Gagalnya Pendidikan Mengantisipasi Krisis Lingkungan

0 18

Indicator ketiga  adalah gagalnya pendidikan mengantisipasi krisis lingkungan. Saat ini alam berada dalam keadaan yang labil karena terlalu banyak campur tangan manusia. Kasus Tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh, Jogjakarta dan Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006. Yang telah menewaskan ratusan ribu orang ini. Menurut penulis, dalam beberapa hal dapat disebut sebagai kegagalan manusia modern “meramahkan” lingkungan dan hidup secara harmonis dan berdampingan dengan alam.

Saat ini alam selalu membuat kejutan yang luar biasa dan telah memberi peringatan yang demikian mengerikan untuk terulang dalam waktu dan tempat yang berbeda dalam situasi yang sulit untuk diperkirakan. Alam dibikin dalam rumus-rumus matematik  yang mati dan sepi tanpa makna.

Sayyed Hossein Nasr menyebut bahwa alam telah diperlakukan seperti pelacur. Bukan sebagai istri yang equal  dan equity  dalam relasinya dengan suami, saat ini telah memberi banyak kejutan yang luar biasa dahsyatnya kepada manusia. Padahal berbagai kejadian dalam alam adalah wahyu Iinformasi ghaib yang dipesankan Tuhan melalui kreasinya kawniyah terhadap manusia.

Krisis Udara

Udara juga kelihatan tidak lagi ramah yang salah satu sebabnya diakibatkan karena banyaknya tumah kaca yang memiliki gas karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil. Kondisi itu tidak hanya mengancam sebagian dunia, tetapi seluruh dunia. Lapisan ozon atmosfir semakin menipis karena gas-gas yang digunakan sebagai penyegar, misalnya “deodoran” dan “aresol” demikian banyak. Belum lagi kalau berbicara tentang kemungkinan terjadinya perang nuklir.

Manusia Akan Mengalami Kehancuran

Jumlah nuklir yang saat ini ada telah cukup untuk menghancurkan seluruh umat manusia yang ada di dunia di sisi lain, dapat pula diprediksi bahwa manusia akan mengalami kehancuran, karena batas daya tampung bumi akan melampaui akibat pertumbuhan maksimum. Pertumbuhan maksimum ini disebabkan oleh industrialisasi, populasi, penggunaan sumber daya alam tidak diperbarui, produksi pangan dan jumlah penduduk yang sulit dikendalikan.

Indicator-indikator kegagalan pendidikan diatas, tampaknya juga terjadi dalam dunia pendidikan Islam. Para lulusan lembaga pendidikan Islam hampir sama dengan lulusan lembaga pendidikan lain, yang tidak berdaya menghadapi berbagai “gempuran” ideologis yang pragmatis  meski humanities. Akibatnya, lembaga pendidikan Islam yang semula membawa prinsip-prinsip kemanusiaandan ketuhanan, harus terbawa oleh prinsip-prinsip yang secular dan jauh dari semangat ketuhanan.

Kegagalan pendidikan dengan indicator di atas, terjadi karena pendidikan kehilangan dimensi metafisiknya, sehingga pertanggungjawaban pendidikan menjadi lebih fisik administrative. Kondisi ini, menurut peneliti terjadi karena: pertama, dunia pendidikan sulit menghindari diri dari pengaruh epistemologi keilmuan yang berbasis pada paradigma positivistic.

Konsep dan Paradigma Empiris-Rasional 

Dalam banyak hal, epistemologi ini bahkan terkesan menjadi “imperialis” bagi epistemologi kependidikan, termasuk epistemologi pendidikan Islam. Konsep dan paradigma empiris-rasional yang menjadi induk positivisme hampir telah mewarnai seluruh kajian keilmuan yang terdapat dalam dunia pendidikan, termasuk pada kajian ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu agama ditarik pada budaya iderawi (yaitu yang bersifat empiris, duniawi, sekuler, humanistic, pragmatis, utilitarian,dan hedonistik).

