Inspirasi Tanpa Batas

Fungsi Filsafat Ilmu dalam Lakon Ilmuan Modern

0 45

Konten Sponsor

Fungsi Filsafat Ilmu, dalam konteks tertentu, setara dengan fungsi filsafat itu sendiri.  Kalau begitu, lalu apa fungsi filsafat? Setelah dikaji secara mendalam, filsafat berfungsi untuk untuk memikirkan kebenaran dengan menggunakan cara berfikir tertentu. Cara dimaksud, misalnya haruslah bersifat radikal [mendalam], sistematis [step by step], universal [menyeluruh], dan spekulatif [berkarakter melakukan dugaan/hypotesis].

Filsafat Ilmu sendiri adalah cabang dari ilmu filsafat. Karena itu, jika kita mempelajari filsafat ilmu, berarti semakna dengan mengkaji ilmu, dengan analis pada terminologi kefilsafatan. Ilmu akan menjadi hidup. Mengapa? Karena ia dituntut mampu memberi jawaban terhadap sejumlah pertanyaan, misalnya: Apa itu ilmu, bagaimana ilmu diperoleh, dan untuk apa ilmu itu dilahirkan. Selain tentu, filsafat ilmu juga berfungsi untuk menjadi titik tolak [starting point] dari perkembangan ilmu sendiri sekaligus titik balik [point of arrival].

Karena itu, mengkaji filsafat ilmu, menurut saya berarti akan memberi arti penting kepada siapapun yang belajar ilmu akan sebuah orientasi, tujuan, jalan dan peta keilmuan. Termasuk dalam bidang kajian kami, sebagai mahasiswa pada Program Study Pendidikan Agama Islam.

Filsafat Ilmu akan selain akan mendorong dimensi kekinian tentang perkembangan ilmu, ia juga akan menorong setiap pembelajar untuk melakukan dan meningkatkan kesadaran diri, baik pada aspek kognisi (intelektualitas), aspek apeksi, psikomotorik dan konasi. Mereka yang demikian, ujungnya pasti, akan terdorong untuk meningkatkan kehendak dalam memilih dan menentukan pilihan hidup disertai dengan logika-logika yang dianutnya.

Memaknai Ilmu dalam Perspektif Filsafat

Ilmu, dalam perspektif filsafat, dapat dilihat dari sudut pandang (Ontologi, epistemologi dan aksiologi). Karena itu, suatu kajian keilmuan, berarti berbicara tentang makna ilmu, sejarah perkembangannya, sumber yang diperoleh, cara yang harus digunakan dan untuk apa sesungguhnya ilmu dikonstruk.

Di masa lalu, sebelum manusia mengenal ilmu, manusia mengenal apa yang disebut dengan dengan mistik. Mistik selalu bergerak dalam keyakinan yang tidak memperkenalkan dan menggunakan rasionalitas. Karena itu, mistik tidak dapat disebut ilmiah. Mengapa?  Karena mistik tidak empiris dan sekaligus tidak dapat diukur.

Realitas yang tidak memenuhi persyaratan ilmiah [empiris, rasional dan terukur], itulah yang disebut mistik. Dengan demikian, sesuatu disebut ilmu, jika dimensi rasionalitas, empiris dan terukur melekat didalamnya. Ilmu selalu menuntut pencarinya untuk membukan secara factual. Karena itu, ilmu bukan hanya berkaitan dengan kumpulan pengetahuan, tetapi, ia harus diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta yang mampu diamati.

Tampaknya, kita perlu memberi penghormatan kepada Socrates, Plato dan Aristoteles. Kehadiran mereka abad ke 4 Sebelum Masehi di Yunani Kuna, berhasil mengubah mindsett banyak orang yang salah satu produknya adalah mengubah pemikiran mistik [mite] menjadi ilmiah. Mengapa disebut ilmiah? Karena mereka mewajibkan adanya empirisisme, logis dan terukur.

Melalui merekalah dialektika ilmiah bermunculan di Yunani. Dialektika adalah jembatan penting yang melahirkan ilmu. Karena itu, sebuah forum layak disebut ilmiah, kalau didalamnya terdapat dialektika. Mereka yang demikian, akhirnya, telah menjadi titik kunci pemikiran filosof dan saintis modern.

Apa yang dilakukan mereka pada awalnya? Ternyata mereka mulai memperhatikan ide-ide, hubungan antara realitas dan ilusi, bentuk dan substansi, fakta dan fiksi. Adapun pola pemikiran mereka bercorak dialektika, spekulatif, imajinatif, radikal dan sistematik.

Dalam soal apa mereka melakukan dialektika? Setelah saya mengkajinya dengan seksama, ternyata mereka memperdebatkan soal ketuhanan, kemanusiaan, dan sekaligus kejadian alam. Di antara pemikiran mereka yang paling mendasar, menurut saya, adalah kesanggupannya dalam mempertanyakan tentang hakikat alam. Siapa sesungguhnya yang menciptakan alam (ontologis)? Untuk apa alam ini dibuat (aksiologis)? Ke mana pula akhir semua peristiwa alam ini? Pertanyaan mendasar seperti inilah, yang menjadi awal lahirnya ilmu. Dikutif dari Buku Filsafat Ilmu Prof. cecep Sumarna dan resume hasil perkuliahan bersamanya selama satu semester.By. Euis Setiawati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar