Inspirasi Tanpa Batas

“Gebuk” dan “Tendang” Jokowi dalam Fungsi Bahasa sebagai Kontrol Sosial

0 1

Konten Sponsor

“Gebuk” dan “Tendang” Jokowi dalam Fungsi Bahasa sebagai Kontrol Sosial. Belakangan ini, politisi dan pengamat sosial politik kembali sibuk. Ramai membicarakan pernyataan Joko Wododo [Presiden RI] yang menyatakan “gebuk” dan “tendang” untuk mereka [organisasi dan perorangan] yang patut diduga mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak sedikit yang memuji pernyataan Presiden yang sebelumnya dikenal sangat populis. Pernyataan yang dilansir berbagai media massa tersebut, dipandang akan efektif menjaga keutuhan NKRI, menjaga solidaritas antar sesama bangsa, dan tentu saja menekan “kebisingan” sosial, khususnya pasca Pilkada DKI 2017.

Jokowi ingin mengontrol posisi kebangsaan Indonesia yang mulai luntur. Kerenggangan dan ketegangan di antara sesama masyarakat terasa begitu menyesak. Karena itu, pernyataan Jokowi patut diduga menjadi early worning bagi mereka yang “terlalu” kritis kepada pemerintahan yang dipimpinnya di satu sisi, dan semangatnya untuk menekan kelompok-kelompok tertentu; baik kiri maupun kanan.

Sikap Politisi Sebelah

Namun demikian, pernyataan Jokowi tadi, di kalangan banyak pihak, telah menyembulkan suatu aroma keputusasaan dalam posisinya sebagai Presiden. Ia tampak tidak nyaman melihat berbagai kritisisme warga masyarakat yang dalam banyak kasus dianggap membahayakan keberlangsungan pemerintahannya.

Di sisi lain, menurut kelompok ke dua ini, pernyataan Jokowi dianggap terlalu tendensius. Pernyataan dimaksud meski tidak langsung ditujukan kepada siapa dan ormas apa, tetapi, arahnya tidak samar. Yakni kepada kelompok Islam. Suatu komunitas terbesar di Republik Indonesia, yang karena besarnya pula, banyak kemudian di kalangan masyarakat Muslim, menampilkan gejala yang sangat variatif. Tentu termasuk didalamnya, kelompok Muslim yang dalam bacaan tertentu, dianggap kritis.

Terhadap kelompok kritis, Jokowi dipandang kelompok kedua, telah menunggangkannya kepada isu-isu radikalisme Islam. Maka, tidak heran menurut kelompok kedua dimaksud, jika kelompok kritis disandingkan dengan pendukung, penyokong dan pemberi garansi keberlangsungan mereka.

Karena dan dengan nalar itu, maka, menurut kelompok kedua, pernyataan Jokowi dipandang tidak arif. Tidak bijaksana dan cenderung melampaui posisinya sebagai Presiden. Kelompok kedua ini juga kemudian mengingat bagaimana Soeharto, menyatakan hal yang sama, saat dia berada di Mesir, beberapa hari sebelum pada akhirnya Soeharto lengser. Pernyataan Soeharto terhadap kelompok kritis mahasiswa di bawah Panji Amien Rais, untuk digebuk dan ditendang, menurut kelompok kedua, justru mempercepat kejatuhannya.

Dalam nalar ini, pernyataan Jokowi yang dikesankan sangat kesal dan marah ini, menurut beberapa analis politik, justru dapat menurunkan wibawanya sendiri dalam posisinya sebagai presiden.

Memahami dalam Konteks Fungsi Bahasa

Lepas dalam soal setuju atau tidak atas pernyataan Jokowi, atau mereka yang mengkritisinya, tetapi  yang pasti, pro kontra yang menggunakan bahasa [terdiri dari kalimat, kata dan hurup], telah menunjukkan bahwa bahasa dalam kode tertentu memang memiliki fungsi sebagai media kontrol sosial.

Sebagai sebuah kontrol sosial, apa yang disampaikan Jokowi dan kalimat lain dari “rival politik”, sesungguhnya harus dipandang biasa saja.  Itulah dinamika. Dan karena dinamika pula, sesungguhnya perjalanan kebangsaan ini masih bisa kita teruskan. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar