Halal atau Haram Kebiasaan Makan Dulu Baru Bayar? Apa Kerugiannya?

0 1.323

Kebiasaan makan dulu baru bayar kadang kita spelekan dalam aktifitas belanja. Kebiasaan ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang sering kitalakuakan seperti pesan makanan, kemudian makan sampai habis, baru bayar. Ada yang aneh?, atau ada yang riskan? Hmm.. tentu semuanya tertutup karena hal tersebut telah menjadi kebiasaan dan bahkan membudaya.

Sebagai warga muslim yang baik tentu kita harus memahami hal ini. Yang menjadi pertanyaan, “apa hukumnya makan dulu baru bayar tersebut? Halal atau Haram kah makanan yang telah masuk duluan baru bayar kemudian?

Makan Dulu Baru Bayar Yang Dibolehkan dan Tidak Diperbolehkan

makan dulu baru bayar dibolehkan jika acuanya sama sama ridho. Dalam Hadist Riwayat Ibnu Majah  dijelaskan ternyata sekalipun makan dulu baru bayar hukum jual belinya tetap sah.

Jual beli itu tidak lain hanya dengan sama-sama ridha.” (HR Ibnu Majah no. 2269 dari Abu Said al Khudri)

Namun, kita harus tau makan dulu baru bayar itu dibolehkan apabila jual beli tersebut dilakukan dengan saling ridho antara penjual dan pembelinya. Namun jika sebaliknya, ada salah satu antara si penjual atau pembeli tidak ridho, maka makan dulu baru bayar tidak lah diperbolehkan.

Harus ada akad Contoh :”Bu/pak saya makan ngutang dulu, baru setelah makan nanti bayar'”  Maka, jika diperbolehkan oleh si penjual barulah makan dulu baru bayar itu dibolehkan.

seperti yang di jelaskan sebelumnya dalam ummi-online.com kebiasaan ini adalah ‘urf (adat)  dan tidak bertentang dengan syariat. Di mana pada akad tetap terjadi, meski setelah mendapatkan manfaat dari barang yang dijual.

Dalil Lain Etika Makan Dulu Baru Bayar

Ada pendapat yg memperbolehkan tentang hal ini, namun pendapat yg kuat dalam madzhab syafi`iyyah tidak sah hal tersebut tidak di perbolehkan. Di jelaskan dalam ta`bir dalam bughyah berikut ini :

(مسألة: ج): اشترى طعاماً كثيراً وأمتعة من غير صيغة بيع لا صريح ولا كناية جاز ذلك عند من جوّز بيع المعاطاة ولا إثم، وعلى المذهب يحرم ويطالب به في الدنيا لا في الآخرة على الأصح

