Being A Better Future Teachers – Guru Masa Depan

0 211

Being A Better Future Teachers – Guru Masa Depan. Guru merupakan sosok yang tak bisa dipandang sebelah mata, guru menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun masadepan yang lebih baik. Dengan berbagai perubahan struktur dan undang-undang guru saaat ini menjadi banyak diminati bagi sebagian masyarakat, dengan jaminan hidup yang lebih layak hendaknya menajdikan kualitas guru dewasa ini semakin meningkat, banyak perguruan tinggi yang hari ini membuka program keguruan dari calon guru tingkat Anak Usia Dini (AUD) sampai dengn calon guru Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, melalui perguruan tinggi mereka berlomba-lomba mencetak calon guru masadepan yang baik dengan berbagai paradigma yang bermacam-macam.

Tidak heran ketika setiap tahun banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana guru yang siap untuk diberdayakan, hal ini seharusnya linier dengan kemajuan pendidikan berbagai daerah, “kalau gurunya makain banyak sudah seharusnya masyarakatnya semakin pintar”,  meski diakui hari ini banyak kemajuan teknologi dan ekonomi yang semakin meningkat, baik di kota ataupun di desa. Ini merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat dewasa ini sudah semakin pintar dan cerdas, namun ketika yang menjadi ukurannya adalah karakter atau budi pekerti sehingga membentuk perilaku sosial, bisa kita renungkan bersama-sama dewasa ini apa karekter dan budi pekerti generasi muda semakin membaik atau justru semakin menurun. Seabagian contoh pada tahun 80 an guru merupakan sosok yang mungkin bisa dianggap tabu, bagaimana seorang murid begitu hormat dan santunnya kepada gurunya, untuk berkata mengucapkan salampun seorang anak didik (murid) harus berfikir dua atau tiga kali karena takut salah mengucapkan salam untuk menyapanya, selain itu juga bagaimana seorang anak pada masa itu hormatnya pada orang tua dan hal itu berlangsung karena karakter yang dibangun dari bangku pendidikan yang keras dan tegas.

Dewasa ini jarang kita menemukan seorang anak didik yang seperti demikian bahkan dewasa ini guru bisa saja dijadikan teman yang begitu dekat, sehingga cara biscara dan komunikasinyapun seperti kepada teman sebayanya, rasa hormat, canggung dan takut kepada guru yang pada zaman dulu terciptakan. Namun dewasa ini hal itu sudah mulai memudar, tak heran ketika ada beberapa anak didik yang menyapa gurunya dengan sebuta “brow”.

guru-masa-depan

Tak pantas rasanya kalau kita menyalahkan anak didik. Namun, bagaimana seorang guru juga harus berdialektika dengan dirinya sendiri untuk merenungkannya, apa terdapat hal yang salah dalam cara mendidik anak-anak didiknya. Dewasa ini guru telah berhasil mentransfer ilmunya kepada anak-anak didiknya sehingga anak-anak didiknya menjadi pintar dalam berbagai disiplin ilmu seperti ilmu matematika, fisika, bahasa dan disiplin ilmu-ilmu lainnya, banyak orang yang hafal dengan perkalian, penjumlahan dan pengurangan diluar kepala mereka, banyak juga anak-anak didik yang pandai berbahasa asing seperti bahasa inggris, jepang dan arab. Namaun berbicara budi pekerti dan moral dewasa ini masih kita harus renungkan apakah sudah tertanam betul kepada anak-anak didik kita.

Ada yang mesti dirubah dalam cara mengajar kepada anak-anak didik dewasa ini, seperti apa yang dikatakan Pierre Bourdieu seorang sosiolog, antropolog, dan filsuf Perancis yang mana beliau mengatakan untuk membentuk prilaku sosial seseorang yang baik harus memperhatikan habitus dan arenanya, artinya adalah perilaku seorang anak didik agara menjadi baik kita harus membuat kebiasaan-kebiasaan meraka menjadi baik yang didukung dengan membuat arena-arenanya (lingkungan) juga dengan baik. Denga kata lain bagaimana seorang guru mampu menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak-anak didiknya dan mampu membuat arena-arena yang baik guna mendukung kebiasaan-kebiasaan yang baik. Bagaimana seorang guru membiasakan agar hanya tidak mentransfer ilmu sajah (transfer of knowledge) sehingga anak didik hanya pintar ilmunya sajah seperti pintar matematika, fisika dan bahasa tetapi juga bagaimana seorang guru mampu mentransfer ilmu-ilmu sosial (transfer of social knowledge).

Disamping itu juga bagaimana seorang guru mampu menciptakan dan mempraktekan lingkungan yang baik, lingkungan yang mampu mendukung kebiasaan-kebiasaan baik anak-anak didik calon penerus bangsa ini, dari mulai memperaktekan hal-hal yang kecil dimulai berpenampilan dan berdandan sederhana, tepat waktu dan menjaga kewibawaan. Pribahasa kuno mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari” itu bukan hanya pepatah yang sederhana tapi itulah yang sesungguhnya. Ketika guru hari ini berpenapilan yang berlebihan maka jangan pernah heran ketika melihat anak-anak didiknya bepenampilan yang berlebihan melebihi gurunya. Begitupun ketika seorang guru tidak menunjukkan perilaku-perilaku yang baik jangan pernah merasa heran juga ketika melihat perilaku-perilaku anak-anak didiknya mempunyai perilaku yang tidak baik melebihi perilaku gurunya. Selain itu juga dukungan dari pemerintah dengan membuat aturan-aturan yang yang bertujuan membangun karakter bangsa juga tak bisa dianggap sebelah mata. Kedepan akan terdapat banyak guru yang mampu menjawab tantangan-tantangan kerasnya zaman ini dengan berbagai dorongan banyak pihak hingga muncul guru masadepan yang baik (being a better future teachers)

Oleh : Nunu Nurfirdaus, M.Pd

Dosen PGSD STKIP Muhammadiyah Kuningn

Komentar
Memuat...