Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Gengsi Bahasa Indonesia Masih Rendah

0 5

Konten Sponsor

GENGSI bahasa Indonesia masih rendah di mata presiden dan pejabat Negara lainnya. Terutama pada penggunaan bahasa nasional tersebut dalam forum Internasional, baik di dalam maupun luar negeri. Para pejabat negara masih terpaku pada bahasa Inggris yang dianggap memiliki gengsi lebih tinggi. Sehingga membawa dampak pada siapapun untuk berbicara  dengan gaya  “ke-english-english-an”.

Sementara pada kalangan masyarakat bawah, bahasa Indonesia justru mendapat tempat yang lebih baik. Para supir, pedagang di pasar, ibu-ibu rumah tangga. Bahkan pengayuh becak dan pengojek pun terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari. Dan terkadang untuk berkomunikasi dengan hewan piaraan pun mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Namun, kekuatan besar ini sayangnya kurang mendapat tempat di mata pejabat Negara, terutama presiden. Tak mustahil, jika cara berbahasa presiden ini memengaruhi pejabat negara di bawahnya.  Tentu, nasionalisme mereka dipertanyakan.

Dalam pasal 28 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2008 tentang Bendera, Bahasa dan  Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dinyatakan, bahwa: ”Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di  dalam  atau  di luar  negeri.”

Sementara dalam pasal 32 (1) Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa: “Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia. Pada ayat (2) dinyatakan bahwa: ”Bahasa Indonesia dapat  digunakan dalam forum yang  bersifat internasional di luar negeri.”

Kuatnya Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki kekuatan luar biasa dibanding negara-negara terjajah  lainnya di benua Asia. Pada bekas negara-negara jajahan di sebagian benua Asia, bahasa mereka banyak dipengaruhi bahasa bekas negara jajahannya. Sebut saja, India dan Filipina yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris. Sementara di Suriname, bahasa Belanda dan Jawa menjadi dominan dan hampir menghilangkan bahasa ibu mereka. Ini karena Suriname pernah dijajah Belanda dan mengirimkan para pekerja dari Jawa untuk bekerja di negara tersebut. Sementara pengguna bahasa Jawa di negara itu tak bisa sedikit pun berbahasa Indonesia. Karena memang pada abad ke-17 dan 18 saat mereka dipaksa ke Suriname Jawa belum bersentuhan kuat dengan Melayu.

Andaikata kekuasaan Belanda dalam abad ke-19 itu terbatas pada Jawa, maka kiranya bahasa Jawa dengan gampang akan sudah menjadi sebuah bahasa dari negara bangsa Jawa bekas jajahan dalam abad ke-20. Tetapi sejak 1910, kawasan Belanda yang demikian luasnya di Timur itu sekarang meliputi begitu banyak golongan etnolinguistik yang penting, sehingga “hak Jawa” tersebut terhapus secara mendasar (Benedict R. Anderson, Prisma, November 1982).

Pada catatan kaki analisanya, Anderson mengutip John Hoffman, “A Colonial Investment, Indonesia (April 1979). Dalam karangannya The Portuguese Seaborne Empire 1415-1825, Charles Boxer mengemukakan pendapat menarik, bahwa bahasa Belanda sudah terkalahkan dalam abad ke-17, bukan oleh bahasa “Melayu”, tetapi oleh bahasa Portugis, yang sudah mendalam berakar sebagai bahasa perdagangan Laut Asia: “Di Asia bahasa Portugis, atau lebih tepat bentuk-bentuk kreol dari padanya, bertahan terhadap tekanan dan perundang-undangan pemerintah Hindia Belanda dengan hasil gemilang.

Para penguasa Islam mutakhir di Makasar bukan main fasih dalam bahasa Portugis. Dalam bulan April 1645 Gerrit Demmer, gubernur Maluku, menyatakan bahwa bahasa Portugis ‘atau bahkan Inggris’ tampaknya merupakan bahasa yang lebih gampang dipelajari dan lebih menarik bagi orang Ambon ketimbang bahasa Belanda.

Ke-English- English-an

Nasib bahasa ini diperlakukan berbeda oleh kalangan menengah atas. Nama-nama yang berbau ke-english-english-an selalu mewarnai berbagai tempat. Terutama pusat-pusat bisnis, seperti mall, perbankan, hotel dan bahkan pada acara-acara kedaerahan. Seperti festival dan arak-arakan. Pemerintah Kabupaten Cirebon misalnya, untuk menamakan acara kirab atau dalam bahasa Cerbon ider-ideran memakai nama The Caruban Festival 2016 serta Imagine Mask 2016.

