Hajatan Keluarga Miskin | Refleksi Sosial Part – 1

0 49

Pagi sampai waktu menjelang pukul 10, aku mencari kepala tukang project renovasi rumah kami. Sampai waktu dimaksud, ia belum terlihat batang hidungnya. Ia tidak masuk kerja. Dicaripun tak kunjung ketemu. Ia menghilang seperti ditelan bumi. Dirumahnya tidak ada. Semua sepi. Pintu rumah terkunci dan tak ada seorang atau sesuatu apapun yang memberi petunjuk ke mana dia pergi.

Setelah proses pencarian tak membuahkan hasil, diputuskan untuk tidak mencarinya lagi. Biarkan saja dia pergi, ke manapun dia suka. Aku akan mencari penggantinya. Tokh pegawai cukup banyak dan mudah didapatkan. Simple atau sederhana saja.

Dipojok Kutemukan Sosok itu

Sosok laki-laki tua dengan kulit hitam legam yang di kepalanya terikat seutas topi itu, duduk tegak seperti sebuah patung. Ia diam dan kata orang-orang di sekitarnya tidak boleh diganggu. Tidak boleh bicara kepada siapapun. Ia sedang bermunajat kepada Allah. Ia hanya komat-kamit sendiri.

Pakaian yang sudah mulai lusuh serta tampak kotor penuh keringat, tetap dibiarkan tak digantinya. Mulutnya terus komat-kamit tak pernah berhenti. Di saku bajunya terselip dua bungkus rokok kretek merek gudang garam merah. Kopi hitam tersaji dan masih mengepulkan asap panas yang cukup mendidih, Kopi hitam yang tentu saja pahit tersaji didepan tubuhny itu, seperti dibiarkan atau terus digantikan dengan kepulan asap rokok yang tak pernah berhenti. Dengan penuh semangat, aku menghampirinya.

Dia sosok yang telah dua hari berjalan dicari tanpa lelah itu. Ternyata, ia justru terlihat di suatu pojok rumah yang sedang ditata untuk sebuah hajatan. Di tengah sepinya pegawai sebuah rumah kecil yang reyot, mulai dari menata janur kuning, panggung sangat kecil dan sejumlah ornamen lain. Kepala project pembangunan rumahku, bernama Netra itu, ternyata sedang komat-kamit. Ia membaca Mantra entah apa isinya.

Baru beberapa langkah kakiku digerakkan, tiba-tiba dengan sigap beberapa lak-laki, menghadang dan berkata: Maaf tuan, jangan ke sana. Biarkan kami melakukan titah kami. Ini hari terakhir dia bertapa. Besok kami akan hajatan. Kami akan menikahkan puteri kami.

Memanggil Tamu Hajatan

Dengan penuh keheranan lalu saya bertanya, mengapa dan sedang apa? Mereka kemudian membawaku ke pojok lain dan berbisik. Tuan, jika Guru Netra tidak selesai bermunajat untuk kepentingan hajat kami, maka, kami yakin pesta besok bakal bubar. Kami tidak mungkin dapat menghadirkan tamu ke sini. Apalagi dalam jumlah banyak.

Jangankah aparatur pemerintah dan tokoh masyarakat, kami yakin, mereka yang menjadi simbol agama-pun [kyai], pasti enggan datang ke acara model kami. Kami ini tidak dihitung orang. Karenanya hajatannya pasti sepi.

Kami melakukan ritual itu terpaksa. Guru dan saudara kami sedang berjuang dan bermunajat, agar Allah membuat mereka yang tahu bahwa kami hajatan bisa datang ke sini. Speaker dan undangan kertas kami tidak cukup untuk membawa mereka datang ke sini. Melelehlah air mataku .. lalu berkata: Inikah Negeriku?

Komentar
Memuat...