Inspirasi Tanpa Batas

Hak dan Tanggungjawab Dalam Filsafat Pendidikan

0 29

Konten Sponsor

Hubungan tanggungjawab dalam filsafat pendidikan Islam berbeda dengan filsafat pendidikan modern. Hak dalam filsafat modern ini seperti idealisme, realisme dan pragmatisme. Semuanya menggunakannya untuk mengarahkan peserta didik agar menuntut hak dan menuntutnya. Semuanya berorientasi kepada meminta dan bukan memberi.

Pengertian hubungan hak muncul dari sekumpulan kesenangan dan kecenderungan yang disepakati diantara mayoritas di tempat tertentu dan pada masa tertentu. Ini berarti bertentangan dengan watak manusia yang ditunjukkan Erich Fromm.

Hak dan Tanggungjawab dalam Pendidikan Islam

Pendidikan Islam tidak mengarahkan peserta didik untuk menuntut hak mereka. Akan tetapi mengarahkan kepada tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Jika muncul kata “hak” dalam sumber-sumber Islam adalah untuk mengarahkan kepada tanggungjawab. Seperti mengarahkan muslim laki-laki dan muslim perempuan kepada hak atas diri mereka masing-masing. Bukan hak bagi diri mereka masing-masing.

Di berbagai tempat ketika sebagian sahabat meminta kepada Rasulullah SAW akan hak bagi mereka. Maka dijawab dengan mengarahkan makna hak yang harus dilakukan oleh sahabat yang bertanya tersebut. Di antaranya adalah riwayat Muslim dalam Sahih-nya bahwa Salmah bin Yazid Al Ja’fi bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yanng meminta hak mereka kepada kami dan menghalangi dari kami hak kami? Maka beliau berpaling. Kemudian ia menanyakan lagi, maka beliau berpaling. Kemudian ia menanyakannya kembali untuk yang kedua atau ketiga kalinya, maka Asy’ats bin Qais menariknya dan beliau bersabda: “Dengarkanlah dan taatlah kalian semua, karena terhadap mereka apa yang mereka pikul dan terhadap kalian apa yang kalian pikul”.

Dalam riwayat lain, maka Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah dan taatlah kalian semua, karena terhadap mereka apa yang mereka pikul dan terhadap kalian apa yang kalian pikul”.

Perbedaan antara filsafat pendidikan Islam dan filsafat lainnya ini merupakan perbedaan yang mendasar dan substantif. Perbedaan ini memiliki pengaruh-pengaruh yang signifikan. Pengaruh-pengaruh yang penting ini adalah ketika mengarahkan individu dan kolektif untuk menjalankan tanggungjawab mereka sebagai individu, keluarga, masyarakat dan manusia. Karena watak yang mengatur hubungan adalah memberi dan mencurahkan. Sehingga akibatnya adalah cinta, persaudaraan dan persatuan dan hal-hal yang timbul darinya berupa keamanan dan stabilitas.

Hak Bagi Peserta Didik Adalah “Meminta”

Adapaun ketika mengarahkan peserta didik untuk menuntut hak maka watak yang dijadikan hubungan adalah “meminta”. Meminta berdasarkan nafsu ini pada akhirnya berimbas kepada perampasan, keserakahan, persaingan dan perselisihan. Negativisme ini berimbas kepada kekacauan, saling dengki, dan dampak konflik, kejahatan, dan peperangan umat dan bangsa. Ia memutus ikatan dan merusak hubungan manusia dalam taraf individu, keluarga, masyarakat dan umat. Kita memiliki contoh yang gamblang tentang hal ini di mana hubungan berakhir antara perempuan dan laki-laki. Antara kelas masyarakat di wilayah-wilayah yang memusatkan pada hak yang berbeda-beda.

Di dunia Barat kita melihat kecenderungan yang berlebihan antara perempuan dan laki-laki yang dimulai dari tuntutan perempuan akan hak-haknya kemudian berakhir kepada revolusi perempuan secara total tentang hubungannya yang alami dengan laki-laki dan perempuan merasa cukup dengan perempuan dalam gerakan yang menyimpang yang dikenal denga nama Lesbianisme yakni nalar yang menghendaki persaingan dengan laki-laki dalam semua posisi dan pekerjaan.

