Ghina Jatuh Cinta | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 11

Ghina Jatuh Cinta | Nokhtah Kerinduan Tuhan-Part 11
0 168

Lain Yanti, beda dengan Ghina salah satu sahabat terdekatnya. Ia, justru seperti sedang keranjingan dunia baru. Ghina yang sebelumnya cuwek terhadap lawan jenis, kini seperti memasuki dunia. Dunia yang seolah baru dia kunjungi. Suaminya yang memperlakukannya dengan baik pun sering kali dia lupakan.

Suaminya yang memberi kebebasan berkarier secara baik kepadanya, meski menjadi istri kedua, seolah sedang memperoleh terpaan badai yang kuat. Dia seperti sedang memperoleh daya tawar yang tinggi untuk memasuki sesuatu yang sangat berbeda tadi.

Sosok Ghina yang sebelumnya cuek itu, kali ini terjebak dalam cinta penuh asmara. Ia mencintai sosok laki-laki yang sebetulnya sangat dia kagumi. Tetapi, laki-laki itu sangat dingin meski Ghina memiliki firasat bahwa laki-laki itu juga sama mencintainya. Ghina sangat yakin kalau laki-laki itu mencintainya juga. Hanya, sosok yang dia cintai itu begitu dingin memperlakukannya.

Penampilan Ghina tetap Islami

Penampilan Ghina tetap tidak berubah, meski jiwanya sangat terguncang. Ia Selalu memakai pakaian longgar dan kerudung yang relatif besar. Hanya memang penampilannya menjadi demikian sangat modis. Trend warna pakaian yang dia gunakan, selalu terbarukan. Musik-musik yang sebelumnya hanya menyimpan lagu-lagu Arab, setidaknya, kini tersedia lagu-lagu hit Indonesia dan Barat. Musiknya variatif. Mulai dari Jaz sampai dengan dangdut. Jenis lagu ini, dulu dibenci Ghina.

Laki-laki yang dicintai Ghina itu bernama Luthvi. Teman sekantornya dan dalam beberapa kasus menjadi asistennya. Seringkali Ghina yang memulai ngajak Luthvi untuk berbincang. Ia suka mengajak bicaranya di mobil dan kadang mengajaknya untuk minum kopi atau teh. Sewaktu-waktu Lutvi mengiyakannya. Meski banyak waktu ia melakukan penolakan halus atas ajakannya.

Saat suasana kebathinannya membuncah, Ghina meminta Yanti untuk menemaninya di Kafe-kafe kesukaan Ghina. Hal itu ia lakukan ketika Lutvi tidak menemani keinginannya untuk bertemu. Memang jarak usia antara dirinya dengan suaminya itu, relatif memiliki jarak. Hanya, suaminya itu, tetap menunjukkan diri sebagai laki-laki yang gagah.

Terlebih, suaminya itu adalah pewaris syah dari biro perjalanan haji dan umrah yang dimiliki orang tuanya. Akibatnya, ia sering bepergian. Suaminya sering meninggalkan Yanti dan tentu istri pertamanya. Suatu hari, Ghina berbicara kepada Yanti dalam kalimat seperti berikut ini:

“Yanti … salahkah aku. Salahkan aku, jika aku mencintai laki-laki lain selain suamiku. mendengar kalimat dimaksud, Yanti sangat kaget dan terperangah. Apa Ghina … ! Gila kamu. Nggak boleh … betapa suami kamu demikian tulus mencintai kamu, meski kedudukan kamu hanya menjadi istri keduanya. Ya .. itulah masalahnya kata Ghina. Suamiku terlampau baik, sehingga aku tidak memiliki alasan untuk mencintai laki-laki lain. Tetapi, sejujurnya, aku sangat tulus mencintai seorang laki-laki. Laki-laki ini sangat hebat dapat memautkan hatiku yang sulit kulupakan”

Yanti hanya diam lalu dia bertanya, siapa laki-laki itu Ghina. Ia menjawab, laki-laki itu Luthvi. Terus bagaimana kamu melakukan rasa cinta kamu bersamanya? Ya nggak apa-apa. Aku hanya memendam dan menyimpannya dalam seluruh lubang pori-pori yang tersedia dalam tubuhku. Aku memang pernah mengecup keningnya dan pernah juga memegang tangannya dengan erat. Aku yakin dia juga sama mencintai aku. Cuma dia begitu hebat menjaga rasa cintanya.

Luthvi Laki-laki yang Hebat

Andaikan dia bukan laki-laki yang hebat, tentulah aku sudah terjebak dalam lautan dosa. Aku banyak belajar darinya. Aku juga ingin melupakan dan tidak mencintainya. Tetapi, hatiku sulit membendung rasa itu. Semakin dibendung, rasa itu semakin membuncah dalam dadaku. Bagaimana aku ini, Yanti … Ia meneteskan air mata dengan pelan.

Hai Ghina, kamu tahu kan bahwa Luthvi sudah memiliki istri. Ya aku tahu … Itulah bagian lain dari masalah itu. Ia sering bilang bahwa dirinya sudah tidak mencintai istrinya lagi. Hanya saja, istrinya sangat baik kepadanya. Ia mengatakan menjaga mereka yang mencintai diri kita, termasuk tentu istri atau suami– semakna dengan menjaga cinta Tuhan untuk kita. Dia ingin mendapatkan cinta Tuhan itu. Kecuali Tuhan memiliki firman lain atas nasib cinta yang mereka miliki.

Melalui cintaku kepadanya pula, aku suka diajarkan tentang bagaimana merindukan Tuhan. Merindukan Tuhan, menurutnya adalah menjadi cara bagaimana Tuhan tidak melupakan kita. Yanti kamu harus tahu, justru dengan sikap dia yang seperti itulah, aku makin jatuh cinta. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...