Gerakan Komunitas Janda Dalam Pemberdayaan Kaum Lemah

2 27

Pemberdayaan Kaum Lemah: Ajaran agama yang diyakini suci bagi pengikutnya, mampu menumbuhkan dinamika pada diri seseorang. Dimensi-dimensi empiris dari suatu agama mendorong agamawan untuk melihat kembali makna dan tujuan hidup. Dimensi ritual, sebagai format sekaligus simbol bagaimana manusia bertindak sesuai dengan simbol-simbol yang diajarkan untuk menemukan makna dan arti di balik simbol.

Dimensi mistikal sebagai pendorong untuk melaksanakan simbol-simbol ritual yang dirasa berat, sehingga perlu adanya sugesti yang melintasi  pengeahuan fisika dan menemui metafisika. Dimensi idiologikal dan intelektual, sebagai pencerah bahwa apa yang dilakukan oleh manusia melalui ritual-riual tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai aktor di alam yang segala tingkahlakunya harus berwawasan humanis. Nilai humanis ini sebagai ciri dari tindakan manusia yang diatasnamakan agama, dan tindakan ini sebagai bukti dari dimensi sosial agama.

Dari akar historis yang melatarbelakangi tindakan seorang agamawan, dapat dimengerti mengapa kaum janda yang telah memasuki usia senja mampu melakukan suatu gerakan. Mereka tidak ingin keberadaannya seperti ketiadaannya, terlebih sampai membebani orang lain. Konsep-konsep metafisik dan eskatalogik yang ditawarkan oleh agama, dapat mendorong mereka untuk melakukan sesuatu di luar perhitungan. Usia senja yang menghiasi mereka, tidak melemahkan tenaga dan fikirannya untuk berbuat yang terbaik, tetapi justeru menambah kearifan dan kedewasaan, ketajaman dalam memandang alam riel.

Keluh kesah kehidupan dan berbagai macam pengalaman hidup telah mereka lalui. Mulai kemelaratan hingga kesenangan, atau sebaliknya, mulai dari keenakan hingga kesengsaraan telah mereka rasakan. Dari pengalaman hidup ini, menjadikan mereka lebih menyadari makna dan tujuan hidup. Informasi kematian yang mendatangi usianya, bukan sesuatu yang ditakuti dan dijauhi, justeru sebagai peringatan dini untuk mempersiapkan bekal sebelum keberangkatan agar tidak menyesal di kemudiannya.

Dengan usia anggota KOMUNITAS JANDA yang relatif sepadan, didukung dengan kondisi status yang seperasaan, membuat mereka memiliki kepekaan empatik yang tinggi terhadap sesamanya. Ketika para janda berkumpul, mereka dapat melarutkan perasaannya dalam perasaan orang lain, dan perasaan orang lain dalam perasaannya. Dari sinilah muncul rasa kebersamaan yang dibangun di atas tiga nilai;

  1. Nilai kesamaan dalam keyakinan.

Agama mengajarkan bahwa mukmin satu dengan mukmin lain adalah bersaudara. Konsekuensi dari persaudaraan adalah kesiapan untuk membantu saudaranya yang lain. Si kaya dan mampu akan menerima kekurangan si miskin melalui peringanan bebannya. Sementara si miskin akan menerima kondisi si kaya tanpa iri dan sakit hati. Keduanya akan saling melengkapi, tidak ada orang yang dianggap kaya kalau tidak ada yang miskin dan sebaliknya. Kaya dan miskin hanyalah anggapan manusia dalam kaitannya dengan status sosial. Semenara Tuhan tidak pernah memandang manusia dari dimensi tersebut.

  1. Nilai kesamaan kemanusiaan.

Ketika keyakinan keberadaan “Tuhan” sebagai pencipta diterima dengan bulat, akan muncul keyakinan kesamaan dalam kemanusiaan. Jika “Tuhan” adalah kreator Agung dan Tunggal, maka seluruh hasil kreasinya adalah berstatus sama di hadapan kreatornya. Tidak dapat dimungkiri bahwa akibat dari kesamaan keyakinan, membuat perasaan kesamaan dalam kemanusiaan yang terbangun di atas kesamaan¬† keyakinan memiliki nilai lebih dibanding dengan persamaan kemanusiaan yang di luar kesamaan keyakinan. Realitas ini sulit untuk dihindari sebagai bias dari kebersamaan yang dibangun dalam persamaan keyakinan.

  1. Nilai kesamaan status individu.

Masyarakat yang kental dengan budaya patriarkhinya, status janda memberikan kondisi tersendiri bagi kehidupan kaum wanita tatkala telah menjanda. Mereka merasa bahwa status kejandaannya, mereka merasa termarginalkan dari kehidupan yang normal. Salah satu sebab keterasingannya adalah hambatan komunikasi. Usia janda yang telah senja, seolah-olah tidak ada mitra berkomunikasi. Anak-anak mereka yang telah dewasa, komunikasinya lebih banyak terbangun dengan suami/isterinya atau dengan anaknya. Ketika para janda bertemu dengan sesamanya yang memiliki kesamaan status, mereka dapat melarutkan perasaannya melalui komunikasi yang akrab dan bermakna.

Nilai-nilai di atas, memiliki andil munculnya gerakan kaum janda untuk memberdayakan kaum lemah sesamanya. Sebagian kelemahan yang ada pada dirinya, menjadika mereka lebih peka terhadap kelemahan yang dialami oleh orang lain yang senasib.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Dewi puji astuti berkata

    Gerakan yang positif bagi kaum lemah dan memberi dukungan yang memotifasi orang orang yang lemah agar semangat menjalani hidup walaupun ia seorang yang single parent

    1. lyceum berkata

      ya saya kira sudah waktunya ada gerakan membela kaum lemah secara langsung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.