalah euntrepreneur. Karakter entrepreneur akan selalu melangkah dari sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu, dari sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa dari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dengan kata lain eunterpreneur adalah suatu upaya untuk melakukan perubahan, yang direalisasikan dengan mencoba untuk melangkah dari titik satu ke titik lainya yang terus berkelindan tanpa henti.

Kekeliruan yang terjadi saat ini, terkadang kita selalu menganggap bahwa untuk menjadi seorang euntrepreneur diharuskan untuk memiliki modal yang cukup atau pengalaman yang memadai. Pada akhirnya menjadikan kita terbelenggu pada sebuah keraguan, sehingga kita sulit untuk melangkah. Padahal jika kita simak dari analogi di atas, Tuhan tidak pernah memberikan modal berupa materi dan pengalaman kepada bayi yang baru lahir ataupun kepada Ibrahim secara langsung.

Pengalaman tidak menjadi keharusan untuk mengawali diri menjadi seorang euntrepreneur. Yang diperlukan seorang euntrepreneur adalah memberanikan diri untuk memulai sesuatu berlandaskan pada keseimbangan hati dan pikiran sehingga dapat melahirkan langkah nyata meskipun kecil untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Iman Shalahudin –Direktur Quanta 2

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...