Melihat gaya semacam itu, penulis menanyakan kepada pihak Pemerintah Kabupaten Cirebon, ”Apakah tidak ada dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah, istilah- istilah tersebut?” Istilah The Caruban Festival 2016 serta Imagine Mask 2016, sebenarnya bisa digantikan dalam bahasa daerah menjadi Ider-ideran Cerbon 2016 dan Impenan Topeng Cerbon 2016 atau pula dalam bahasa Indonesia menjadi Kirab Caruban 2016 dan Impian Kedok Cirebon 2016.

Bahasa Indonesia Telah Dijajah Oleh Bangsanya Sendiri

Memang maksud panitia festival, agar ajang acara tersebut bisa jadi momen internasional. Namun sayangnya, kata Kepala SMK Pariwisata Mandiri, Sudarli, pelancong dari mancanegara hanya berkisar 5% saja. Sisanya 95% merupakan pelancong dari dalam  negeri. “Bahasa Indonesia telah dijajah oleh bangsanya sendiri,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Muhammad Abdul Khak. Menurutnya, pembahasaan seperti itu terjadi di mana-mana.

Di Cirebon saja misalnya, hampir di sepanjang jalan, perkantoran, mall, hotel dan sebagainya dipenuhi dengan bahasa asing tersebut. “Kenapa sih, harus menggunakan kata security, bukan satuan pengaman (satpam)? Kalau kata security digunakan dengan gaji yang lebih tinggi tinimbang “satuan pengaman”, mungkin masih bisa dimaklumi. Tetapi kalau gajinya lebih rendah, tak usahlah?”, tanyanya.

Menurutnya, cara yang lebih adil dalam pemakaian kata asing seharusnya mengataskan bahasa Indonesia, baru kemudian dalam bahasa Inggris. Misalnya “Satuan Pengaman” dibarengi dengan kata “Security”. “Jangan semuanya menggunakan bahasa Inggris”. Pihak Balai Bahasa sendiri saat ini masih terus meneliti penggunaan kosakata yang seringkali merusak bahasa Indonesia. “Jika kita masih menganggap bahasa asing lebih tinggi gengsinya dibanding bahasa Indonesia, artinya kita masih berperadaban rendah. Paling tidak lebih rendah dari bangsa asing tersebut,” ujarnya di sebuah hotel berbintang.

Pada ranah properti, seringkali kita baca tulisan 24 hour romantic pool with beautiful view akan lebih baik ditulis “kolam renang romantis 24 jam dengan panorama indah”.   Dalam ranah kuliner, pebisnis lebih suka menulis any kind of breakfast menu & sandwich padahal artinya dalam bahasa Indonesia “bermacam-macam menu sarapan & roti isi”. Dalam penggunaan bahasa, Balai Bahasa menetapkan “Bahasa Daerah Pasti”, “Bahasa Indonesia Wajib” dan “Bahasa Inggris (asing) Perlu”. Itulah nasib bahasa kita yang masih direndahkan oleh pemakainya sendiri.

Kekuatan Sumpah

Bahasa Indonesia yang semula berinduk dari bahasa Melayu, memiliki kekuatan sumpah yang luar biasa. Pada tiga kalimat sumpah Pemuda Indonesia pada 28 Oktober  1928 dinyatakan: ”Kami Poetra Poetri Indonesia mengjoengjoeng bahasa persatoean,  bahasa Indonesia.” Kata ”Indonesia” pada masa itu telah menjadi milik anak muda yang merasa sebagai putra-putri Indonesia. Nasionalisme Indonesia telah masuk dalam relung jiwa anak  muda yang tergoda untuk merdeka.

Bahasa Indonesia yang berkembang sangat  pesat dan  mengalahkan  induknya bahasa Melayu, membuat bahasa Indonesia melaju menjadi ”bahasa yang mandiri”. Meski dunia kebahasaan internasional belum mengakui kemandirian bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia masih dimasukkan dalam rumpun Melayu dengan menyebut ”bahasa Melayu dialek Indonesia”.

Di Jawa Barat, penggunaan istilah “Melayu Betawi” pada Perda Jabar no.5/2003 tentang Pelestarian, Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa dan Aksara Daerah di Jabar menunjukkan, untuk bahasa yang berkembang pada masyarakat di sekitar Batavia (kini Jakarta) menunjukkan bahasa Melayu sudah menjadi bahasa gaul (lingua franca) yang kuat. “Melayu Betawi” diartikan sebagai bahasa Melayu yang sudah disesuaikan dengan wilayah budaya (geoculture) di Betawi. Betawi sebagai meltingpot sudah tentu banyak dimasuki unsur-unsur budaya lain. Bukan hanya Melayu, tetapi juga Arab, China, India dan etnis lainnya.

