Inspirasi Tanpa Batas

Haji itu Napak Tilas Ketunggulan Tuhan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 9

Haji itu Napak Tilas Ketunggulan Tuhan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 9
0 129

Haji itu Napak Tilas Ketunggulan Tuhan. Pakaian serba putih sudah digunakan Crhonos dan keluarganya. Malam ini, ia bersama keluarganya akan berangkat. Tetapi pengunjung tidak pernah sepi di rumahnya. Ia terus menerus menerima tamu, bahkan sampai larut malam. Terlebih saat di mana, waktu menuju keberangkatannya, tinggal menghitung jam. Tamu yang merupakan kolega dan teman dekatnya, semakin banyak yang datang.Iapun sering kesulitan memperoleh waktu untuk istirahat.

Di tengah segenap suasana rumahnya yang sangat ramai, ia meminta dokter yang biasa menangani sakit keluarganya, untuk hadir. Ia meminta obat-obatan bagi dirinya, tentu yang utama bagi Shofi, yang semakin hari, sakitnya semakin parah. Tubuhnya tinggal kulit dan tulang.  Sangat gampang sekali menggigil kedinginan. Dokter “keluarganya” dimaksud, sesungguhnya menyarankan, akan lebih baik jika Shofi tidak jadi berangkat haji. Tetapi, Shofi sudah berada dalam puncak keyakinannya, bahwa dia harus berangkat, tentu bersama Crhonos, tahun ini juga.

Di detik-detik terakhir, ia banyak menghabiskan waktunya untuk ngopeni kedua anaknya yang masih kecil. Sementara si bungsu masih sangat bayi, sehingga sulit diajak bercengkrama. Mereka berdua terus diajak berbicara dan diberi petuah-petuah suci, meski ia tahu kalau anaknya, pasti tidak mengerti atas apa yang disampaikannya.

Berangkat dalam Lantunan Ketuhanan

Perubahan detik dan menit terus terjadi. Akhirnya, pukul 21 malam, tiba juga. Crhonos memeluk dua anaknya yang masih kecil dan satu lagi yang masih sangat bayi. Berumur kurang lebih 12 bulan.Setelah ia merasa puas bercengkrama dengan anaknya itu, lalu ia melepasnya dan meminta kakaknya, Ruslani, untuk mengurusi anak-anaknya yang ditinggalkan.

Setelah itu, Crhonos disarankan guru ngajinya, untuk melaksanakan shalat safar. Crhonos-pun melaksanakan shalat dimaksud dengan sangat khusu”. Ia berdo’a kepada Tuhannya dalam jeritan spiritual yang sangat mendalam. Do’a itu terlantun sebagai berikut:

“Ya Allah … Saat ini aku ingin tersenyum. Suatu persembahan senyuman seperti Sulaiman pernah tersenyum saat mendengar bagaimana semut berbicara dengan teman-temannya. Malam ini, aku ingin berdo’a seperti Nabi-Mu Ya Allah. Akan kutiru do’a Sulaiman dalam bentuk kalimat: “Ya Allah ya Tuhanku. Berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Nikmat itu telah juga Kau anugerahkan kepada ke dua orang tuaku. Berilah kami kekuatan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Ya Allah masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

“Ya Allah aku tahu, dosaku jauh lebih banyak dari kebaikanku. Dosa yang kusemai sejak aku mengerti akan sesuatu, pasti sudah menjadi bongkahan yang sangat besar. Karena itu, tidak mungkin rasanya kebaikan ini mampu membeli apapun yang telah Kau berikan kepada kami. Namun, jika didalam diri dan jiwaku ada sepercik kebaikan dalam hidup, berikanlah kebaikan itu, untuk kesehatan dan keselematan ibu-bapakku, tentu aku dan istriku didalamnya. Aku bertawashul terhadap kebaikankku jika ada, akan keselematan kami dalam menjalani perintah-Mu.

Tak pernah berhenti, Crhonos terus menerus berdo’a seperti ini. Setelah itu. ia mendekati Shofi yang duduk bersila dengan linangan air mata. Ia mendekatinya dengan pelan. Mengapa Papah menangis? Apakah ada sesuatu yang membuat Papah ragu akan keberangkatan ini. Apa kau ragu bahwa seluruh harta yang digunakan ini, bukan saja halal, tetapi juga ikhlash aku berikan. Apakah papah sudah siap berangkat. Sanggupkah Papah menjalani suatu perjalanan yang sangat panjang ini. Shofi dengan menyeka air mata, segera berpaling dan dDengan suara terbata-bata, Shofi berkata:

“Papah sudah siap. Papah juga tidak ragu akan kehalalan harta yang kau persembahkan. Aku tahu, karena selama hidupku, aku merasa tak pernah memberi makanan atau minuman yang dapat membuat satu tetes darah yang kualirkan untuk kalian dari harta yang tidak halal. Aku yakin, kalian termasuk tentu dirimu Crhonos, akan selalu menjaga semua ini. Justru, aku ingin bertanya kepadamu, sudahkah kamu siap menjalani perjalanan spiritual ini. Sudahkah kau ikhlashkan seluruh kekayaanmu untuk kau tinggalkan? Sudahkan kau titipkan anakmu kepada Tuhan-mu. Kau harus yakin, sebaik-baik pemelihara adalah Tuhan. Titipkanlah seluruh apa yang kita miliki, termasuk tentu anak-anakmu ke pada Tuhanmu. Kamu harus tahu, hanya Tuhanlah sebaik-baik pemelihara.

Crhonos mengangkat tubuh Shofi dengan menggandeng tangannya. Ia membalutkan segala sesuatu yang serba putih. Shofi tersenyum simpul. Ia berbisik, Ya Allah berilah aku kekuatan untuk melaksanakan perintah-Mu. Lalu, Chronos, menggandeng Vetra yang sejak dari tadi sudah berdiri bersama ibu mertuanya, bernama Siti. Mereka dengan pakaian serba putih, berangkat perlahan. Masuk satu persatu ke dalam kendaraan yang telah disediakan.

Crhonos dan keluarganya akhirnya berangkat menuju KBIH di mana mereka biasa latihan. Tiga mobil berjalan cukup merayap pelan. Maklum sangat padat kendaraan yang melintasi jalan utama menuju KBIH dimaksud. Sehingga, perjalanan yang biasanya hanya dibutuhkan waktu 20 menit, saat kegiatan dimaksud, dijalani Crhonos dalam waktu tidak kurang dari dua jam.

Di KBIH Crhonos Mendampingi Shofi Tetidur

Beberapa saat sampai di KBIH, Crhonos dan keluarganya ternyata menunggu cukup lama. Banyak sekali KBIH ini menghimpun jumlah jama’ah yang akan berangkat melalui dirinya. Para jama’ah yang cukup beragam itu, begitu sibuk mengikat dan mempersiapkan tas-tas besar yang akan dibawa mereka ke tanah suci.

Crhonos tidak sesibuk seperti jama’ah lain. Ia malah memeluk Shofi dengan erat di suatu pojok aula KBIH. Suasana malam itu, terasa sangat dingin. Inilah cuaca yang kurang ramah dirasa Shofi. Ia mengalami gangguan pernafasan dalam waktu yang cukup lama. Terpaan penyakit ini, sesungguhnya tidak memiliki kesanggupan untuk terlalu lama, hidup dalam aroma terbuka, terlebih di malam hari. Akhirnya, Crhonos mempersilahkan Shofi untuk tidur dibahunya. Dibiarkan semua barang bawaannya diurus sama Vetra dan Ibu Crhonos bernama Siti.

Saat Shofi tertidur di paha Crhonos, ia ingat ucapan Shofi beberapa puluh tahun yang lalu, saat Crhonos sakit. Saat itu, aku sakit dengan suhu badan yang sangat panas, ungkap Crhonos membathin. Aku ketakutan, seolah aku akan mati. Lalu Shofi memeluk Crhonos dengan erat. Iapun membiarkan Crhonos kecil tidur di atas pahanya dengan kekar. Shofi menyelimutinya dan berkata:

“Saat ini aku sedang memanjakanmu Crhonos. Mengapa aku memanjakannya? Agar kelak suatu hari, saat di mana aku tidak lagi kekar, saat di mana aku tidak lagi mampu tidur sendiri karena ketakutan, kau dapat menemaniku dengan baik. Kau biarkan pahamu, untuk ditiduri sama aku. Tidurlah dengan baik dan tenang. Aku menjagamu dari segenap bahaya yang mungkin menimpamu.

Saat itu, Crhonos menangis dan meneteskan air mata. Ingat masa indah bersama Shofi. Ia berkata dalam bathinnya: “Wahai papahku, tidurlah dipahaku dengan tenang. Kini pahakulah yang lebih kekar daripada pahamu. Jangan kau pikirkan apapun. Aku sudah mempersiapkannya dengan baik. Lelaplah dalam tidurmu. Ini perjalanan yang akan dilalui cukup panjang. Istirahatlah … aku akan menjagamu dengan baik, sebagaimana kau telah menjagaku dengan baik juga sejak lahir sampai aku dewasa.

Setelah segala keperluan jama’ah selesai, satu persatu penumpang naik ke dalam bis. Crhonos membiarkan semua orang naik. Ia membiarkan dirinya terlambat, karena dengkuran tidur Shofi masih sangat terdengar. Setelah tinggal beberapa orang lagi, Crhonos akhirnya mengelus eambut Shofi dengan hangat. Ia berdo’a: “Ya Allah bangunkanlah papahku. Berilah dia segenap kenikmatan tidur ini, seperti telah tidur dalam semalaman”. Setelah mengucapkan kalimat dimaksud, Shofi tiba-tiba bangun. Hai anakku, ayo kota berangkat. Orang sudah pada naik mobil.

Crhonos berkataL “Papah sudah siap untuk berangkat? Ya sudah siap. Alhamdulillah saya merasa begitu ringan. Tidur ini cukup lelap. Akhirnya keduanya berjalan dengan pelan menuju pintu mobil. Para jama’ah sangat baik sehingga tempat duduk Crhonos dan Shofi tetap berada di baeisan paling depan.

Do’a Perjalananpun dimulai

Setelah Crhonos dan Sofi duduk, ketua Rombongan jama’ah, bernama KH. Ahmad Yani mengumandangkan do’a. Ia meminta seluruh jama’ah untuk mengikuti apa yang dibaca. Do’a itu berbunyi:

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah. Kini kami berangkat. Di waktu kami berangkat dan berlabuh ini, sesungguhnya Engkau Tuhanku benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Kami ingin mengagungkan-Mu ya Allah dengan pengagungan yang semestinya. Kami sadar bahwa bumi seluruhnya dalam genggaman-Mu, baik hari ini maupun pada pada hari kiamat. Langit digulung dengan kekuasaan-Mu ya Allah. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apapun, termasuk dari apa yang dipersekutukan mereke yang mensekutukannya.

Sambil berbisik, Shofi berkata kepada Crhonos. “Hai kamu harus ya Crhonos, substansi hajji adalah mengajarkan prinsip dasar ketauhidan. Manusia yang bertauhid, pasti akan menciptakan kebaikan antar sesama. Kau harus ingat. Inilah pelajaran pertama melalui do’a yang kita lantunkan bersama. Mobilpun melaju dengan pelan … akhirnya jama’ah asyik dengan dunianya sendiri. By. Charly  Siera –bersambung

Komentar
Memuat...