Lalau di jelaskan Lagi :
الثالث ـ مذهب الشافعية والشيعة والظاهرية (2) : لا تنعقد العقود بالأفعال أو بالمعاطاة لعدم قوة دلالتها على التعاقد؛ لأن الرضا أمر خفي، لا دليل عليه إلا باللفظ، وأما الفعل فقد يحتمل غير المراد من العقد، فلا يعقد به العقد، وإنما يشترط أن يقع العقد بالألفاظ الصريحة أو الكنائية، أو ما يقوم مقامها عند الحاجة كالإشارة المفهمة أو الكتابة. ونظراً لما يشتمل عليه هذا المذهب من تشدد وشكلية محدودة ومجافاة لمبدأ المرونة والسماحة واليسر، فقد اختار جماعة من الشافعية منهم النووي والبغوي والمتولي، صحة انعقاد بيع المعاطاة في كل ما يعده الناس بيعاً، لأنه لم يثبت اشتراط لفظ، فيرجع للعرف كسائر الألفاظ المطلقة، وبعض الشافعية كابن سريج والرُّوياني خصص جواز بيع المعاطاة بالمحقَّرات أي غير النفيسة: هي ما جرت العادة فيها بالمعاطاة كرطل خبز، أو رغيف، وحزمة بقل ونحوها
(2) مغني المحتاج: 3/2 ومابعدها، المهذب: 257/1، المختصر النافع في فقه الإمامية: ص142، المحلى لابن حزم: 404/8،
Madzhab Syafi’iyyah, Syi’ah dan Zhohiriyyah :
Sebuah transaksi tidak terjadi dengan perbuatan atau dengan mu’aathah (serah terima tanpa perkataan) karena tidak kuatnya bukti hal tersebut menjadi sebuah transaksi karena kerelaan adalah hal samar yang tidak dapat dijadikan bukti kecuali dengan ucapan sedang perilaku terkadang tidak sesuai kehendak hingga menjadikan ikatan kuat dari sebuah transaksi
Namun sebagian kalangan Syafiiyyah seperti Imam Nawaawy, al-Baghaawy, al-Mutawally menyatakan sahnya jual beli secara mu’aathah dalam setiap hal yang dipandang masarakat umum sudah dikatakan transaksi jual beli karena tidak terdapat dalil nash yang mensyaratkan dibutuhkan sebuah ucapan dalam terjadinya transaksi karenanya segalanya dikembalikan pada kebiasaan orang pada umumnya.
Sebagian kalangan syafi’iyyah lainnya seperti Ib Suraij dan ar-Rauyaani membatasi dibolehkannya jual beli secara mu’aathah sebatas hal-hal yang dianggap remeh oleh khalayak umum seperti ukuran sekati roti, seikat sayur mayor dan lain-lain. 
(Mughni al-Muhtaaj II/3, al-Muhaddzab I/257, Mukhtashar an-naafi’ al-Imaamiyyah hal. 142, al-Mahalli Ibn hazm VIII/404
Al-Fqh al-Islaam IV/452-453 [Sumber piss-ktb.com]

Waspadai keburukan yang bisa terjadi dari kebiasaan Makan dulu baru bayar

Walaupun acuan Hadist Rriwayat  Ibnu Majah no. 2269 di atas telah gamblang menjelaskan hal tersebut, namun ini ada madharatnya juga bagi si pembeli maupun si penjual. Berikut keburukan yang bisa terjadi dari kebiasaan Makan dulu baru bayar :

1. Merugikan Si Pembeli karena adanya Penipuan harga makanan

Betapa banyak orang yang tertipu, harus membayar sekian ratus ribu hanya untuk 1 botol minuman jus, atau membayar jutaan Rupiah hanya untuk beberapa ekor ikan bakar misalnya. Ini semua disebabkan kebiasaan makan dulu, tanpa bayar sebelumnya atau bahkan tanpa tanya harga, padahal kita perlu kritis ketika ada tempat jual makanan yang tidak mencantumkan harga

2. Merugikan si penjual karena si pembeli Lupa bayar

Kerugian selanjutnya adalah jika si pembeli lupa bayar, saking buru-burunya, sudah selesai makan langsung pergi tanpa membayar. Tentu merepotkan jika harus balik ke tempat makan tersebut hanya untuk bayar lagi, lebih aman jika bayar duluan sebelum selesai makan, tapi pastikan ada struk yang diterima sebagai bukti pembayaran.

3. Merugikan si penjual karena si pembeli Kurang Uang

Jika membeli makanan kemudian setelah membayar uang kurang. Tapi jika sudah terlanjur makan bisa merugikan si pembeli. Tentu dengan berbagai alasan, Entah karena ketinggalan dompet, atau tempat makannya tidak menerima gesekan kartu debit maupun kredit. Jadi, pastikanlah sebelum memesan makanan kita memeriksa kesiapan diri untuk membayar.

Jadi Untuk menjaga hal-hal yang tidak memungkinkan, maka sebaiknya kita membayar makanan yang akan kita makan. Secara syariah hal tersebut jauh lebih baik daripada makan lalau bayar. Wallaahu A’lamu Bis Showaab [Ali Alamsyah]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.