Persoalan Sosial dan Persoalan Agama

Padahal tidak semua persoalan sosial dan persoalan agama, dapat ditarik melalui pendekatan dan epistemologi ilmu kealaman. Contohnya, bagaimana mungkin kaum terdidik meyakini bahwa Tuhan itu ada, padahal eksistensi Tuhan berada di luar kategori fisik dan historis manusia. Ia berada di luar jangkauan [beyond] fisik dan inderawi manusia.

Konsekuensi dari keadaan ini adalah, apa yang disebut dengan pengetahuan bukan saja hanya yang bersifat fisik, tetapi dunia materil dengan berbagai capaiannya pada era modern ini, memaksa manusia untuk mengalihkan rasa syukurnya pada aspek materi, dan ilmu dengan berbagai produk teknologinya, telah dipaksa untuk menjadi Tuhan baru manusia.

Kemajuan materil manusia atas paradigma positivistik di atas, harus diakui telah melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan ini pasti di konstruk atau setidaknya diberi dukungan dari dunia pendidikan-itu cukup mencengangkan. Manusia bukan saja dapat menundukkan alam, tetapi ia juga dapat menguasai alam.

Sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh manusia atas alasan tabu dan dianggap melanggar prinsip-prinsip tertentu. Alam kini berubah menjadi egaliter dan seolah jinak untuk di taklukkan. Manusia modern dapat bekerja secara efektif dari sisi waktu dan efisien dari sisi anggaran. Berbagai kemudahan dan kemakmuran fisik manusia sangat luar biasa majunya. Otak sebagai sumber pengetahuan posotivistik, bukan saja telah mengalihkan fungsi otot ke otak, tetapi ia kini telah menjadi mesin raksasa yang bisa berbuat apa saja.

Persoalan Era Informasi dan Perkembangan Sains-teknologi

Melalui teknologi informasi, manusia bukan saja dapat bercakap-cakap dalam jarak yang sangat jauh, tetapi ia kini dapat melakukan teleconference seolah satu sama lain saling berhadapan. Melalui teknologi transfortasi, pesawat Supersonic Concorde bukan saja mampu menyebrangi Lautan Atlantik, tetapi ia mampu mengitarinya dalam waktu yang sangat singkat. Pesawat Antariksa Rusia bukan saja mampu membawa Anatoli Berezevoy dan Valentine Lebedev ke luar angkasa, tetapi ia mampu mencatatkan rekor tinggal diluar angkasa selama 211 hari. Dalam bidang biologi juga sama.

Bukan saja era informasi ini telah mampu membuat bayi tabung, namun ada kemungkinan penggunaan sistem cloning lebih jauhnya lagi, ahli biologi juga dapat menawarkan kebutuhan fisik tentang bayi yang akan dilahirkannya. Apakah ingin ganteng seperti Thomas Jhorgie, ganas seperti George Wolker Bush, dan Saddam Hussein, lembut seperti Indira Gandhi, nyentrik dan cerdas seperti BJ. Habibie, ahli pendidikan Islam seperti Al Syaibani dan berapi-api kalau ceramah seperti Soekarno. Melalui sistem cloning, saintis dianggap mampu berbuat sesuatu yang sebelumnya dianggap hany asebagai otoritas mutlak Tuhan.

Menarik untuk disimak dan dicatatkan bahwa perkembangan sains-teknologi yang demikian dahsyat ini, dalam banyak hal justru telah melahirkan banyak orang semakin yakin kalau apa yang disebut sebagai peradaban modern berada dalam krisis besar. Fritjof Capra menyebut kondisi modern sebagai krisis budaya dengan multi segi. Keadaan demikian, menurut Capra terjadi karena peradaban modern telah kehilangan sumber pengetahuan intuitif yang karenanya pasti akan melahirkan weiji yang berarti bahaya dalam makna luas bagi eksistensi manusia itu sendiri.

Jika nalar Capra diteruskan, maka munculnya rasa alienasi individual dan rusaknya lingkungan manusia, dapat disebut sebagai indicator gagalnya peradaban yang dibangun manusia modern dan ini harus dipandang sebagai krisis global. Banyak bahaya mengerikan telah tumbuh dari kekeliruan-kekeliruan dua epistemologi Barat kontemporer. Mulai dari insektisida sampai polusi, malapetaka atomik atau kemungkinan mencairnya topi es antartika. Dorongan fantastik manusia untuk menyelamatkan kehidupan perorangan telah menciptakan kemungkinan bahaya kelaparan dunia di masa mendatang.

Positivisme Dalam Dunia Pendidikan

Faktor kedua. Khusus dalam konteks ke-Indonesiaan, sebagai lanjutan dari pengaruh masuknya nilai positivisme dalam dunia pendidikan, kendati lembaga pendidikan menyajikan materi pendidikan agama dalam pengertian universal, dalam berbagai jenis dan jenjangnya, materi keagamaan hanya menjadi setumpukkan knowledge dan jauh kalau bukan sama sekali mengabaikan aspek nilai atau menjadi values of conduct bagi peserta didik. Pendidikan agama sering mengabaikan dimensi being karena orientasi utama lebih pada dimensi knowing dan doing. Akibatnya, pelajaran agama tidak mampu menuntun anak didik pada sikap dan nilai keberagamaan itu sendiri.

Ilmu agama, pun yang selama ini dikonstruk oleh lembaga pendidikan Islam. Baru mampu mengembangkan semangat ilmu agama dalam angka-angka dan rumus saintifik, tetapi jauh dari semangat nilai keagamaan itu sendiri. Akibatnya, pendidikan agama hanya menjadi ilmu dan kesulitan untuk menjadi nilai. Banyak orang belajar tentang Islam hanya untuk menjadi Islamolog, atau belajar agama Kristen hanya untuk menjadi Kristolog.

Agama tidak mampu menuntun orang kepada perilaku positif dan menuntun manusia untuk bersatu dengan Tuhan yang qudus. Jika nalar ini yang digunakan, maka tidak mengherankan andaikan ada orang yang dikesankan ahli dalam bidang agama. Ternyata, tidak mampu mengejawantahkan nilai-nilai agama dimaksud dalam praksis kehidupan. Misalnya ia tidak mampu jujur, tidak mampu adil, dan tidak mampu berbuat ihsan.

Dampak dari pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang demikian, secara idealitas mengharuskan dunia pendidikan untuk membedakan tindakan benar – baik menjadi conduct (pedoman perilaku), virtues (watak peribadi terpuji), practical values (moral praktis) dan living values (nilai moral hidup). Ini semua, menurut Neong Muhadjir, dan Ahmad Tohari, belum terjadi karena Pendidikan Agama Islam lebih cenderung mendorong peserta didik pada penguatan dimensi knowing dan doing.

Kegagalan Out Put

Nalar di atas menyimpulkan bahwa, kegagalan pendidikan di Indonesia yang paling utama bukan terletak pada kegagalan aspek pencerdasan out put. Seperti banyak dikaji secara deskriptif dan analitik oleh banyak ahli riset pendidikan. Mereka menyebut kegagalan pendidikan terletak pada kelemahaman mutu out put maupun manajemen pendidikan. Semua itu  akibat dari kekurangan infrastruktur, fasilitas, kualifikasi dan kompetensi tenaga kependidikan, insentif guru dan lain-lain.

Meminjam pemikiran A. Sanusi, kegagalan pendidikan yang paling nyata justru terletak pada sesuatu yang lebih mendasar dan lebih esensial. Sesuatu yang mendasar dan esensial dimaksud, secara kualitatif dapat dianalisis karena lemahnya visi pendidikan Indonesia. Ini karena kurang jelas dalam merumuskan: a). Basic Values; b). Mission, dan; c). Objectives. Kelemahan dimaksud, sejauh yang dapat dianalisa penulis lebih terasa di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

Tanpa rumusan yang kuat dan kokoh dalam membangun dimensi-dimensi nilai etik dalam pendidikan. Maka, berbagai krisis yang terjadi dan menimpa manusia moderen sekarang ini, akan terus berkelanjutan.–Prof.  Cecep Sumarna


Referensi Bacaan :

Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993. A. Malik Fadjar.

Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI, 1986. Enco Mulyasa.

Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2003. Enco Mulyasa.

Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005. Sanusi Uwes.

Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.