Hajiku Hanya Bermodal Takwa | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 15

Hajiku Hanya Bermodal Takwa | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 15
0 97

Hajiku Bermodal Takwa. Genaplah sudah, seluruh jama’ah haji rombongan Shofi, melaksanakan shalat arbain di Masjid Nabawi. Tentu Crhonos dan istrinya, Vetra, selesai juga melaksanakan ibadah wajib dan Sunnah di masjid ini. Suatu ibadah yang disebut Shofi, berlandas pada hadits yang lemah, jika definisinya hanya delapan hari, yakni seukuran dengan 40 kali shalat.

Meski disebut Shofi, hanya memiliki landasan nash yang lemah, faktanya tetap saja, Crhonos dan Shofi, tentu terlebih istri dan ibunya, lebih getol melaksanakan shalat di Masjid ini. Mereka selalu bilang, mumpung berada di Medinah dan tidak memerlukan ongkos untuk datang ke Masjid. Banyak waktu dihabiskan di masjid ini. Mereka banyak membaca al Qur’an serta berdiskusi seputar Masjid ini.

Hari itu, tepat setelah delapan hari berada di Medinah, senin pagi waktu setempat, jama’ah diminta bersegera mempersiapkan diri. Mereka diberitahu bahwa pada pukul 13.00 jama’ah akan berangkat menuju Mekkah. Seluruh jama’ah diminta mempersiapankan segala keperluan keberangkatan mereka. Tas mana yang masuk bagage dan mana yang dibawa ke atas jok. Mereka sejak pagi dini hari, kebanyakan sudah berlelah-lelah mempersiapkan segala keperluan keberangkatannya ke Mekkah.

Tas jama’ah sudah mulai bertambah banyak. Bobotnya jangan ditanya. Karena tentu jauh lebih berat. Bahkan mungkin hampir dua kali lipat jumlah tas ketika mereka datang ke Medinah. Saat Crhonos menyaksikan pemandangan seperti itu, ia hampir berkomentar. Tetapi, Shofi segera menjawabnya dengan kalimat: “Hai Crhonos … inilah Indonesia. Jika tidak begitu, maka, mereka tidak memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai bangsa Indonesia.

Seluruh jama’sudah diberitahu bahwa mereka akan mulai memakai pakaian ihram. Meski Medinah tidak termasuk ke dalam posisi miqat, tetapi, untuk memudahkan urusan, petugas haji, menyarankan agar memakai pakaian ihram dari Medinah saja. Sebelumnya, mereka juga diminta untuk melaksanakan mandi sunnah. Nanti, pada saat berada di miqat (bir ali), tinggal melaksanakan shalat sunnah dan niat saja.

Mengenang Bir Ali

Nalar semacam itu, menyebabkan jamaah telah memakai pakaian ihram dari Masjid Nabawi. Meski miqatnya akan dimulai di Masjid Bir Ali, tetapi mereka sudah siap siaga memakaikan seluruh atribut ihram. Letak miqat mereka di Bir Ali ini, berada dalam posisi sebagai perbatasan antara tanah haram dan Kota Medinah. Jaraknya diperkirakan sekitar sebelas kilo meter.

Bir Ali, di zaman Rasulullah sering disebut dengan Lembah Aqiq. Lokasi Masjidnya, sedikit turun ke bawah, menuju lembah yang relatif hijau. Inilah masjid yang membentuk dirinya seperti sebuah kotak besar. Masjid ini diarsiteki seorang teknik sipil bernama Abdul Wahid el Wakil.

Masjid yang menjadi miqat, dengan jamaah sudah memakai pakaian ihram dimaksud, tentu saja memiliki nilai historisnya sendiri. Misalnya, mengapa ia disebut Bir Ali? Kata bir, ternyata ia merupakan bentuk kata jama untuk arti sumur. Masjid ini disebut sumur-sumur, karena di zaman rasulullah, Ali bin Abi Thalib banyak menggali sumur di sekitar Masjid. Meski hari ini, sumur-sumur dimaksud, sudah tidak lagi tampak, tetapi penyebutan Bir Ali dimaksudkan untuk mengenang Ali, yang banyak menggali sumur.

Terdapat dua nama lain, selain Bir Ali. Nama itu adalah, masjid Syajarah. Disebut Masjid Syajarah, karena banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa di sekitar masjid ini, dulu rasulullah Muhammad, sempat berteduh di bawah sebuah pohon. Tidak sedikit, yang juga menyatakan bahwa Masjid ini, disebut masjid Hulaifah. Disebut demikian, karena tempat di mana Masjid ini berdiri, berada pada distrik Dzul Hulaifah.

Ada tiga amalan yang dilakukan jama’ah, saat mengambil miqat. Termasuk tentu, jika miqat itu dimulai di Bir Ali. Ketiga amalan itu adalah: 1). Mandi Sunnah ihram dan sekaligus memakai pakaian ihram; 2). Shalat Sunnah ihram, sebanyak dua rakaat, dan; 3). Melaksanakan niat ihram serta bertalbiyah sebanyak-banyaknya. Untuk jama’ah ini, mandi sunnah dan berpakaian ihram sudah dilakukan. Sehingga jama’ah, lebih banyak memfokuskan diri pada pelaksanaan shalat sunnah dan niat ihram.

