FPI di Antara Sweeping dan Sosialisasi Fatwa MUI

0 17

Sweeping kini menjadi istilah baru yang cukup populer. Setelah beberapa hari ini, isu tentang makar mulai reda, meski tokoh-tokoh yang dituduh makar, masih tetap berhadapan dengan pihak berwajib, khususnya dengan kepolisian Republik Indonesia. Kata sweeping secara harfiyah berarti menyapu. Namun kata ini, kemudian menjadi popular dalam dunia pertahanan untuk menyapu tindakan-tindakan kelompok tertentu yang patut dianggap melanggar.

Kata sweeping muncul dengan keras setelah MUI kembali mengeluarkan fatwa No 56/2016 tanggal 14 Desember tahun 2016. Tentang Hukum Penggunaan Atribut Keagamaan Non-Muslim di mal-mal dan pusat perbelanjaan, terutama atribut Natal. Ma’ruf Amin dalam berbagai kesempatan dengan tegas meminta kepada organisasi masyarakat, tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dengan melakukan sweeping terhadap atribut keagamaan di tempat umum. Ia menyebut bahwa ormas tidak memiliki hak untuk melakukan sweeping. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta dan diliput media baik cetak maupun elektronik.

Ma’ruf Amin menyatakan bahwa Fatwa MUI tersebut dikeluarkan karena banyaknya keluhan dari masyarakat yang dipaksa menggunakan atribut keagamaan agama lain saat hari besar agama tersebut berjalan. Fatwa ini, dianggapnya sebagai seruan kepada pimpinan perusahaan dan mal-mal agar jangan memaksa masyarakat Muslim menggunakan atribut-atribut natal. Eksekusi atas fatwa MUI dimaksud sepenuhnya diserahkan kepada aparat kepolisian. Itu sudah baku di MUI, bahwa fatwa dimaksud mengikat secara personal bagi umat Islam, dan tidak boleh dilakukan eksekusi, kecuali dilakukan oleh petugas keamanan,” ujar Ma’ruf.

Popularitas FPI Meningkat Tajam

Sweeping yang dilakukan ormas Islam. FPI yang beken dan tidak menjadi asing lagi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Khususnya setelah gerakan 411 dan 212, ditengarai telah melakukan langkah-langkah sweeping di beberapa mall di kota-kota besar, terutama di Surabaya. Organisasi ini, tidak lagi dianggap kecil. Karenanya wajar jika mulai dari Kapolri, Menkopulhukam dan bahkan sampai Presiden memberi saran yang relative tegas. Jika terbukti ada ormas tertentu yang melakukan sweeping terhadap berbagai tempat strategis di Indonesia. FPI patut dianggap berhasil menggalang psikologi massa Muslim terhadap apapun yang berkaitan dengan terminologi agama. Wajar jika kemudian Polda Jawa Timur langsung menerjunkan setidaknya 200 personil polisi untuk mengawal jalannya kegiatan yang dilakukan FPI tadi.

Meski beberapa tokoh FPI menyatakan keberatan atas tudahan FPI melakukan sweeping,  Karena mereka hanya menganggap bahwa mereka hanya menggelar pawai guna menyosialisasikan fatwa MUI sebagaimana dijelaskan di atas.

Bagi kita, di mana sesungguhnya muara segala persoalan kebangsaan kita hari ini? Tampaknya perlu dengan segera melakukan analisa terhadap dinamika social dan politik serta keagamaan yang dalam kode tertentu, mungkin sebenarnya sedang luka. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.