Formulasi Pendidikan Jaman Dulu dan Jaman Sekarang

0 454

Formulasi Pendidikan Jaman Dulu dan Jaman Sekarang – Pendidikan, jalan menuju kecerdasan bangsa. Berbagai formula dikembangkan guna tercapainya tujuan pendidikan Nasional. Baik dari segi anggaran, konsep kurikulum, penilaian profesionalitas guru, workshop dan pengembangan serupa lainnya.

Kini kita berada pada masa, dimana sering kita sebut dengan abad 21. Seiring berkembangnya zaman, maka berkembang pula ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini menuntut para pelaku pendidikan lebih ai???arif dan kreatif. Mengapa demikian?

Pendidikan Dulu dan Pendidikan Sekarang

Dulu orang dewaswa mendikte pengetahuan yang harus dipelajari anak. Berbeda hari ini, anak mencari sendiri sesuai minat dan rasa ingin tahunya. Dulu anak menghafalkan pengetahuan yang penting menurut orang dewasa. Maka sekarang, anak memahami pengetahuan sesuai rasa ingin tahu dan minatnya.

Dari sisi praksis pendidikan dulu dan sekarang memang tidak jauh berbeda, hanya pada tataran esensi memiliki makna dan rasa yang bergeser. Mengikuti trend, dan kreatif pengembangan, agar output pendidikan sesuai tuntutan zaman. Sesuai dengan tuntutan sumber daya manusia sekarang.

Dahulu kita di tuntut untuk belajar sedetail dan sebanyak mungkin. Lantas setelah pelaksanaan pembelajaran, penerapan dan praktik hasil pembelajaran entah kapan dan bagaimana. Sekarang, belajar adalah praktek membuat karya. Jika dulu hasil belajar dinilai kebenarannya oleh orang dewasa. Maka sekarang hasil belajar dinilai oleh anak, teman dan orang dewasa.

Lain dulu lain sekarang, maka pegiat dan pelaku pendidikan harus mampu menyesuaikan kebutuhan dan keinginan. Sulitnya memang, karena keinginan beriringan dengan nafsu yang tidak mudah untuk di kontrol.

Umumnya, setiap manusia memiliki kesulitan dalam mengkontrol nafsunya, dalam benak manusia hanya ada aktifitas yang mengikuti nafsu. Setiap menemukan kejenuhan manusia sekarang lebih baik berlari dari pada bertahan dan bangkit melawan. Kektika menemukan hal yang tidak sesuai, lebih baik berontak tanpa berfikir panjang dan akhirnya menemukan penyesalan.

Pendidikan abad 21

Anak mencari sendiri sesuai minat dan rasa ingin tahunya.

Era sekarang, sulit untuk membendung arus informasi. Era digital memang menjadi peluang namun juga memiliki tantangan tersendiri. Kita, harus memahami dan mengerti bahwa sesungguhnya, anak memiliki keinginan, memiliki minat dan bakat.

Namun tidak kalah penting, mengetahui bahwa seorang anak mampu men-singkronkan antara keinginan, minat, dan bakat. Kadangkala ke-ingintahu-an anak bersifat radikal. Andai saja rasa ingin tahunya tidak singkron dengan minat dan bakatnya, maka ke-ingintahu-annya diikuti nafsu dan berujung sia-sia.

Anak memahami pengetahuan sesuai rasa ingin tahu dan minatnya.

Pengkontrolan dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Bukan hanya di lingkungan sekolah atau dunia pendidikan, tetapi juga di setiap sisi kehidupannya. Hal ini merupakan satu keunggulan anak zaman sekarang, mereka tanpa diperintah akan melakukannya sendiri. Dengan catatan, bimbingan orang dewaswa turut serta dalam aktifitasnya.

Belajar adalah praktek membuat karya.

Apresiasi bagi setiap karya yang diciptakan, adalah jalan menuju keberhasilan proses belajar anak. Karya yang dibuat merupakan satu kejeniusan. Terlepas dari nilai manfaai??i??at yang dihasilkan. Tidak sedikit orang yang berhenti menggeluti bakatnya, hanya karena tidak mendapat apresiasi dari luar dirinya. Terutama orang terdekatnya. Maka bakat yang di bangun dengan karya awalnya tersimpan dan terhenti sampai disana.

Hasil belajar dinilai oleh anak, teman dan orang dewasa.

Tidak ada kebenaran mutlaq hari ini. Di mata manusia kebenaran itu bersifat subjektif, tidak ada orang yang paling benar. Begitu pula dengan proses pendidikan. Semua pelaku pendidikan berhak menentukan kebenarannya dan memiliki hak untuk memberikan penilainnya. Lain dia, lain kita. Lain saya, lain mereka.

Maka, peran penting seorang dewasa dalam membimbing masih di perlukan dan sangat diperlukan dalam proses pendewasaan (pendidikan). Praksisnya tidak jauh berbeda, hanya esensi makna sedikit bergeser, Doeloe-Sekarang. – I. Ridwan Maulana

Komentar
Memuat...