Take a fresh look at your lifestyle.

Fungsi Manusia dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

24 286

Konten Sponsor

Fungsi Manusia dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Filsafat Pendidikan Islam, telah menempatkan manusia dalam dua fungsi ideal. Kedua fungsi dimaksud adalah: Abdullah dan khalifah Allah. Kedua fungsi tersebut, jika dilaksanakan dengan baik, maka, manusia akan mampu menjamin terjadinya hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan Manusia dengan manusia. Tentu saja selain kemungkinan terbangunnya harmonis antara manusia dengan alam.

Sebagai abdullah, manusia dituntut bertaslim terhadap hukum Tuhan. Karena itu dituntut tunduk pada hukum yang terkandung didalamnya. Sedangkan sebagai khalifah, manusia, dituntut mampu memelihara dan mendinamisasi alam. Mengapa? Karena alam memang diciptakan untuk manusia. Dalam Perspektif horinzontal, manusia sebagai khalifah Allah, mengharuskan dirinya untuk mampu bersimetri dengan sesama manusia dan dengan alam.

Dua fungsi kemanusiaan sebagaimana dijelaskan tadi, dalam kajian filsafat pendidikan Islam, akan menjadi alasan untuk disebut bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan [ahsan al takwiem. Hal ini dapat dibaca misalnya dari pesan Allah dalam al Qur’an surat at Tin [95]: 24]. Ayat ini jika memahami pikiran Maulana Muhammad Ali dalam tafsir The Holly Qur’an [tt: 1759] adalah kemampuan yang demikian luar biasa besarnya untuk maju. Manusia memiliki potensi untuk mengembangkan dirinya dalam posisi yang tidak terbatas.

Potensi Manusia untuk Berkembang

Manusia memiliki potensi untuk berkembang atau mengembangkan dirinya melalui panca indra yang dihadiahkan untuk makhluk tersempurnanya yakni manusia. Panca indra dimaksud khususnya adalah pendengaran dan penglihatan, tentu selain pikirannya yang memang hanya milik manusia. Di luar potensi tadi, Allah masih memberi kelebihan lain, yakni potensi al Qalb. Dalam paradigma pendidikan moderen, alat lain dimaksud tidak dapat difahami sebagai realitas alat yang berguna untuk memperoleh pengetahuan.

Dalam paradigma pendidikan modern, al Qalb dianggap terlalu subjektif untuk mendapatkan pengetahuan. Karena itu, dalam perspektif masyarakat Barat, al Qalb tertolah sebagai alat ilmu. Mengapa? Karena pendidikan modern dianggap membutuhkan objektivitas baik pada sisi objek maupun pada sisi subjek.

Langkah ini dilakukan untuk mengokohkan pemahaman dan sikap kaum terdidik untuk meletakkan manusia sebagai pusat kesemestaan [teosentris]. Manusia dengan demikian manusia selalu menjadi titik tolak [starting point] sekaligus menjadi titik tujuan [ultimate goal]. Hal ini sebenarnya dapat diikhtiarkan dengan melakukan pembinaan atas keseluruhan sipat-sipat hakiki [potensi fitrah] yang dimiliki peserta ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna.

Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, kesempurnaan manusia ditentukan oleh akhlaknya. Selanjutnya, pribadi yang berakhlak adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai [ilahiyah dan insaniyah]. Kemampuan tersebut jika dilakukan dengan baik dan benar dari keseluruhan proses pendidikan, sebenarnya dapat dimiliki dan dilakukan oleh setiap pribadi dengan cara melakukan tazkiyah al nafs [pensucian diri] melalui perenungan dalam kontemplasi filosofis [riyadhah al nafs] dan mujahadah [keseriusan] berusaha atas realitas alam yang dinamis. Kegiatan inilah yang sebenarnya menjadi kegiatan inti dalam pendidikan. By. Prof. Cecep Sumarna.