Kebutuhan pada Terang dan Gelap

0 94

Kegelapan kadang dibutuhkan hadir dan datang menyapa manusia, agar segala yang empiris masih mampu kita simpan. Dengan dunia menjadi gelap, kita mampu menjaga karena kita sadar tidak segala hal harus selalu diketahui. Apapun yang disebut sebagai kenyataan, tidak selalu berada dalam ruang material yang empiris. Kita akan selalu sadar, selalu ada yang imateril dan tidak terbuka dalam rona hidup penuh cahaya dengan karakternya yang terang. Eksistensi sesuatu yang imateril itu selalu hanya berada dalam ruang yang sangat gelap. Fakta menunjukkan, bahwa siang  sendiri hanya datang setelah malam berlalu atau ketika malam terpaksa berlalu.

Jika gelap diasumsikan dengan keburukan dan kecahayaan diasumsikan dengan kebaikan, maka, dalam konteks tertentu, kebaikan sering kali muncul atas hadirnya keburukan. Keburukan seringkali melahirkan kebaikan, atau dalam terminologi, kebaikan dalam makna pejoratif sering juga melahirkan keburukan.

Asumsi Dunia Gelap

Jika malam diasumsikan dengan kegelapan, maka, siang layak kita sandingkan dengan kata kecahayaan. Hanya jika kita sadar bahwa ternyata, yang terangpun hadir setelah yang gelap datang, kita dapat menghormati segenap kegelapan. Karena itu, kita patut bersyukur dapat menikmati hidup penuh kecahayaan dan menikmati segenap kemurahan atas dasar kecahayaan itu, karena kita tahu betapa dunia gelap membawa kita hidup dalam segenap keterbatasan. Kita tidak mungkin dapat mengetahui segala sesuatu, karena kita dibatasi dalam segenap keterbatasan. Sepanjang kita tetap berada dalam posisi sebagai hamba Tuhan, maka, tidak segala hal harus dapat dijangkau kita.

Bagi saya, kegelapan adalah senyawa aktif dengan kecahayaan. Persis seperti Tuhan telah meletakkan tempat terdingin di Galaxi Bima Sakti itu, ternyata patut diduga berada pada kerak Matahari. Energi Matahari yang menerangi segenap jagad raya ini, ternyata hanya mampu berfungsi ketika kerak terdinginnya masih tetap tersedia di suatu tempat yang sangat panas. Ketika kerak itu tidak lagi dingin, maka, mungkin energi matahari akan hilang.

Situasi semacam ini, bukan saja seharusnya mampu mendorong diri untuk sadar, bahwa ternyata di alam ini ada cahaya abadi yang selalu menerangi jalan kehidupan kita, tetapi juga menyimpulkan satu kenyataan sejarah, bahwa kecahayaan hanya akan tetap bercahaya ketika ia dihampiri kegelapan. Untuk mengabadikan cahaya kehidupan, karena itu, justru harus mendorong diri kita pernah berada dalam kepekatan tanpa cahaya sedikitpun.

Yang sulit dari kondisi ini adalah, sejauh mana pada akhirnya kita menikmati segenap cahaya Tuhan. Jika kita tidak mampu menikmati segenap fenomena yang ada, maka, jangankan gelap, kecahayaanpun tak mungkin mampu kita nikmati, apalagi untuk disyukuri. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...