Gaya Kepemimpinan Motivasi Spiritual Pesantren

0 68

Gaya Kepemimpinan Motivasi Spiritual Pesantren: Motivasi menurut asal bahasanya berasal dari movere (bahasa Latin) yang dapat diartikan dengan menggerakan (to move/Ingg). Motivasi menurut Terence R. Mitchell dalam buku Harlod Koonts dan Cyril O’Donnel, telah mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan kepada tujuan tertentu.

Oleh karena itu, tidak heran jika motivasi sering dikaitkan dengan instinct, need dan drive yang dihubungkan dengan konsep task, goal, concern, project, striving dan motives. Atas definisi tadi, maka motivasi pasti mengandung semua alat penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.

Henry M. Levin and Hans G. Schutze, menyatakan bahwa setiap manusia memiliki dorongan untuk bertindak. Ditinjau dari perspektif ini, maka setiap individu pasti mempunyai perbedaan motif baik dalam cara berfikir, cara merasa maupun cara memenuhi kebutuhan. Sikap seseorang, berdasarkan perbedaan dimaksud akan melahirkan aktivitas yang berbeda pula sesuai dengan motif yang melatarbelakanginya dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.

Perbedaan ini disebabkan karena setiap individu berkembang dan membentuk sesuatu sesuai dengan pembawaannya, sejak ia lahir. Selain itu, pengalaman Kegiatan Pesantren dan interaksi seseorang dengan lingkungan di mana ia tinggal dan bergaul, juga turut mewarnai pilihan-pilihan pada motif itu.

Hierarki Kebutuhan Manusia

Makna motif tadi telah menunjukkan adanya hirarki kebutuhan manusia –yang menjadi penguat terjadinya motif– yang sifatnya sama dan dimiliki setiap orang, yakni motif pada: 1). The desire to live atau keinginan untuk hidup; 2). The desire for power atau keinginan akan kekuasaan; 3). The desire for possession atau keinginan untuk memiliki sesuatu, dan;  4). The desire for recognition atau keinginan akan pengakuan.

Pendapat di atas, telah menunjukkan tingkat kebutuhan atau keinginan manusia yang harus dipenuhi. Berdasarkan tingkatan itu, setiap manusia selalu merangsang atau memotivasi dirinya untuk memenuhi kebutuhan dari yang satu kepada kebutuhan berikutnya. Apabila kebutuhan tingkat dasar terpenuhi, maka ia akan berusaha untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk berhasilnya pelaksanaan motivasi perlu diperhatikan adanya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki oleh setiap orang, meski dorongan dimaksud sangat fisik.

Secara teori ilmiah, teori motivasi ini biasanya disandingkan dengan teori Abraham Maslow yang menyusun teorinya ke dalam bentuk: 1). Kecukupan psikologis; 2). Keselamatan dan Keamanan; 3). Keterlibatan dan Hubungan Sosial; 4). Harga diri (ego), dan; 5). Aktualisasi diri (makna).

Faktor- Faktor Tumbuhnya Motivasi

Mulyasa, menyebutkan ada beberapa faktor yang akan memungkinkan tumbuhnya motivasi di kalangan Pengelola Pesantren. Faktor dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Terpenuhinya dimensi kebutuhan fisiologis Pengelola Pesantren. Kebutuhan ini, dilakukan dengan cara pemenuhan terhadap kebutuhan Pengelola Pesantren dalam bentuk; makanan, minuman, pakaian, perumahan dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.
  2. Terpenuhinya kebutuhan rasa aman baik di rumah maupun di Pesantren. Rasa aman ini lebih dibutuhkan lagi dalam konteks kariernya di Pesantren.
  3. Terpenuhinya iklim rasa kasih sayang dan saling pengertian di antara sesama Pengelola Pesantren dan pimpinan Pesantren dimaksud.
  4. Diberi ruang untuk menunjukkan harga diri dan kemampuannya sebagai manusia produktif dan memiliki kemampuan yang baik dalam pengembangan keilmuan. Langkah ini dapat dilakukan dengan jalan memberikan ruang untuk melakukan aktualisasi diri bagi Pengelola Pesantren dalam konteks pengembangan keilmuan.

Pengelola Pesantren butuh akan kehidupan yang layak, memperoleh kesempatan berkarier yang baik dan mampu memberikan jaminan terhadap masa depan diri dan keluarganya. Pengelola Pesantren butuh upah/gaji yang layak dan adil, butuh insentif, butuh mempertahankan rasa harga diri, butuh untuk memenuhi kebutuhan ruhani, butuh ditempatkan pada tempat kerja yang tepat, butuh dihargai jika berprestasi, butuh juga terhadap rasa aman di masa depan dan ia juga butuh diberi kesempatan maju.

Jika Pengelola Pesantren telah memiliki motivasi yang tinggi disertai dengan kesejahteraan yang baik, maka Pengelola Pesantren dimaksud secara teoretik pasti akan memiliki tingkat disiplin kerja yang baik dan tentu ia akan lebih bertanggungjawab terhadap profesi yang dia kerjakan. Karena ia sebagai tenaga pendidik, maka tingginya disiplin kerja yang dimilikinya, akan berimplikasi pada kemungkinan tercapainya peningkatan mutu Kegiatan Pesantren; kuantitatif maupun kualitatif.

Pentingnya Menciptakan Motivasi

Maka disinilah letak pentingnya menciptakan motivasi yang sifatnya mungkin tidak biologis. Kasus seperti motif lapar yang tidak makan, tidak minum saat haus akut, atau tidak melakukan hubungan seksual saat rangsangan ke arah itu ada, pada waktu pelaksanaan ibadah puasa, itu pertanda bahwa ada motif yang sangat besar, dan itu dapat dilakukan.

Motif itu sifatnya tinggi dan agung, yakni motif rindu bertemu Tuhan. Motif di mana manusia berada dalam titik nol, kerinduan untuk dihargai Pencipta, Rabbul alamin dan memasrahkan seluruh aktivitas pada tujuan Tuhan.

Berkarier dan memperoleh pendapatan tinggi dalam dunia keKegiatan Pesantren Indonesia –paling tidak untuk saat ini—kelihatannya masih sangat sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, jika motif material yang menjadi tujuan, maka pelaksanaan Kegiatan Pesantren pasti akan gagal.

Oleh karena itu pula, perlu ada motif lain, seperti motif tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan seksual saat umat Islam melakukan puasa, yaitu motif spiritual. Motivasi spiritual bagi tenaga keKegiatan Pesantren, dianggap penting untuk memberikan jembatan agar praktisi Kegiatan Pesantren tidak terjebak oleh filsafat hidup yang hedonis, materialis dan individualis, meski kebutuhan akan dimensi itu bukan berarti tidak perlu.***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Harlod Koonts dan Cyril O’Donnel.  Management. Eight Edition. Jakarta: Erlangga, 1982

Henry M. Levin and Hans G. Schutze. Financing Recurrent Education: Strategies for Increasing Employment, Job Opportunies and Productivity. California: SAGE Publication, 1982

Talcott Parsons. The School class as a sosial System: Some it’s function in America Society.  USA: Harvard Educational Review, vil. 29. No. 4

E. Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya, 2004

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.