Bahasa Sebagai Alat Komunikasi

Dalam pandangan pakar bahasa Edward Sapir (Gutenberg: 1921), bahasa adalah metode murni manusia dan non-naluriah dalam mengkomunikasikan ide-ide, emosi, dan keinginan melalui sistem simbol yang secara sukarela diproduksi. Simbol-simbol ini, dalam contoh, pendengaran dan mereka yang diproduksi oleh apa yang disebut “organ berbicara.” Tidak ada dasar naluriah dilihat dalam bahasa manusia seperti itu, ekspresi betapapun naluriah dan lingkungan alam dapat berfungsi sebagai stimulus untuk pengembangan unsur-unsur tertentu dari suatu pembicaraan, kecenderungan naluriah betapapun, motorik dan lainnya, dapat memberikan berbagai hal yang ditentukan atau cetakan untuk ekspresi linguistik.

Satu kata lagi mengenai hubungan antara bahasa dan pikiran. Sudut pandang yang kita kembangkan tidak dengan cara apapun menghalangi kemungkinan pertumbuhan kemampuan berbicara berada pada perkembangan pemikiran tingkat tinggi. Kita mungkin menganggap bahasa yang muncul pra – rasional – hanya bagaimana dan pada tingkat yang tepat. Apa aktivitas moral kita tidak tahu – tapi kita tidak harus membayangkan, bahwa sistem yang sangat maju dari simbol perkataan sendiri yang keluar sebelum usul konsep yang berbeda dan berpikir.

Bahasa ini merupakan suatu sistem pendengaran berupa simbol-simbol. Sejauh itu diartikulasikan juga merupakan sistem motor. Tetapi aspek motorik berbicara jelas secara sekunder pada pendengaran. Pada individu normal dorongan untuk pidato atau berbicara, pertama berlaku di bidang citra pendengaran dan kemudian ditransmisikan ke saraf motorik yang mengontrol organ-organ berbicara.

Komunikasi  yang merupakan objek yang paling dekat dengan berbicara, berhasil dilakukan hanya bila persepsi pendengaran para pendengar dijabarkan ke dalam aliran yang tepat dan dimaksudkan citra atau pemikiran atau gabungan keduanya. Oleh karena itu siklus berbicara, sejauh kita dapat melihatnya sebagai instrumen murni eksternal, dimulai dan berakhir di ranah suara. Kesesuaian antara citra pendengaran awal dan persepsi pendengaran akhir adalah segel sosial atau surat perintah dari isu keberhasilan sebuah proses (Sapir,1921).

Bahasa Sebagai Sebuah Identitas

Bahasa menjadi penting  sebagai sebuah identitas seseorang. Seorang Indonesia tentu akan menunjukkan sikapnya sebagai jiwa yang memiliki Indonesia. Dengan demikian kewajiban berbahasa Indonesia bagi presiden, wakil presiden dan pejabat negara  lainnya bersifat wajib dan mutlak dalam forum internasional di dalam maupun luar negeri.

Benar, setiap individu dalam arti tertentu ditakdirkan untuk berbicara, tapi itu sepenuhnya karena keadaan. Bahwa ia lahir bukan hanya di alam, tetapi dalam pangkuan masyarakat yang pasti, cukup yakin, untuk memimpin dia terhadap tradisi-tradisinya. Hilangnya suatu bahasa, berarti hilangnya kepribadian sebuah bangsa dan  juga Tanah Air. Ironis memang, pada tataran masyarakat atas, bahasa Indonesia terkikis dengan digantikan bahasa asing. Sementara pada masyarakat bawah, bahasa daerah  terkikis akibat berkembangnya bahasa Indonesia. Lalu di manakah kedudukan ketiga  bahasa tersebut. Balai Bahasa Provinsi Jawa  Barat, memberikan alternatif kedudukan bahasa-bahasa tersebut, yaitu: bahasa daerah, penting; bahasa Indonesia, wajib; dan  bahasa asing, perlu. HANYA  PERLU. ** (NURDIN M.  NOER) / Wartawan  Senior, Ketua Lembaga  Basa lan  Sastra Cerbon  (LBSC)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar