Hadits dalam Sorotan Intelektual Muslim

Hadits dalam Sorotan Intelektual Muslim
0 140

Hampir dapat dipastikan, tidak akan ada satu kelompok-pun di antara umat Islam, yang merasa tidak membutuhkan sunnah. Hal ini, setidaknya dapat dilacak dari sabda Nabi Muhammad yang menyatakan:  Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua hal untuk kamu semua [umat Islam]. Jika kalian semua berpegang teguh pada hal itu, maka, anda semua selamanya tidak akan tersesat. Kedua hal itu adalah, al Qur’an dan sunnah atau hadits.

Kebutuhan akan sunnah [hadits], bagi umat Islam menjadi demikian urgen. Ia menjadi sebagai sumber hukum Islam di satu sisi, dan menjadi pedoman dalam menjalani hidup sehari-hari, di sisi lainnya. Sunnah dalam dua kepentingan itu, selalu berada dalam posisi penting sebagai rujukan kehidupan umat.

Sunnah atau hadits, adalah segala sesuatu yang sering disandarkan atas ucapan, perbuatan, dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad. Aktivitas keseharian umat Islam, karena itu, langsung maupun tidak, dituntut memiliki pertalian dengan apa yang disebut dengan sunnah.

Dengan nalar semacam ini, maka, Mu’tazilah yang sering dituduh sebagai Madzhab yang tidak menerima sunnah, sebenarnya mereka menerimanya. Meski terbatas atas sunnah dimaksud pada sesuatu yang dianggapnya mutawatir.[1]

Landasan Hukum Pengakuan Sunnah

Urgensi sunnah sebagai sumber hukum Islam, tampak dengan jelas dari berbagai keterangan Allah dalam al Qur’an. Keterangan dimaksud banyak di antaranya yang menyandingkan sunnah dengan al Qur’an. Atau setidaknya, sunnah sering dianggap sebagai penerjemah dan alat untuk memerinci segala yang terdapat dalam al Qur’an.

Ayat al Qur’an yang menerangkan tentang hal ini, terlihat misalnya dalam:

  • Al Qur’an surat Al-Najm [53]: 3-4 yang artinya: “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
  • Al Qur’an surat al-asyr [59]: 7 yang artinya: “… dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.”
  • Al Qur’an Surat An Nisa [4]: 80 yang artinya: “Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad), maka ia telah mentaati Allah. Ban barang siapa berpaling darinya maka ( ketahuilah ) Kami tidak mengutus ( Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka

Itulah mengapa, pentingnya meletakkan kedudukan Hadis sebagai sumber hukum. Ia seharusnya memiliki kedudukan yang serendahnya berada di posisi ke dua setelah Al Qur’an.

Mengapa Ada yang Meragukan Sunnah

Pertanyaannya, mengapa ada sekelompok orang yang meragukan sunnah? Hal ini, tampaknya terjadi karena sunnah pernah mengalami masa krisis hebat. Krisis yang mendorong kejumudan akibat banyaknya pemalsuan atas hadits. Pemalsuan dimaksud dilakukan orang tidak bertanggungjawab, dengan motif yang beragam.[2] Pemalsuan ini, umumnya terjadi terjadi saat dunia Islam mengalami krisis politik, khususnya antara kelompok ummawiyah dengan kelompok alawiyin.

Karena itu, sebetapapun hadit itu menjadi demikian penting, tidak heran, jika banyak di antara mereka yang meragukan hadits sebagai sumber hukum Islam. Keraguan inilah yang yang melahirkan disiplin ilmu yang khusus mengkaji dan meneliti hadits. Penelitian atasnya, dilakukan baik menyangkut kesinambungan sanad, keadilan dan kedhabitan perawy, atau bahkan kandungan mattan.

Kajian dan penelitian atas hadit Nabi, termasuk terhadap mattan hadits itu, dilakukan dengan maksud untuk membersihkan hadits dari berbagai kerancuan, serta memposisikannya seperti semula. Yakni, sebagai sumber rujukan hidup umat Islam.

Ilmu Rijalul Hadits

Ilmu yang mengkaji tentang hadits, dilakukan para ulama Muslim, pada abad ke dua sampai abad ke empat Hijriyah. Salah satu produk kajian dimaksud, adalah kajian atas perawy hadit. Ilmu ini mengkaji positif-negatif, atas keseluruhan perawy hadit. Ilmu ini dikenal dengan sebutan jarah dan ta’dil.

Jarah dan ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang kondisi perawi. Apakah dia dapat dipercaya, handal, jujur dan tegar atau sebaliknya? Sampai di mana mereka berbohong, lalai atau pelupa.[3]

Secara keilmuan, Ilmu Jarah dan Ta’dil, sebenarnya bersumber dari ilmu Rizal al Hadits. Tetapi karena ilmu ini memiliki ciri yang spesifik, maka, ia akhirnya berdiri sendiri.

Mustafa al Syiba’i, akhirnya memasukan ilmu ini, sebagai salah satu ilmu yang paling berharga dalam konteks hadits. Ilmu ini berhadapan secara langsung dengan kajian atas kredibilitas perawi hadits.[4] Ilmu dianggap sangat penting. Karena itu, siapapun yang ingin menggeluti hadits, maka, ia harus berhadapan dengannya secara seksama. Apakah suatu hadits dikatakan shahih atau tidak, melalui ilmu inilah jawabannya? Prof. Cecep Sumarna

Daftar Bacaan

[1] Nurcholish Madjid. Sunnah dan Perannya dalam Penetapan Hukum Islam.  Dalam catatan Pengantar Penerjemah. Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. Ke 2, 1993. p. 9
[2] Motif dimaksud, dapat berupa motif politik dengan maksud untuk membela atau memperkuat kelompoknya. Menyudutkan lawannya, agar kekuasaannya tetap bertahan. Hadit palsu dengan motif politik, banyak ditemukan, khususnya dalam perseteruan politik kelompok sunni dan si’i. Dalam pengertian ini, hadits palsu akan terlihat dari keterangan matan hadits yang terlampau pro Ali [syi’ah] atau hadit yang memuji Mu’awiyah secara berlebihan. Selain motif politik, ada juga motif lain seperti: Motif mencari keuntungan pribadi dengan bersikap oppurtunis terhadap kekuasaan atau untuk untuk mencari kesenangan dunia. Keterangan ini, dapat dilihat dari penjelasan M. Syuhudi Ismail. Kaidah Kesahihan Sanad Hadits. Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 2, 1995.p.104-109. Baca juga Buku Mustafa al Syiba’i. Sunnah dan Peranannya dalam menetapkan Hukum Islam. Terj. Nurcholish Madjid. Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. 2 1993. P. 94-96. Muhammad al Ghazali. Studi Kritis terhadap Hadits. Bandung: Mizan, 1992.
[3] Abdurochman al Mundzir attamimi al Raz. Al Jarhu wa Ta’dil dalam Mukodimah.
[4] ibid.

Komentar
Memuat...