Di Masjid yang luasnya sekitar 9.000 meter persegi , keluarga Shofi, melaksanakan shalat sunnah dan membaca berbagai do’a yang dianjurkan. Di dalam Masjid yang terdiri dari 26.000 meter persegi bangunan masjid, dan 34.000 taman ini, mereka tertunduk penuh histeria. Mereka tidak memperdulikan ratusan bis yang ada di pelataran Masjid. Maklum, Masjid ini memang memiliki lapangan parkir dan paviliun yang cukup luas, sehingga memungkinkan banyak jumlah kendaraan yang parkir di sini.

Mengenang Do’a Shofi di Bir Ali

Shofi yang badannya terus melemah, seperti hendak menyempurnakan amalan anaknya, Crhonos. Ia meminta anaknya itu, untuk menuntunnya ke dalam masjid. Ia sebenarnya, telah disarankan untuk tinggal di Mobil saja. Toch niat dapat dilakukan di dalam bis. Tetapi, Shofi tetap memaksa. Ia malah meminta Crhonos dan keluarganya, untuk ikut melafalkan apa yang diungkapkannya saat dia berdo’a. Ia berdo’a dengan mengucapkan rangkaian kalimat berikut ini:

“Ya Allah, bukakanlah untukku, keluargaku dan seluruh umat mukmin di manapun, pintu-pintu rahmat-Mu. Jangan Kau bosan atas permohonanku ini. Mengapa? Karena aku tahu dan sadar, bahwa hanya Engkaulah yang memiliki segenap rahmat untukku dan untuk keluargaku. Ya Allah ya Rabbi, Engkau adalah sembahanku. Aku ingin kembali mengukuhkan bahwa tidak ada yang menandingi-Mu. Tidak ada satupun sesembahan yang paling hak, mengalahkan posisi-Mu.Ya Allah ya Rabbi, Engkaulah sesungguhnya Dzat yang menjadi Pencipta. Sedangkan aku, sesungguhnya hanya makhluk yang tidak memiliki kuasa apapun. Atas apapun juga.

Ya Allah yang rabbi ya kariem … hari ini aku dan keluargaku berjanji, untuk kembali mengikatkan diriku kepada-Mu. Aku berharap Kau dapat tetap menjaga kami agar selalu berada dalam perikatan perjanjian bersama-Mu. Aku yakin bahwa, sebelum kami terlahir ke muka bumi, sudah kusyahadatkan diriku oleh diri-Mu. Syahadat itu menyatakan bahwa hanya Engkaulah satu-satunya Tuhan kami. Hanya Engkaulah satu-satunya harapan kami.

Ya ghaffar yang ya Razzaq, aku bukan hanya sekedar mengakui-Mu sebagai Dzat Maha Ada, tetapi, juga wujud yang Maha Tunggal. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui-Mu sebagai Tuhan-ku yang Maha Bijaksana, karena hanya karena Engkaulah, aku memperoleh segenap rahmat dan kenikmatan. Ya Allah … Aku mengakui segenap dosaku kepada-Mu yang demikian besar. Karena itu, aku mohon ampunilah aku. Aku tahu hanya Engkaulah yang dapat mengampuni dosaku”

Setelah itu, Shofi sujud relatif lama. Kami tidak tahu, kata Crhonos, do’a apa yang dia bacakan saat sujud itu dilangsungkan. Sementara itu, Crhonos demikian sedih menyaksikan bagaimana bapaknya yang dulu sangat gagah dan parlente itu, beberapa tahun terakhir ini, terus ciut dan kurus kering. Usianya yang hampir menginjak 72 tahun itu, hari itu hanya memiliki irama bathin, yang secara fisik tampak sangat lemah.

Crhonos Berdo’a dalam Nalar Kesedihan

Saat Siti, Vetra dan Crhonos menyaksikan polah Shofi, mereka menangis. Di bathin keluarga ini, suasana berlangsung secara melankolis. Lalu tanda diperintah, dalam duduknya yang syahdu, Crhonos mengangkat kedua tangannya. Ia berdoa dengan sangat khas, yang meminta salah satunya, agar Allah berkenan menjaga bapaknya, supaya tuntas dan dapat menyempurnakan ibadah hajinya.

Ya Allah di tempat suci inilah, aku berharap Kau mengabulkan do’aku. Kami tidak membawa bekal apa-apa. Kami hanya berharap, dapat mencukupkannya dengan kepasrahanku kepadamu. Kami membawa ketakwaan kami guna mencari-Mu di tanah haram. Aku ingin menyempurnakan sumpahku beberapa tahun yang lalu, bahwa mereka kumintakan untuk tidak dijemput-Mu, sebelum melaksanakan haji.

Hari ini, saat kami mulai memakai pakaian ihram, kulihat bapak-ku demikian lembab. Matanya sangat sayu dan tubuhnya ke biru-biruan. Entah mengapa, aku takut bapakku Kau jemput saat ini. Ya Allah jagalah dia. Bantulah dia menunaikan kewajibannya kepada-Mu. Rabbana taqabbal minna, innaka anta sami’u al alim [Ya Tuhanku, aku percaya, Engkau berkenan mendengar dan menerima do’a kami]

Air mata Crhonos terus menetes ke pipinya. Lalu ia mendekati Shofi yang sudah selesai sujud. Ia mengangkatnya dan memapahnya ke luar dari Masjid ini. Vetra dan Siti menyaksikan bagaimana dua laki-laki itu, berlinangkan air mata dengan tetesan yang semakin deras. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...