Home » Pendidikan » Psikologi » Hakikat Kebahagiaan Dan Kesengsaraan

Share This Post

Psikologi / Sosial

Hakikat Kebahagiaan Dan Kesengsaraan

Perbincangan masalah kebahagiaan (sa’âdah) dan kesengsaraan (syaqâwah) adalah masalah kemanusiaan yang paling haqiqi. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah meperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. Semua ajaran, baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata. Marxisme, misalnya  menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikan atau kesengsaraan yang diancamkan adalah jenis yang paling sejati dan abadi. “Hakikat Kebahagiaan Dan Kesengsaraan”

Di dalam agama, gambaran  tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep tentang kehidupan surga dan neraka. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda, perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia.[1]

Rekomendasi untuk anda !!   16 Cara Jitu Menghilangkan Stress Dalam Hidup

Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia saja seperti dalam marxisme, atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama dalam Marxisme, atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly, atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. Kitab suci al-Qur’an menyajikan banyak ilustrasi dan penegaan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok yakni; yang sengsara (syaqiyy penyandang syaqâwah, yakni kesengsaraan) dan yang bahagia (sa’îd, penyandang sa’âdah yakni kebahagiaan) (Baca: Q.S. Hûd: 105-108)

Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam, patut dibahas secara sungguh-sungguh, karena adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan adalah; apakah hal tersebut berupa pengalaman kerohanian semata, atau pengalaman jasmani semata, ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus? Wacana ini merupakan bagian dari dialog telogi dalam Islam sejak masa klasik.

Rekomendasi untuk anda !!   Relasi Manusia Dengan Manusia

Dalam khazanah ilmu kalâm, perbincangan tersebut tidak menemukan titik temu yang mampu memberikan kepuasan bagi berbagai pihak. Hal ini karena masalah tersebut memang sangat pelik, oleh karena itu dalam pembahasan topik tersebut, dalam tulisan ini hanya akan membicarakan kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman  pribadi. Namun demikian pembahasan inipun juga tidak lepas dari masalah kefilsafatan yang kadang kita rasa sulit dan rumit Tetapi nampaknya dirasa perlu untuk dibahas.

Oleh : Dr. Ahmad Munir, M.Ag


  1. 9. Nurcholish Madjid, “Konsep Kebahagiaan dan Kesengsaraan”, dalam Budhy Munawar Rachman (ed), Kontekstualisasi Ajaran Islam dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1995), h.103

Share This Post

1 Comment

  1. cahyaning istiqomah
    1415104020
    tadris ips A3
    Kebahagian dan kesengsaraan bagaikan dua belah mata coin yang tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan manusia karena itu semua pasti pernah di rasakan oleh manusia dan sudah ada sebelum manusia di lahirkan dalam kitab laumul mahfuz

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>