Di antara hal yang ganjil dalam masalah ini adalah yang terjadi pada program televisi Amerika yang dibawakan oleh Donahue di Canal 11 setiap pagi pada jam 9. Pada tanggal 17/12/1980 Donahue mengajukan program “Sexism and Bible” dan di antara pertanyaan yang dijadikan bahan diskusi di antara yang hadir –yang semua adalah perempuan- adalah “kenapa Al Masih tidak memilih enam perempuan dan enam laki-laki? Alih-alih memilih murid-muridnya dari laki-laki semata? Kemudian mengusulkan agar diadakan perubahan kalimat dan pernyataan Injil agar memberikan perempuan kedudukan yang lebih baik dalam kitab suci.

Kekeliruan Memaknai Hak dan Tanggungjawab

Tidak adanya perhatian terhadap perbedaan mendasar antara konsep tanggungjawab dan konsep hak dan pengaruh perbedaan terhadap metode pendidikan dan orientasi antara keduanya ini kebanyakannya membawa para pembahas dan para penulis Barat dan Islamolog kepada jatuh dalam kekeliruan menyimpulkan dan menilai ketika mereka saling menyerang dan menolak contoh-contoh hak perempuan, hak pekerja, hak bangsa, atau hak penguasa dan rakyat, atau hak suami isteri dalam Islam dan sistem lain.

Misalnya kita ambil contoh terhadap pembahasan bersama yang dilakukan oleh Jane L Smith dari Universitas Harvard dan Yvonne Y Haddad dari Hardford Seminary dan yang terbitkan  dalam Journal of Amerian Academy of Religions dengan judul “Wanita dalam Kehidupan Akhirat, pandangan Islam dari Qur`an dan Sunnah”.

Ringkasan pembahasan ini adalah bahwa masuknya perempuan ke surga atau neraka tergantung hubungan dengan suaminya karena semua hadits mengikat masuknya wanita ke surga dengan ketaatan perempuan kepada suaminya, dan bahwa kandungan hadits ini menyatakan bahwa Rasul SAW bersabda: “Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang maka aku akan Perintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya”.

Dari sini kedua pembahas menyimpulkan bahwa hadits ini dibuat oleh laki-laki dan dengan melaluinya mereka menanamkan pada diri perempuan ketakutan akan siksa yang abadi di akhirat jika mereka menentang suami.

Metode yang Keliru

Saya tidak bermaksud menyingkap niat mereka terhadap takwilan yang keliru ini. Hanya saja metode yang digunakan oleh kedua pembahas tersebut dalam membahas dan menganalisis adalah metode yang benar-benar keliru. Hal ini karena pembahas tidak menemukan bahwa pendidikan Islam mengarahkan individu terhadap tanggungjawabnya di hadapan orang lain alih-alih menuntut haknya sebagaimana telah kami jelaskan, bahkan keduanya melihat tema ini dengan ukuran Barat mengenai tuntutan akan hak.

Seandainya saja kedua pembahas tersebut melakukan pembahasan lain tentang laki-laki dalam kehidupan akhirat maka pasti keduanya akan menyimpulkan hasil yang sama, yakni bahwa masuknya laki-laki ke surga atau neraka juga tergantung kepada sebagian besar kebaikan hubungannya dengan istri dan keluarganya, dan bahwa orientasi yang berhubungan dengan hubungan laki-laki tersebut dengan perempuan semuanya diberikan atas usaha laki-laki untuk menjalankan tanggungjawabnya terhadap istri sebagaimana perempuan berusaha menjalankan tanggungjawab kepada suaminya.

Adil dan kontekstual jika kita katakan bahwa kebanyakan penulis modern di dunia Barat dan Islam telah terjatuh dalam kesalahan yang sama, kesalahan metode. Mereka menggunakan metode tuntutan terhadap hak baik untuk memprovokasi pekerja, perempuan, masyarakat dalam menuntut hak mereka. Ataupun untuk menetapkan bahwa dalam Islam juga terdapat hak pekerja, hak wanita, hak masyarakat dan lain-lain yang dikandung dalam kategori hak.

Sehingga akibatnya tulisan-tulisan ini tidak membuahkan reformasi krisis pekerja, perempuan dan masyarakat bahkan memberikan andil dalam mengekspor pangkal konflik kelas, gender dan politik ke dunia Arab dan Islam dan akibat-akibatnya berupa dampak bencana, revolusi militer dan guncangan-guncangan sosial.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Shahih Muslim, Syarh an-Nawawi, jilid 12, hal. 236.

Jane I. Smith dan Yvonne Y. Haddad “Women in the Afterlife: The Islamic View as Seen from Qur`an and Tradition” dalam Journal of the American Academy of Religion, XlIII, no. 1, (1975), hal. 39-50.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar