Gerakan Gemar Membaca: Upaya Membentuk Generasi Unggul

0 169

GERAKAN GEMAR MEMBACA sebagai upaya membentuk generasi unggul: “Indonesia sejatinya menjadi negara dan bangsa yang besar”. Pernyataan ini bisa dibenarkan jika kita melihat berbagai faktor yang mendukung untuk kemajuan suatu bangsa. Beberapa hal bisa disebutkan seperti sumber daya alam dengan kekayaannya yang melimpah, penduduk yang besar dan keragaman budaya yang luar biasa. Dengan tiga hal tersebut akan menjadi modal utama bagi kemajuan bangsa.

Namun kenyataannya, hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda negeri ini akan menjadi negara yang besar, negara yang bisa dibanggakan oleh rakyatnya maupun disegani oleh bangsa-bangsa lain. Dalam banyak hal Indonesia tidak bisa bersaing dan sering dikalahkan atau tertinggal oleh negara lain yang sumber daya alam dan penduduknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia seperti halnya Singapura atau Vietnam.

Masalah yang Memprihatinkan

Realitas sebagaimana dideskripsikan di atas, jika ada pertanyaan kenapa terjadi seperti itu? Jawabannya tentunya tidak sulit. Hal itu bisa terjadi karena sumberdaya manusia Indonesia tidak terdiri dari SDM yang handal dan unggul sehingga kekayaan alam yang melimpah tidak bisa dioptimalkan pemanfaatannya. Sumberdaya manusia yang tidak handal dan tidak unggul  inilah yang perlu disikapi secara serius oleh siapapun.

Selain SDMnya yang belum unggul, diperparah lagi dengan moralitas dan karakter bangsa yang bobrok. Fakta tentang hal ini antara lain: Tawuran antar pelajar/mahasiswa, maraknya narkoba di kalangan remaja dari mulai pemakai, pencandu, pengedar bahkan ada yang sudah “berhasil” menjadi bandar.

Selain itu, meningkatnya jumlah remaja yang melakukan seks pra nikah dan aborsi, maraknya kasus kriminalitas (perampokan, pembunuhan dan perilaku anarkis lainya) yang pelakunya juga banyak dari kalangan remaja dan rendahnya kepedulian remaja terhadap pendidikan sudah saatnya dihentikan. Generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa idealnya menjadi garda terdepan dalam membasmi dan mencegah penyakit masyarakat tersebut.

Melihat kondisi yang memprihatinkan di atas, semua komponen bangsa sudah wajib hukumnya bahu membahu mengatasi, menyelesaikan dan mencari jalan ke luarnya dengan berbagai program nyata. Jika dibiarkan, tidak mustahil akan menenggelamkan bangsa ini kedalam jurang kehancuran dan menjadi bangsa yang hina dan tidak bermartabat.

Masalah Budaya Membaca di Indonesia

Masalah lain yang memprihatinkan bangsa ini adalah masalah rendahnya budaya baca. Beberapa fakta dari beberapa sumber menyebutkan bahwa:

  1. Penduduk Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio ketimbang buku atau media baca lainnya. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0).
  2. Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%.
  3. Tahun 2011, UNESCO merilis hasil survei minat baca terhadap penduduk di negara-negara ASEAN. Faktanya menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia paling rendah dengan nilai 0,001. Artinya, dari sekitar seribu penduduk Indonesia, hanya satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi.
  4. Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
  5. Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
  6. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Penyebab Rendahnya Minat Baca

Rendahnya minat baca jelas menjadi ancaman tersendiri bagi bangsa ini. Masalah ini harus segera diselesaikan dan dicari solusi yang tepat. Mencari format solusi yang tepat, bisa diawali dengan memahami faktor penyebab rendahnya minat baca tersebut. Agus Munawar, pengelola Sudut Baca Soreang, saat diskusi bertajuk “Buku di Hati Masyarakat” dalam gelaran “Padjadjaran Information and Cultural Event (Price)”, di Kampus Unpad Jatinangor, mengemukakan ada tiga faktor rendahnya minat baca di Indonesia. Pertama, masih sulitnya akses terhadap buku. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah toko buku yang terbatas, sedikitnya perpustakaan yang masih sedikit di satu wilayah, dan daya beli masyarakat yang rendah.

Hal kedua, buku yang ada kurang mencerminkan kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat masih sulit mengakses informasi yang dibutuhkan melalui buku. Hal ketiga ialah media promosi buku yang terlalu serius dan “angker” sehingga belum mampu menarik minat masyarakat untuk membeli buku tersebut.

Selain beberapa faktor sebagaimana dikemukakan Agus tersebut, penyebab minat baca kita rendah antara lain adalah:

  1. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca,
  2. Membaca tidak menjadi gaya hidup dari kecil,
  3. Perkembangan teknologi mutakhir yang menawarkan informasi instan baik dari internet ataupun televisi—ini jelas semakin membuat orang malas membaca,
  4. Masih adanya masyarakat buta huruf khususnya di daerah terpencil yang minim akses pendidikan, dll.
  5. Ketersediaan buku dan bacaan lain yang minim.
  6. Bagi (sebagian) masyarakat Indonesia, masih ada pemahaman bahwa “membelanjakan uang untuk membeli buku, koran, majalah, atau jenis bacaan lain yang berguna adalah sia-sia”.

Budaya Gemar Membaca

Ayat Alquran yang pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad saw adalah “Iqra” (bacalah!). Kalimah (kata) ini memiliki makna yang luas, tidak hanya sekedar suruhan membaca dalam arti membunyikan huruf dan tulisan, tetapi membaca/mengkaji berbagai fenomena alam yang qauliyah maupun kauniyah. Dengan “Iqra” bisa menjadi insfirasi bagi kemajuan peradaban manusia lewat ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi bagi kepentingan dan kemaslahatan manusia.

“Budayakan Gemar Membaca”. Membaca adalah jantung pendidikan. Menurut Francis Baron, membaca dapat menciptakan manusia yang lengkap. Membaca adalah pintu menuju gerbang ilmu pengetahuan, dengan membaca jendela dunia akan terbuka, setiap kita akan mengetahui dan memahami berbagai informasi untuk memperkaya khasanah keilmuan dan pengalaman.

Membaca bisa menjadikan hal yang tidak diketahui menjadi tahu dan yang tidak dimengerti menjadi dimengerti. Siapapun yang ingin maju, dalam berbagai kesempatan harus mulai membiasakan membaca, apapun sumber bacaannya (tentunya yang positif). Menumbuhkan kepedulian membaca, berarti menginvestasikan diri untuk perubahan dan kemajuan bangsa yang unggul.

Membangun dan menumbuhkembangkan budaya ilmiah dengan “Gemar Membaca” adalah salah satu solusi terbaik dalam mencegah terjadinya perilaku dan pergaulan yang semakin memprihatinkan. Terutama di kalangan generasi muda. Melalui budaya ilmiah setiap generasi muda dituntut untuk membudayakan hal-hal yang bersifat keilmuan. Seperti membaca, menulis, berdiskusi, aktif dalam berbagai forum/ organisasi ilmiah dan menjadi student center learning di lingkungan pendidikan.

Dengan menyibukan diri pada berbagai aktifitas positif, generasi muda diharapkan menjadi generasi bangsa yang cerdas, terampil, berwawasan luas dalam ilmu pengetahuan dan menjadi SDM yang unggul dalam berbagai bidang. Inilah generasi muda bangsa yang akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju, bermartabat dan disegani bangsa lain.

Meningkatkan Budaya Baca

Rendahnya minat baca masyarakat kita sebagaimana beberapa fakta yang telah disebutkan di atas, sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia. Sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia. Pada akhirnya, akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini.

Menumbuhkan minat baca harus diupayakan secara sinergis oleh berbagai kalangan baik oleh pemerintah maupun kalangan masyarakat yang peduli terhadap kemajuan bangsa. Beberapa hal bisa dilakukan antara lain:

  1. Program “Pemaksaan” meminjam buku perpustakaan dan diberi tugas membuat kesimpulan dari buku yang dibaca
  2. Membangun/memperbanyak tempat-tempat peminjaman buku yang mudah diakses/dekat dengan masyarakat
  3. Menyediakan buku/bacaan dan ruang baca di tempat/fasilitas umum
  4. Menargetkan jumlah buku yang dibaca dalam seminggu/sebulan—mungkin empat atau lima buku. Kebiasaan ini harus rutin dilakukan agar kita terbiasa membaca.
  5. Membangun atmosfer membaca. Di mana saja ada waktu luang, sempatkanlah membaca—di kantor, ruang tunggu rumah sakit, angkutan umum (terminal), toko buku, dll.
  6. Perkenalkan anak dengan buku-buku yang sesuai dengan konsumsi usianya
  7. Hindari memanjakan anak dengan memberi mereka telepon genggam, gadget-gadget mutakhir, dan membiarkan mereka menonton televisi terus-menerus atau membiarkan mereka main game.
  8. Bangunlah motivasi diri untuk gemar membaca
  9. Mulailah membaca sesuatu yang kita sukai.
  10. Menyisihkan waktu yang tepat dan nyaman untuk membaca.
  11. Menumbuhkan rasa ingin tahu
  12. Minta seseorang merekomendasikan buku yang bagus untuk dibaca

***Wawan A Ridwan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.