Inspirasi Tanpa Batas

Fokus Menyelesaikan Masalah | Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 3

0 2

Konten Sponsor

Fokus Menyelesaikan Masalah. Sore menjelang Maghrib, setelah kami mengikuti kegiatan hafalan hadits arbain di Pesantren al Hasan Ciamis, tiba-tiba datang seorang tamu. Ia mengaku sebagai salah seorang anak dari tokoh tertentu di kecamatan di mana saya dilahirkan. Ia menyebut dirinya sebagai mahasiswa semester akhir di STKIP Galuh Ciamis.

Penampilan pemuda itu menarik. Selain berperawakan bersih, juga memiliki tutur kata yang baik. Saya menguji kebenaran ceritanya dengan bertanya siapa saja tokoh yang dikenal di kecamatan kami. Ia hafal betul, tentu termasuk kepada bapak saya. Tanpa reasoning panjang, akhirnya dipersilahkan masuk ke asrama.

Di tasnya, tersedia sabun mandi dan perlengkapan pembersih gigi. Semuanya bersipat cairan. Kami dan sejumlah santri lain waktu itu, tentu saja ikut memakai sabun yang dia bawa. Ketika maghrib satang, kami seperti biasanya, sampai kurang lebih jam 21.00 mengikuti pengajian. Ia masih ada di kamar. Ia akhirnya mau ikut menginap karena kunci kamar kostnya terbawa temannya. Akhirnya, kami dengan segenap kawan-kawan sekamar, berbicara dengannya sampai larut malam.

Pagi setelah melaksanakan shalat subuh dan mengikuti kegiatan pengajian, kami berangkat ke sekolah. Waktu itu, berangkat pagi. Ia juga sama ke luar bersama kami. Tak sedikitpun, ada kecurigaan, kalau dirinya pencuri. Ia diketahui telah balik lagi ke asrama kami dan membawa semua barang yang terdapat di kamar kami, ketika saya, tepat pada pukul 14.00, sewaktu mengikuti kursus bahasa Inggris, dijemput untuk segera datang ke pesantren.

Semua Barang Hilang

Semua kawan, setidaknya ragu kalau saya tidak terlibat dalam proses pencurian. Waktu itu, nilai kerugian yang didera cukup banyak. Pihak keamanan pesantren meminta agar saya, bertanggungjawab terhadap kerugian dimaksud. Saya menolak, tetapi, tidak ada seorangpun yang peduli. Mereka mencibir saya dengan kalimat penuh gosif. Nama saya menjadi trending topic di setiap sudut pesantren.

Biaya selama sekolah tiga tahunpun, tidak mungkin cukup melunasi beban itu. Kata saya kepada teman-teman. Tentu saja saya sangat bingung. Lalu, saya melapor ke pihak berwajib dan meminta bantuan untuk mencarinya. Kamipun mencari manusia dimaksud sampai ke tempat terpelosok sekalipun. Hasilnya nihil. Ia dikenal di kampungnya sebagai pencuri dan penipu ulung.

Setelah tiga hari mencari dia, akhirnya saya pulang ke rumah. Saya tidur dan tidak ada satu katapun yang ke luar. Kedua orang tua rasanya tidak rela kalau harus dicurhati, kecuali tetesan air mata. Bapak, tampaknya mengetahui, kalau saya sedang berada dalam situasi yang sangat sulit, meski objek masalahnya tidak tahu. Ia berkata:

“Aku tidak tahu apa masalahmu, nak. Tetapi dari cara kamu meneteskan air mata, kamu merasa sedang berada dalam situasi yang rumit. Supaya tidak menambah beban bagi orang lain, termasuk tentu untukku, maka, berkomunikasilah dengan Tuhan. Nanti habis melaksanakan shalat maghrib, kamu shalat hajat. Bacalah 10 kali surat al Ikhlash setelah rakaat pertama dan 20 kali pada rakaat kedua. Setelah mengucapkan salam, teruskanlah dengan membaca kalimat-kalimat yang memuji Tuhan sebanyak 77 kali sambil bersujud. Mohonkanlah setelahnya, apa yang dihadapi kamu dan apa solusinya menurut Tuhan. Lakukan kegiatan itu tanpa henti. Sykur jika sampai kamu kelak menjadi tua”

Ketika adzan Maghrib dikumandangkan, nasihat itu dilaksanakan. Menangis dengan terisak dan meminta tolong hanya kepada Tuhan. Bapak dan ibu, sampai malam di mana saya kembali ke pesantren, tidak tahu apa yang terjadi. Saat sampai kembali di pesantren, tidak banyak yang peduli. Mereka tetap meminta pertanggungjawaban saya. Termasuk ketika saya menghadap kepala keamanan pesantren yang polisi itu, dia tetap menolak permohonan saya.

Tuhan Mengabulkan dengan Cara Lain

Setelah seminggu berjalan, entah mengapa tiba-tiba kawan-kawan yang barangnya hilang, pada menangis dan meminta maaf. Saya bingung karena hampir mengirimkan surat untuk ibu di kampung agar mengirimkan sejumlah uang. Saya bertanya kepada kawan-kawan, mengapa tiba-tiba berubah pikiran. Mereka dinasihati kyai agar memaafkan dan meminta maaf kepada saya. Ia melihat dalam istikharahnya kalau saya tidak terlibat.

Tetapi di waktu yang sama, entah mengapa, tiba-tiba pihak sekolah di mana kami belajar, justru memberi banyak sumbangan. Mereka justru memperoleh seragam, sepatu dan tas yang baru. Cerita tentang ketidakterlibatan sayapun lebih ramai dibandingkan dengan situasi di mana saya dituduh terlibat. Saat itu, saya bingung. Tetapi itulah hasilnya.

Inilah yang menyimpulkan bahwa do’a akan selalu mengiringi keberhasilan dengan ukuran maksimal usaha manusia. Inilah bagian lain, mungkin yang disebut dengan tawakal. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar