Gaya Kepemimpinan Sistem dan Trasformatif | Kepemimpinan Pesantren

0 93

Diantara kepemimpinan yang dijalankan di sebuah Pesantren adalah gaya kepemimpinan transformatif dan sistem. Permasalahan yang dilematik tentu saja bakal muncul manakala desakan politis tersebut memiliki keutuhan yang beragam-ragam. Dan malah bertentangan seperti pemenuhan tujuan eksternal dan tujuan internal.

Tujuan internal pada umumnya berorientasi pada konsistensi dalam perluasan Kegiatan Pesantren. Sementara tujuan eksternal biasanya lebih berorientasi pada perubahan masyarakat secara cepat.

Manakala hal itu harus dicapai secara serempak dalam satu nafas kegiatan Kegiatan Pesantren, kemudian kemungkinannya adalah salah satu bagian mengalami sedikit gangguan.

Gaya Kepemimpinan Sistem

Hal lain yang perlu jadi perhatian para perencanaan Kegiatan Pesantren adalah kegiatan politik. Hal ini mengimplikasikan pergantian pemeran politik yang punya efek terhadap pergantian kebijakan politik. Manakala penentu peran politik dikuasai oleh suatu kekuatan mayoritas, kecenderungannya adalah perencanaan Kegiatan Pesantren bersifat outhoritative atau quantitaive planning yang sangat rasional.

Sementara manakala penentu peran politik merupakan hasil koalisi (yang kemudian melahirkan pluralisme kebijakan) maka kebijakan-kebijakan dasar Kegiatan Pesantren harus mengakomodasi semua partisipan. Model inilah yang disebut participatory planning.

Pada tahun-tahun yang akan datang, participatory planning punya kecenderungan semakin menguat. Asumsinya adalah model ini (a) lebih demokratis dilihat dari peluang setiap kelompok orang dapat ikut berpartisipasi menentukan kebijakan; (b) aspirasi rakyat lebih terserap, dan karenanya kebijakan yang dihasilkan lebih representatif. Hal ini karena struktur kekuasaan lebih meluas dan karenanya pusat-pusat penentu kebijakan lebih varian; (c) kebijakan lebih kaya nuansa, sebab mendapat kontribusi dari berbagai nilai, harapan, tujuan, dan aspirasi kelompok-kelompok masyarakat.

Namun demikian participatory planning model ini mendapat kesukaran manakala diperhadapkan kepada pemisahan dua kelompok secara tegas, yakni planning team dengan policy makin group dalam struktur kekuasaan. Sebab esensi dari participatory planning justru adanya penyatuan diantara keduanya supaya kesulitan yang kemungkinan muncul di lapangan dapat dihindarkan.

Kesukaran lain dari participatory planning adalah orientasi perencanaan yang  biasanya (karena harus mewadahi semua aspirasi secara segera) terlalu berjangka pendek. Padahal dunia Kegiatan Pesantren adalah dunia yang bekerja dalam jangka panjang untuk untuk menentukan generasi pelanjut. Sebaliknya dengan pendekatan teknokratis yang menekankan quantitative planning jangka panjang, mengurangi adanya fleksibilitas pada saat tantangan dan kebutuhan berubah cepat lantaran perubahan sosial yang juga sangat cepat.

Participatory Planning

Dengan demikian persoalan di antara pendekatan tersebut adalah bagaimana participatory planning dapat membuat proyeksi bagi perkembangan masa depan yang panjang di satu sisi, serta bagaimana pendekatan teknokratis dapat mengadopsi tuntutan kebutuhan yang berubah seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang akselerasinya semakin cepat.

Dalam kaitan ini sesuai dengan proses perkembangan berpikir dalam perencanaan Kegiatan Pesantren, para perencana hendaklah mengkaji secara cermat (a) kepentingan berbagai kekuatan politik, yang menentukan secara signifikan putusan kebijakan atas perencanaan, baik teknokratik maupun partisipatori; (b) struktur sistem manajemen Kegiatan Pesantren yang dikembangkan, sebab hal ini akan menentukan letak, posisi, fungsi para perencana dalam mengerjakan tugasnya. Sistem manajemen Kegiatan Pesantren di negara yang bersifat sentralistik, posisi perencana terletak di tingkat nasional, namun pada negara yang bersifat desentralisasi, perencana berada di pusat dan di daerah dengan masing-masing garapan yang berbeda; dan (c) berbagai disiplin ilmu yang mempengaruhi pendekatan perencanaan Kegiatan Pesantren. Sebagaimana diketahui di atas, pendekatan ilmu ekonomi ternyata jauh berbeda dengan pendekatan ilmu sosial.

Gaya Kepemimpinan Trasformatif

Gaya kepemimpinan trasformatif adalah suatu model yang mengutamakan pemberian kesempatan atau dorongan kepada semua unsur yang ada dalam unit akademik untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur (kyai, guru, santri, orang tua, dan masyarakat pengguna lulusan) bersedia bekerja secara optimal dalam mencapai tujuan ideal pesantren. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

Pertama, mengidentifikasikan diri sebagai agen perubahan; Kedua, memiliki sifat pemberani; Ketiga, mempercayai orang lain; Keempat, bertindak atas dasar sistem nilai (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya); kelima, meningkatkan kemampuannya secara terus menerus sepanjang hayatnya; keenam, memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu; ketujuh, memiliki visi ke depan. ***H. Edeng Z.A

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.